48

3.1K 127 42
                                        

Happy Reading


Suasana malam di Bandung sangat ramai bahkan ada yang bilang jika
malam Bandung terlihat sangat indah dan mengagumkan. Keindahan kota Bandung tidak berlaku untuk hati yang sedang kecewa bahkan yang indah pun menjadi gundah.

Malam ini Fatin tengah berdiri menatap langit yang di kelilingi oleh jutaan bintang yang bersinar dengan keindahannya. Setelah mendengar pengungkapan Gus Fatih pada seorang perempuan, Fatin memutuskan untuk pulang tanpa pamit pada tuan rumah. Mungkin terdengar tidak sopan tetapi ia juga merasakan kekecewaan yang begitu besar. Hati siapa yang tidak akan sakit ketika melihat suami mengungkapkan perasaan nya pada perempuan lain?

Itulah yang terjadi sekarang pada Fatin.

Padahal di hari raya seperti ini Fatin sangat ingin menghabiskan waktu pada ketiga sahabat, tetapi karena keegoisannya semua menjadi berantakan.

"Rin, Lia Saya balik duluan. Sampaikan salam dan maaf pada Kyai Harun dan Nyai Maryam. Assalamu'alaikum" Fatin mengambil tas dan ponsel milik nya.

"Fa, mau kemana?" Tanya Lia.

Karin menahan tangan Fatin yang akan pergi. "Lo kenapa?"  Fatin memalingkan wajahnya agar tak terlihat pada mereka. Ia tak ingin semuanya mengetahui mengapa dirinya menangis.

"Tante Ana nyuruh ke rumahnya ada urusan penting Assalamu'alaikum." Fatin melepaskan genggaman Karin. Bahkan tanpa melihat wajah kedua sahabatnya, Fatin pergi meninggalkan mereka tanpa penjelasan apapun.

"Halo, Abi bisa jemput gak? nanti saya serlok tempatnya."

"Otw. Kebetulan tempatnya dekat sama tempat gue futsal."

Dua puluh menit menunggu, Motor dari jarak yang tidak terlalu jauh Fatin melambaikan tangannya seolah-olah memberi kode bahwa dirinya berada disana.

"Ngapain disini?" Tanya Abi yang baru saja sampai, Pakaian jersey berwarna hitam menandakan bahwa Abi baru saja selesai bermain futsal.

"Abis di rumah temen, Ayo balik!" Ucap Fatin sembari menaiki motor milik sepupunya.

"Balik kemana? suami lo mana sih"

Fatin terdiam sejenak tidak mungkin masalah ini harus diceritakan pada adik sepupunya. "Abi" Panggil Fatin.

"hm"

"Boleh nginap dirumah kamu gak?"

"Lah ayo ayo aja gue mah. Btw lagi ada masalah sama Gus Gus mu itu?"

"Nggak. Udah ayo jalan!"

Di perjalanan tadi Fatin dengan terang-terangan menangis, mungkin hanya Abi yang bisa mendengar tangisan itu. Suasana malam Bandung yang begitu ramai dengan kendaraan tak mungkin bisa mendengarkan tangisan seorang perempuan yang sedang kecewa untuk saat ini.

Bahkan Abi sempat menepikan motor milik nya di pinggir jalan usai mendengar Fatin menangis.

Tante Ana mengerti keadaan Ponakannya untuk saat ini. Apalagi Fatin masih terbilang umur belasan, wajar jika ia tidak bisa mengontrol hati dan pikiran.

"Fatin" Panggil Ana mendekat pada Fatin.

Fatin mengalihkan pandangannya pada Tante Ana, Ia tersenyum singkat ketika Tante Ana memeluknya.

"Fatin, dengar kan tante"

"Apapun  masalahnya jangan seperti ini, ya?"

"Jangan tinggalkan suamimu. Pulang lalu bicarakan dengan baik-baik bukannya tante pernah bilang sama kamu? Masalah yang serumit apapun tidak akan bisa menyelesaikan masalah jika kamu pergi seperti ini."

GUS IDAMANKUTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang