Pandangannya mengitari seluruh ruangan berukuran cukup minimalis yang kini akan menjadi tempatnya untuk melepas lelah. Sepadan dengan harga sewa yang telah ditentukan oleh pemilik rumah. Jayden cukup lega bisa hidup tanpa bergantung pada orang lain. Meski dalam benaknya terus terpikirkan seperti apa hidupnya ketika esok menjemput.
"Bang, jangan ragu buat minta bantuan kita ya."
Jayden mendengkus kesal. Matanya memicing menatap kedua sahabatnya yang duduk di sofa yang ada di hadapannya. Cukup kecewa karena Nero dan Satria yang ternyata diam-diam membayar penuh sewa rumah yang kini Jayden tempati. Bahkan seharusnya bukan rumah ini yang Jayden pilih.
Kata Nero, nurut sama kita, Bang. Gila aja lo sewa kos-kosan yang nyatu sama anak kos lain. Lo juga perlu privasi.
Terlanjur dibayar, mana mungkin Jayden menolak. Dalam hati cowok itu bertekad akan mengganti uang yang dikeluarkan Satria dan Nero untuknya.
"Bener tuh. Lagian kita ini sahabat, Jay. Jangan sungkan sama sahabat sendiri."
Jayden tersenyum hangat. Merasa sangat beruntung memiliki sahabat setulus Nero dan Satria. Hanya saja ia harus tetap berdiri di bawah kakinya sendiri. Apalagi kini ia tahu bahwa orang tuanya tak pernah memiliki rasa sayang untuknya. Untuk meminta uang saja, ada rasa segan yang mengendap di hati.
"Makasih. Tanpa kalian, mungkin gue nggak akan sekuat ini."
Teman bisa dicari dengan gampang, namun memiliki sahabat setulus Nero dan Satria sangat sulit. Dan Jayden tak pernah bosan berterima kasih pada Tuhan karena telah menghadirkan mereka.
"Itulah gunanya sahabat. Lo juga udah banyak bantu kita, Jay."
Benar. Dengan Jayden selalu bersedia meminjamkan bahunya untuk Nero dan Satria saja sudah membuat keduanya merasa lebih hidup. Jayden adalah segalanya.
***
Jishan tak berhenti mengumpat di dalam kamar. Pertemuannya dengan orang itu membuatnya diselimuti oleh rasa takut. Apalagi saat mengetahui bahwa keluarganya ternyata sudah diintai selama beberapa waktu.
"Sialan."
"Mas, kenapa? Orang itu ngapain?"
Tentu saja Joana heran melihat sang suami sejak tadi terlihah gelisah. Apalagi ia mendengar beberapa kali Jishan melontarkan kata-kata kasar. Joana tahu kedatangan orang itu kemarin. Bahkan ia sempat kewalahan mencari alasan saat Mahesa bertanya tentang orang yang tiba-tiba mendatanginya di area parkir. Joana kini hanya duduk mengamati pergerakan Jishan yang mondar-mandir di depannya.
"Dia ternyata udah ngintai kita sejak lama, Sayang. Terutama Jayden."
Tubuh Joana sempat menegang selama beberapa saat, namun pada akhirnya ia mampu mengendalikan diri. Wanita paruh baya itu melangkah mendekati suaminya.
"Kamu tenang aja. Kalau dia ketemu Jayden, aku yakin Jayden akan tetap milih kita. Ingat Mahesa? Jayden sayang banget sama Mahesa."
"Kalau sebaliknya?"
Wajah Joana keruh saat mendengar ucapan Jishan. Sebenarnya ia pun juga cukup meragukan pilihan Jayden nanti. Apalagi mengingat terbongkarnya kepalsuan yang mereka berikan pada Jayden.
"Jay bisa aja pilih dia, Joana."
Mata Jishan terpejam. Teringat dengan pertemuannya dengan orang itu yang membuat pria itu merasa was-was.
"Saya mau Jayden pulang."
Jishan menatap tajam sosok pria berjas hitam yang kini berdiri di hadapannya dengan tatapan angkuh. Bahkan Jishan sempat menangkap seringai tipis di bibir sang musuh.
KAMU SEDANG MEMBACA
Everlasting Pain [END]
Teen FictionJika memang hadirnya tak ada artinya, lantas untuk apa dia hidup? Jayden hanyalah seorang anak yang tak pernah dilahirkan hanya untuk menjadi yang kedua. "Sat, gimana rasanya dipeluk sama mama lo?" "Rasanya nyaman dan hangat lah. Bukannya lo sering...
![Everlasting Pain [END]](https://img.wattpad.com/cover/361574805-64-k780531.jpg)