Di dalam mobil.
Kita cukup lama saling diam satu sama lain. Aku masih merasa kesal karena respon dia seperti tidak suka dengan tindakanku. Padahal kalau dipikirkan kembali, aku sama sekali tidak merugikan pihak mana pun. Andai saja dia mengerti, betapa hancurnya hatiku saat melihatnya dari CCTV berdua dengan Siska.
"Jangan seperti itu lagi, Ness. Aku nggak suka caramu," katanya jengkel membuka pembicaraan.
"Okay." Aku berusaha keluar dari mobil, namun ditahan olehnya agar tidak turun.
"Ness, please, stay," ujarnya, lalu menghela napas panjang setelah itu.
Aku menatapnya penuh makna. Aku berusaha keras menahan emosi yang tertahan sejak tadi. Aku berusaha tetap menjadi pendengar yang terbaik untuknya.
"Maafin aku, Ness," ujarnya.
"Buat apa?"
"Semua salahku."
"Salah kamu memangnya apa?" Aku semakin menekannya untuk mengakui kesalahan.
"Membuat kamu berpikir yang nggak seharusnya dan membuat kamu kecewa hari ini."
"Boleh aku keluarin semua unek-unek?"
"Iya, Nessie."
"Aku nggak tahu di belakangku apa yang dilakukan Siska dan apa respon yang kamu berikan. Entah kenapa, aku merasa kamu memang memberikan kesempatan untuk aku menaruh curiga. Waktu nggak pernah aku dapat dari kamu, sosok kamu hadir juga hanya harapan, dan pikiran negatif jadi selalu melintas. Sekarang aku berbuat yang nggak merugikan pihak mana pun, kamu terlihat nggak terima juga. Jika semua dibalik, apa yang akan kamu lakukan, David?" kataku jengkel.
"Aku nggak pernah siap jika posisi dibalik. Melihat kamu sama Rey bahkan aku sangat cemburu. Padahal nyatanya nggak sesuai yang ada dipikiranku. Aku sayang banget sama kamu, Ness." Dia meneteskan air mata.
Aku merebahkan tubuhku di kursi mobil dan menghela napas panjang. Aku memainkan jemari dan menatap dengan tatapan kosong ke arah jemariku. "Aku juga, cuman aku capek berpikir seperti ini terus karena saking sayangnya sama kamu." Dia meraih jemariku dan menciumnya berkala. Aku menoleh ke arahnya dan meneteskan air mata. "Semua ini apakah ada di setiap orang hamil, Dev?" lirihku.
"Maybe, kamu jangan terlalu stres, Ness. Aku nggak seperti apa yang kamu pikirkan," jelasnya penuh kesungguhan.
"Kamu malu punya aku ya, Dev?" Aku meneteskan air mata.
Dia merapihkan rambutku dan memberikan senyuman. "Nggak, Ness." Dia menghampiri wajahku dan melumat bibirku lembut. "Intinya aku nggak seperti yang ada pikiran kamu sekarang, nggak ada yang bisa gantiin posisi Nessie di kepala dan hati seorang David." Aku tersenyum semringah mendengar penjelasannya.
****
Acara 7 bulanan.
Hari ini acara 7 bulan kehamilanku yang diadakan di rumah. Ibu menyempatkan untuk ke Jakarta ditemani sepupunya David yang bernama Amelia. Acara ini hanya dihadiri teman dekat dan sanak saudara saja. Kinan dan Tiffany juga hadir hari ini, kebetulan juga Sabtu ini mereka tidak ada kelas.
"Ness, ponakan gue calon cewek apa cowok, nih?" Kinan dengan nada bergurau.
Aku tersenyum lepas mendengar pertanyaannya. "Alhamdulilah, Insha Allah, perempuan, Nan."
"Wah, bisa jadi sepasang seharusnya kalau sama Bara," celetuk Kinan.
"Eh, Nan, jaga sih, omongannya," protes Tiffany.

KAMU SEDANG MEMBACA
NESSIE (18+) [END]
RomanceCERITA KHUSUS (18+) Banyak kata-kata Vulgar dan Kasar. #1 HubunganToxic (20.01.23) #1 AnakKuliah (20.09.23) Sipnosis: Hidup penuh kebebasan, siapa yang tidak menginginkannya? Layaknya manusia biasa, kesepian pasti datang menyelimuti kehidupan. Nessi...