Happy Reading
Jangan lupa vote ya teman-teman💐
Tandai jika ada typo‼️
Benar, selalu sediakan ruang untuk kecewa, tapi siapa sangka kecewa seberat ini datang dari orang kita sayangi?
Fatin berdiri di tengah-tengah keramaian–melihat orang-orang sedang melepas rindu dan ada juga yang sedang menangis karena kepergian seseorang ke tempat yang jauh.
Kini Fatin bersama Kakek dan Ustadz Abizar berada di bandara, tepatnya di Bandara Soekarno-Hatta. Setelah meminta keterangan dari dokter, akhirnya Fatin di perbolehkan untuk pulang.
Di perjalanan menuju bandara tadi, Fatin sama sekali tidak membuka suara. Bahkan sang kakek sesekali mengajak nya berbicara pun tidak di tanggapi sama sekali.
Walaupun wajahnya tertutupi oleh cadar, Abi Ahmad tahu betul perempuan yang berada di depannya sedang tidak ingin berbicara dengannya karena satu larangan dari Abi Ahmad.
"Zahra," Panggil Abi Ahmad.
Fatin menghela nafas pelan. Sudah berkali-kali telinganya mendengar panggilan yang tak kunjung berhenti dari Abi Ahmad. Dengan perlahan ia kemudian membuka suara. "Kakek, Saya nggak punya tenaga untuk berbicara."
Mendengar itu Abi Ahmad menganggukkan wajahnya dan memilih untuk diam melihat penolakan cucu semata wayangnya.
Fatin kembali menyenderkan punggungnya di kursi tunggu bandara, ia menatap sekeliling bandara berharap seseorang yang dia cari muncul di hadapannya.
"Kakek?" Panggil Fatin.
Abi Ahmad mendekat begitupun dengan Abizar. "Kenapa Zahra? kamu butuh sesuatu? Atau sedang ingin makan sesuatu?"
"Kamu ingin makan sesuatu? Biar saya belikan,"Tanya Abizar menawarkan diri.
"Apa saya bisa bertemu dengan Gus Fatih untuk terakhir kalinya?"
"Tidak! Saya tidak akan pernah mengizinkan mu bertemu dengan lelaki itu!" Tegas Abi Ahmad.
Fatin kembali menangis. Beberapa kali ia memohon agar bisa bertemu dengan suaminya walau untuk terakhir kalinya Abi Ahmad selalu menolaknya.
"Buka mata kamu Zahra! Kamu tidak melihat apa yang sudah dia perbuatan padamu?!"
"Gus Fatih harus tahu soal kehamilan ku, Kek!"
Abi Ahmad memberikan tatapan tidak suka pada Fatin. "Apa yang kamu harapkan setelah dia tahu kehamilan itu? Kakek bisa membiayai semua kebutuhan mu serta anak mu nanti!"
Setelah mengatakan itu, Abi Ahmad keluar dari kamar lalu di susuli oleh Ustadz Abizar yang masih terdiam di tempat.
Fatin kembali menangisi dirinya. Ia tak mau anaknya nanti kehilangan peran ayah. Karena Fatin tahu, peran ayah itu sangat penting bagi seorang anak. Fatin tahu, karena dia sudah merasakan bagaimana hidupnya yang kehilangan arah setelah kepergian sang ayah dan ibunya.
•••••
"Mau kemana Zahra?" Tanya Abi Ahmad melihat cucunya yang hendak pergi.
"Toilet." singkat nya. Abi Ahmad mengangguk pelan.
Sesampainya disana, Fatin melepaskan cadar nya. Ia perlahan mengusap beberapa luka di wajahnya. Sungguh ciptaan Gus Fatih begitu indah sampai-sampai luka dan warna yang membiru di wajahnya tak kunjung menghilang.
"Apa ini adalah bukti bahwa kamu mencintai perempuan itu Gus?" Guman Fatin pelan.
"Saya cemburu Gus,"
KAMU SEDANG MEMBACA
GUS IDAMANKU
Teen FictionDILARANG KERAS UNTUK PLAGIAT! ig:ftrvvva tt:ftrivvv Fatin Az-Zahra ketika beranjak di SMA negeri, fatin ingin bersekolah di tempat yang ia inginkan namun papa nya tidak mengizinkannya, rayuan demi rayuan yang ia berikan pada ayahnya, akhirnya ia di...
