Mencoba Ikhlas

1.4K 95 12
                                        

-2

Ketika duka tengah memeluk keluarga kecil Ansel, dering ponsel menginterupsi ketiganya. Sang kepala keluarga meraih ponsel yang ada di atas nakas. Ada kerutan samar saat membaca siapa yang menghubunginya. Namun tak ayal ia mengangkat telepon itu.

"Halo, Pak?"

"Siang, Pak. Maaf saya mengganggu waktu istirahat Bapak. Saya ingin memberitahu Bapak kalau DPO Chelia telah berhasil kami bekuk."

Kabar itu sukses membuat sang kepala keluarga menyunggingkan senyum puas. Selangkah lagi keluarganya akan terbebas dari segala ancaman dari Chelia. Melihat Ansel yang tampak bahagia membuat si kembar penasaran.

"Kenapa, Pa?"

Ansel memberi gestur untuk diam sejenak pada Javier sampai ia selesai berbicara dengan polisi yang bertugas.

"Saya senang mendengarnya, Pak. Terima kasih. Saya akan datang ke sana, tapi nggak sekarang."

"Nggak apa-apa, Pak. Kami paham Bapak harus menjalani penyembuhan akibat penembakan itu."

Pembicaraan itu berlangsung selama beberapa menit hingga Ansel-lah yang memutuskan sambungan telepon. Bibirnya masih melengkung ke atas membentuk senyum simpul.

"Chelia udah ditangkap, Nak. Mulai sekarang kita bisa memulai hidup bahagia. Adek, setelah ini kita jenguk Mahesa, ya?"

Mata Jayden mengerjap sesaat. Kepalanya masih penuh oleh ingatan masa lalunya. Di mana ia mulai menjauhi Mahesa. Rasa bersalah dan penyesalan itu seolah bersatu untuk menghancurkannya.

Gue benci lo, Mahesa. Gara-gara lo, mama dan papa nggak pernah sayang gue!

Gue juga mau disayang, sama kayak lo. Kalau emang jadi penyakitan bikin gue bisa disayang mama dan papa, gue juga mau kayak lo.

Air mata Jayden kembali lolos. Sesak yang membelenggu kian merajam. Sebagian hidupnya selama ini, banyak luka yang ia berikan pada Mahesa.

Kalau seandainya ada namanya reinkarnasi, Kakak pengin kamu jadi adek Kakak.

Melihat kakak kembarnya yang kembali melamun dengan sorot mata kosong, Javier tak mau tinggal diam. Dengan lembut ia mengusap air mata Jayden hingga si empunya mampu kembali tersadar dari lamunan.

"Kak, Hesa udah bahagia. Dia udah nggak sakit lagi. Kak Jay boleh berduka. Tapi jangan nyalahin diri sendiri. Dia sesayang itu sama Kakak. Please, jaga mata ini baik-baik. Lanjutkan hidup bareng kita."

Javier mengusap lembut kelopak mata itu. Dalam hati, ia tak berhenti mengucapkan kata terima kasih pada Mahesa. Meski sebagian hatinya ikut merasa pedih, namun kebahagiaan itu lebih mendominasi. Kembarannya bisa hidup normal seperti manusia lainnya.

"Besok kita jenguk kakak kamu ya?"

Jayden mengembuskan napas pelan demi mengenyahkan rasa sesak yang mengikat hatinya. Lantas setelahnya cowok itu mengangguk. Kakaknya ingin ia bahagia bersama dengan cahaya yang ia beri. Maka Jayden akan berusaha untuk melanjutkan hidup.

***

Jayden duduk di ranjang dengan membawa sebuah surat yang baru saja diberikan Ansel. Setelah 2 hari mendekam di rumah sakit, pria itu memaksa ingin pulang. Dan ketika sampai di rumah, Ansel segera memberikan surat itu. Di samping cowok itu ada si bungsu yang ikut membaca tulisan Mahesa.

Untuk adikku

Gimana kabar kamu? Kakak harap kamu udah bahagia.

Surat ini sebenarnya udah lama kakak tulis. Mungkin pas surat ini ada di kamu, kakak udah gak ada di dunia.

Everlasting Pain [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang