Jika memang hadirnya tak ada artinya, lantas untuk apa dia hidup? Jayden hanyalah seorang anak yang tak pernah dilahirkan hanya untuk menjadi yang kedua.
"Sat, gimana rasanya dipeluk sama mama lo?"
"Rasanya nyaman dan hangat lah. Bukannya lo sering...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Adek, lo mau ke mana?"
Tungkai itu berhenti sejenak. Matanya memicing saat melihat Mahesa turun dengan tangan yang berpegangan erat pada sisi tangga. Dengkusan kesal keluar dari bibir Jayden. Langkahnya berbalik demi menghampiri kakaknya. Bisa ia lihat, wajah Mahesa seperti tak pernah dialiri darah. Sangat pucat.
Jayden meraih tangan kurus itu dan menyampirkannya di bahunya. Jayden juga merasakan tubuh Mahesa yang masih terasa panas. Mungkin ia bisa menggoreng telur di kening Mahesa saking panasnya, Jayden hiperbola.
"Lo ini masih sakit, kenapa malah jalan-jalan begini?"
Mendengar kata sakit membuat hati kecil Mahesa tercubit. Sebab mungkin sampai kapanpun kata sembuh hanya akan menjadi angannya. Namun alih-alih membalas ucapan Jayden yang cukup menusuk, cowok itu lebih memilih melukiskan senyum di bibirnya.
"Bosen di kamar terus. Lo, lo mau ke mana?"
Jayden menginterupsi sang kakak untuk duduk di sofa. Matanya memandang malas Mahesa yang sekarang menatapnya dengan tanya yang menuntut.
"Mau main basket sama Satria. Kenapa?"
Mahesa terpekur. Lagi-lagi nama itu muncul dalam obrolan keduanya. Nama sahabat Jayden yang selalu bisa membuat sang adik untuk sejenak melupakannya. Hati cowok itu diselimuti oleh rasa iri. Segala pergerakannya tak pernah bebas. Seumur hidupnya, tak pernah ada orang yang mau berteman dengannya. Bahkan adik satu-satunya ini pun telah lama membentengi diri dengan tembok tak kasatmata.
"B-Bisa nggak kalau lo di rumah aja. Temenin gue."
"Nggak bisa. Minggu depan gue ada tanding basket."
Jayden bukannya tak mau menemani kakaknya. Hanya saja jarak itu telah terbentang luas. Selain itu, Jayden memang harus fokus dengan latihan basket demi meraih kemenangan. Meski kemenangannya tak pernah disambut, namun dengan basket, Jayden merasa lebih hidup.
"Jay, turutin kakak kamu. Nggak susah, kan?"
Suara bariton milik sang papa menyela obrolan sepasang kakak beradik itu. Jika sudah seperti ini biasanya Jayden akan menurut dengan mudah. Namun entah kenapa gelora amarah dalam hati Jayden enggan sirna. Matanya memicing tajam pada sosok yang ia sebut papa.
"Nggak susah?"
Embusan napas kasar keluar seiring dengan gejolak emosi yang bertahun-tahun ia pendam. Jayden menegakkan tubuhnya, berdiri dengan gagah seolah menantang pria paruh baya yang ada di hadapannya.
"Minggu depan aku ada pertandingan basket, Pa. Dan aku harus menang."
Mahesa merasakan aura ketegangan menyeruak di antara adik dan papanya. Bahkan cowok itu bisa melihat pancaran luka di mata Jayden. Sesuatu yang tak pernah begitu ia sadari selama ini.
"Basket, basket, basket terus! Mahesa jauh lebih penting dibanding hobi nggak berguna kamu itu, Jay!"
Hati siapapun akan terluka saat orang tua yang diharapkan mampu menyalurkan semangat, nyatanya hanya mampu mematahkan harapan yang sudah dibangun dengan kokoh.