Terungkap Sebelum Waktunya

1.3K 97 10
                                        

Bentar lagi ending 🤩

Keluarga kecil itu telah menginjakkan kaki di rumah. Siang telah bersambut saat ini. Kedua putra kembar Ansel itu telah memasuki kamar mereka. Tak seperti sebelumnya, mereka beristirahat di kamarnya masing-masing. Semua itu asal usul Javier agar sang kakak bisa tidur leluasa.

Jayden berbaring di kamar dengan pandangan mata lurus ke plafon kamarnya. Ada banyak tanya yang bersarang di otaknya. Ada rasa kalut yang tak mampu ia jabarkan. Kejanggalan itu sebenarnya telah ia rasakan sejak perban di matanya dibuka.

"Kak Hesa, lo baik-baik aja, kan?"

Cowok itu memang diam saat kedua orang tua angkatnya mengatakan Kakak lagi di rumah, kondisinya lagi kurang baik padanya. Namun pikirannya ribut sendiri. Bertahun-tahun hidup bersama Mahesa tentu saja menumbuhkan ikatan tak kasatmata. Apalagi beberapa kali ia melihat Joana yang menyeka air matanya.

Ketika ia mulai mencoba menjelajah alam mimpi, dering ponsel membuatnya harus beranjak dari ranjang. Matanya menyipit begitu mendapati ada nomor asing yang mengiriminya beberapa foto.

"K-Kak Hesa?" tangan Jayden bergetar hebat saat membaca sederet pesan dari nomor asing itu, "jangan bilang m-mata ini ...,"

Ada beberapa foto tubuh kaku tanpa jiwa milik Mahesa yang kini memenuhi layar ponselnya. Dan yang lebih membuat perasaannya hancur adalah saat matanya menangkap sebuah makam bertuliskan Mahesa di sana.

Mereka boongin lo, Jay. Mata lo itu punya kakak lo sendiri

Saat membaca satu bubble pesan tetakhir, sontak Jayden meraba kelopak matanya. Ketika itu pula sederet mimpinya belakangan ini bersama Mahesa membuat hatinya seolah remuk.

Air bening itu lolos seiring dengan rasa sesak yang menjerat hati. Ada sebongkah penyesalan yang membelenggu. Jutaan kata maaf pun tak akan mampu mengembalikan Mahesa.

'Kamu istirahat dulu ya. Pas kamu sembuh, kita ke makam orang baik itu.'

Jayden mengangkat tubuhnya. Dengan langkah terseok, cowok itu menuju ke arah Ansel yang kini tengah duduk di teras. Netra cowok itu memerah karena tetesan cairan bening yang tak berhenti meluruh.

Matanya menangkap sosok papanya yang tengah fokus menatap layar ponselnya dengan wajah seriusnya. Tanpa memedulikan norma kesopanan, cowok itu berteriak memanggil papanya.

"Papa!"

Sontak saja Ansel menoleh. Dilihatnya si sulung yang melangkah ke arahnya dalam keadaan yang jauh dari kata baik. Ketika tangannya ingin terulur mengusap bahu yang bergetar itu, si empunya menepis kasar.

"Kenapa Papa izinin Kak Hesa donorin matanya buat aku?"

Mata Ansel sontak terbelalak. Demi apa pun, ia belum siap memberitahu tentang pengorbanan yang dilakukan Mahesa. Bahkan sulungnya saja baru pulang hari ini.

"Kak, Papa--"

"AKU JAHAT, PA!"

Teriakan itu menggema. Hingga membuat si bungsu terkejut. Kembaran Jayden itu langsung melangkah cepat ke arah teras di mana Jayden dan papanya tengah berdebat. Matanya berkerut bingung. Kepanikan juga tak lepas darinya saat sang kakak tampak berantakan dengan air mata yang menghiasi kedua pipinya.

"Aku jahat. Aku bikin Kak Hesa meninggal. Kenapa Papa izinin Kak Hesa kasih matanya buat aku?"

Javier membelalakkan matanya. Ucapan kembarannya membuatnya ikut mengetahui fakta yang disembunyikan Ansel. Cowok itu melangkah cepat dan langsung memeluk Jayden dari belakang. Mencoba menenangkan saudaranya. Namun yang terjadi justru tubuhnya terdorong paksa.

Everlasting Pain [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang