Aku langsung menuju Dapur setelah itu untuk mengalihkan pikiran tentang kejadian tadi. Aku lelah menjadi orang pemikir segalanya, seperti tenaga terkuras hanya karena pikiran yang tidak seharusnya dipikirkan.
Aku memotong wortel dan kol untuk bahan campuran bakwan lalu mengaduknya bersamaan dengan tepung terigu yang sudah aku campur dengan air dingin. Aku mulai menggorengnya di atas wajan. Sepanjang aku memasak, aku menahan emosi dan kesedihan mendengar perkataan ibu-ibu tadi. Andai saja aku bisa memilih, aku sudah memilih melahirkan anakku dengan selamat dan membesarkannya penuh kasih sayang.
"Ness, ya ampun! Itu gosong!" Sontak David mematikan kompor.
"Eh, ya ampun, maaf, Dev," aku langsung mengangkat wajan yang panas dengan tangan kosong. "Awww!" Aku menaruhnya kembali ke atas kompor.
"Ya ampun, Nessie!" David langsung mengambil air dingin yang ada di kulkas dan menyiramkan air dingin tersebut ke tanganku di atas wastafel dapur. "Apa yang lagi kamu pikirin sih, Ness?" Lanjut David yang terdengar sangat cemas.
"Maaf," aku meneteskan air mata dengan sendirinya.
"Lho, kok minta maaf?" David menaruh botol air yang sudah kosong di meja dapur.
"Bakwannya gosong," jawabku lemas.
David tertawa lepas mendengar perkataanku.
"Kok malah ketawa?" Tanyaku heran.
"Tangan kamu saja melepuh, bukan mikirin tangan, malah mikirin bakwan gosong," ejeknya didampingi tawa. "Sini aku bantu gorengin," lanjutnya.
"Emangnya kamu bisa?" Tanyaku.
"Lumayanlah, nggak bikin gosonglah kira-kira," ejeknya.
"Ihh, David!" Jengkelku.
Dia tertertawa lepas mendengar jengkelku.
****
Hari sudah malam, David sudah terlelap sejak tadi. Setiap malam ada saja pikiran yang terlintas. Aku memerhatikan cermin yang sudah pecah, aku masih belum bisa sepenuhnya menerima semua yang telah terjadi. Aku lelah selalu memikirkan hal ini ketika terdiam. Aku sudah melempar dan membuang jauh segalanya, tetapi semua datang menyerbuku tanpa tanda-tanda kehadirannya.
Aku berjalan ke kamar mandi yang berada di dalam kamar. Aku berjalan perlahan memasuki kamar mandi. Aku menatap wajahku penuh makna di depan cermin yang berada di pintu masuk. Aku berdiri tepat di depan cermin dan wastafel kamar mandi. Aku hanya terdiam memerhatikan wajahku. Rasa sedih mulai menghampiri, aku meneteskan air mata dengan sendirinya. Aku mencengkram wastafel yang berada di depanku saat ini. Aku tertunduk, pikiran tentang anakku dan juga Rey menyelimuti seluruh pikiran. Tangisanku mulai histeris, aku menatap wajahku di cermin dengan penuh emosi setelah itu.
"Gue benci sama lo, Nessie!" Aku memukul cermin dengan tangan kananku hingga pecah.
David menghampiriku dengan wajah cemas. Tanganku terluka karena terkena pecahan kaca. Aku memukul-mukul kepala berulang kali dengan begitu keras. Rasanya aku ingin mengeluarkan segala pikiran yang ada di dalam otakku. David berusaha keras menahan kedua tanganku agar tidak kembali memukul kepala.
"David, kenapa semua ini ada di kepalaku? Aku muak!" Teriakku.
David mendekapku erat dan mengelus punggungku berkala yang berada di lantai kamar mandi. "Tenang ya, Ness, aku di sini," dia berusaha menenangkanku.

KAMU SEDANG MEMBACA
NESSIE (18+) [END]
RomanceCERITA KHUSUS (18+) Banyak kata-kata Vulgar dan Kasar. #1 HubunganToxic (20.01.23) #1 AnakKuliah (20.09.23) Sipnosis: Hidup penuh kebebasan, siapa yang tidak menginginkannya? Layaknya manusia biasa, kesepian pasti datang menyelimuti kehidupan. Nessi...