Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Dipaksa Berteman Dengan Gelap

1.5K 99 20
                                        

Detakan itu terdengar lemah. Tak ada yang bisa memastikan kapan sosok itu membuka mata. Dua jam lalu rumah sakit Lentera Kasih dihebohkan dengan kedatangan beberapa korban kecelakaan. Naasnya, hanya satu korban yang selamat. Hanya saja ia harus berjuang di antara hidup dan mati.

Jayden menjadi satu-satunya korban yang masih diberi kesempatan untuk memperjuangkan hidupnya. Cowok itu tengah terpejam damai tanpa terganggu oleh bising alat pendeteksi jantung di ruang ICU. Alat-alat medis itu terpasang sempurna di beberapa bagian tubuh Jayden. Termasuk sebuah intubasi endrotrakeal yang tersumpal di mulut Jayden untuk terhubung pada trakea. Sebuah oxymeter tersemat di jari telunjuk untuk mengukur jumlah oksigen. Ada pula beberapa kabel rumit yang terpasang di dada Jayden yang sengaja dibiarkan terbuka.

"Mereka udah mati, Kak. Mereka yang bikin Kakak kayak gini udah mati."

Javier membuka suara setelah beberapa menit bungkam. Semua ucapan dokter bergema dalam pikirannya. Membuat rasa takut dalam diri Javier semakin kuat mendominasi.

'Ada banyak luka di tubuh Mas Jayden. Selain luka akibat kecelakaan, kami juga menemukan luka cambukan di seluruh punggungnya. Bahkan kami menemukan luka bekas sundutan puntung rokok.'

Javier saja merasa sakit hanya dengan mendengar penjelasan sang dokter, apalagi sang kembaran yang mengalami penyiksaan yang tak manusiawi itu. Tangannya yang bergetar mengusap jemari Jayden yang terbebas dari jarum infus. Sangat pelan karena ia takut membuat Jayden semakin kesakitan.

'Maaf kami harus menyampaikan hal ini. Mas Jayden kritis. Tulang betis dan pahanya patah. Tapi kami akan segera melakukan operasi setelah Mas Jayden melewati masa kritisnya. Ada benturan di dada, beruntung tak membuat fungsi organ dalam menurun. Hanya saja ...'

Javier menatap sang kembaran dari ujung kaki sampai kepala. Dadanya sesak bukan main saat pandangannya tertuju pada mata Jayden yang terbalut perban. Air mata Javier tanpa sadar telah lolos.

'Hanya saja Mas Jayden akan mengalami kebutaan karena kornea matanya rusak akibat terkena benda asing saat kecelakaan.'

Tak ada yang lebih menyakitkan dibanding harus melihat kehancuran saudara satu rahimnya. Jika saja Javier mampu, ia rela mengorbankan apa pun untuk Javier, bahkan matanya sekalipun. Hanya saja semua tak sesimpel apa yang ada di otaknya. Dunia medis ada peraturannya, apalagi untuk persoalan donor organ.

'Mas Jayden butuh donor kornea mata. Dan kami akan terus melakukan yang terbaik.'

Cowok itu mengecup lembut tangan itu. Melantunkan untaian doa dalam hati untuk keselamatan saudara kembarnya.

"Kak, sabar ya. Jangan nyerah. Gue rela jadi mata Kakak. Asal Kakak jangan nyerah."

Keadaan hening.

Hanya ada bunyi alat medis yang menemani sepasang saudara itu. Selama Jayden kritis, cowok itu harus berada di ruang ICU dengan pengawasan yang ketat dari para tenaga medis. Keluarga pasien hanya diizinkan menjenguk beberapa menit saja dengan protokol kesehatan standar rumah sakit.

"Kak, I beg you, cepet bangun. Ada gue dan papa yang nunggu Kakak."

Javier menghela napas kasar. Cowok itu terpaksa harus keluar dari ruang ICU karena jam besuk yang telah berakhir. Sebelum Javier benar-benar pergi, ia menatap dalam wajah pucat Jayden.

"Mama, aku tahu Mama kangen Kak Jay. Tapi please, jangan jemput Kak Jay."

***

Kabar kecelakaan yang menimpa Jayden telah sampai di kediaman Jishan. Hanya Mahesa saja yang tak tahu. Jishan dan Joana sengaja menyembunyikan kabar buruk ini.

Everlasting Pain [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang