Rencana kritis

1K 126 4
                                        

Waktu nya memulai permainan yang sesungguhnya.










































Mereka sudah bersih-bersih dan tengah berkumpul di ruang tengah, kini mereka sudah kembali di rumah mewah mereka, tak lagi di rumah sang Kakek.

Shani tengah mengobati luka yang di dalam Gracia di sudut bibir nya yang sedikit robek, juga beberapa luka lebam di tangan nya juga kakinya.

"Siapa yang bikin Gracia luka kaya gini?" Tanya Lidya dengan serius yang datang dari kantornya, berbelok sebelum pulang ke apart nya, masih dengan setelan kantor.

"Misi kali ini bener bener lebih berbahaya dari yang lain, bahkan kita bisa aja terluka setiap saat ada di sekolah" Jelas Shani.

"Kalian bisa melawan kan!"

"Engga Lid, semuanya akan kacau kalo kita melawan" Balas Gracia.

"Aasshh... Sakit Shan pelan dong"

"Ini udah pelan, tahan aja sebentar"

"Banyak banget luka nya Ci Gre" Zee menatap Gracia dengan sendu.

"Kita harus balas dendam sama mereka!" Kesal Christy.

"Kita ga bisa balas dendam dengan cara apapun kecuali menghancurkan permainan nya atau menguasai permainan nya" Cegah Gracia.

"Caranya?" Tanya Shani.

Shani selesai mengobati luka di tubuh Gracia, mereka memulai obrolan serius, Lidya bahkan ikut duduk menyimak.

"Tapi aku butuh Lidya juga kali ini"

Lidya menatap Gracia menimang sebentar "Ok aku ikut"

"Ka Lidya bukan nya baru masuk kantor? Masa udah ngambil cuti demi misi ini?"

"Kantor punya temen Kakek ini gampang lah"

"Hem iya deh, yang punya orang dalam" Ledek Christy.

"Dedeeekkk siapa yang ngajarin?" Pelan tapi menakutkan itulah ucapan Lidya.

"Heheh engga ka Lid"

"Jadi gimana?" Lanjut Lidya.

"Kita harus bisa bikin Shani naik masuk peringkat 10 tercantik di sekolah, besok aku akan ganti gaya rambut biar bisa membuat orang lain voting aku di pemilihan selanjutnya, setidak nya aku bisa keluar dari Zona merah itu aja"

"Kita saling vote satu sama lain, dan kita harus naikin pamor Shani biar di vote banyak orang" Lanjut Gracia.

"Lidya bisa masuk jadi Guru buat memanipulasi para Guru juga buat milih Shani dan syukur syukur bisa menyadarkan mereka kalo permainan ini mulai tidak sehat dan harus di tiadakan"

"Lalu kita harus membuat orang yang di Zona merah dengan ku itu keluar dari Zona merah"

"Itu sulit sih Ci, soalnya dia jerawatan, orang orang ga akan tiba tiba milih dia gitu aja" sela Zee.

"Kita bisa ajak dia buat perawatan kan bisa, kita dandanin dia biar agak cantik tapi natural kan bisa" Balas Gracia.

"Ok lanjut" Ucap Shani.

"Terus Shani harus ikut kelas yang membuat Shani di pandang semua orang sebagai perempuan berbakat, cantik dan idaman biar Shani bisa naik peringkat"

"Aku harus ikut ekskul apa Ge?"

"Ekskul Dance, Renang, OSIS, dan emm.. Modeling"

"Banyak banget Ge?"

"Ayo lah Ci kamu pasti bisa, biar terlihat penuh bakat, nah kamu juga kan pinter jadi kamu harus dapat peringkat tertinggi di semua pelajaran di kelas kita, bersaing sama si Marsha Marsha itu, tapi kamu kasih contekan sama yang lain biar kamu ga pelit ilmu dan mereka mau voting kamu karena kamu ngasih mereka contekan jawaban apapun itu"

"Tapi jangan kasih mereka semua jawaban benar, biarin mereka kerjakan soal, nah kayanya salah tuh, terus kamu kasih mereka beberapa jawaban soal aja, biar mereka tau kalo semua jawaban yang kamu kasih itu semuanya benar jadi mereka mengakui kamu itu pinter"

"Sisa nya Zee dan Christy, kalian kan humble tuh gampang akrab sama mereka, jadi kalian bisa ngorek ngorek informasi siapa yang punya ide permainan ini dan siapa yang punya kuasa sampai sampai permainan ini tetap berjalan dalam waktu yang lama"

Zee dan Christy mengangguk faham.

"Aku rasa Guru BK pun menutupi kasus kekerasan ini sehingga berita ini tidak pernah sampai pada KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia), pasti ada sesuatu yang membuatnya bungkam"

"Dan kita akan bongkar semuanya tanpa tersisa!"

Mereka semua menggangguk setuju atas semua rencana Gracia yang brilian.

"Dan satu hal lagi, selama aku masih ada di Zona merah seperti sekarang, jangan ada yang coba nolongin aku kecuali dalam keadaan benar benar gentingg, sisa nya biar aku nerima semua perlakuan kasar mereka, aku ga mau kalian terlibat saat aku tengah di rundung sama mereka, kaya Shani yang di dorong ke dinding pas menghadang mereka, jadi kalian bisa ikut dalam bahaya kalo ikut campur urusan ku, kalian mengerti!"

"Tapi kamu bisa terluka parah Ge" Lirih Shani.

"Ci, ini semua demi rencana nya berjalan dengan lancar, aku baik baik aja ko"

"Hati-hati ya Ge, sekali kali melawan Ge saat di rasa mereka mulai keterlaluan"

"Aku ngerti Ci aku harus apa"

"Udah semua mending istirahat, badan ku udah sakit sakit banget juga, udah pengen istirahat"

"Cepet sembuh ya Ci Gre" Ucap Zee.

"Iya cepet sembuh Ci" Di susul Christy.

"Cepet sembuh ya Ge"

"Gws Ge"

"Iya makasih Zee,  Christy, Ci Shani sama Ka Lidya, hati hati di jalan ya ka Lidya pulang nya"

"Iya aku pulang ya ges"

"Iya hati hati Ka Lidya" Seru Zee.

Mereka menuju kamar masing-masing dan Lidya pulang ke apart nya.

Mereka mempersiapkan diri untuk esok hari yang mungkin bisa lebih baik atau bahkan lebih buruk.

Gracia menatap langit langit kamar nya, badan nya sangat terasa remuk, sakit di sana sini.

"Kalian akan hancur, aku Janji itu!" Gumam nya penuh penekanan dan tatapan kebencian.










































Yuhhu

Jangan lupa sahur ges....
Maaf kalo ada typo ya

Back To Campus (END) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang