Happy Reading
Pagi hari. Fatin sudah lebih dulu keluar dari kamar, dengan jalan yang sedikit kesusahan Fatin terpaksa melangkah dengan hati-hati untuk menuruni anak tangga.
"Pagi, Abah" Sapa Fatin berada di ujung anak tangga.
Kyai Abdullah tersenyum."Suami kamu mana?"Tanya Kyai Abdullah.
"Kayaknya masih mandi–"
"Ehem"
Fatin menoleh menatap Gus Fatih yang sudah rapi. Baju hitam polos dan sarung hitam bermotif yang terlilit rapi di pinggang nya.
Gus Fatih mendekati istrinya"masih sakit jalan-nya?" Fatin menunduk malu lalu mengangguk pelan.
"Mau aku bantu?"Gus Fatih membantu Fatin berjalan ke dapur dengan memegang kedua pundak istrinya.
Walaupun kakinya masih sangat susah untuk berjalan, Fatin tetap bersikeras ke dapur untuk membantu mertuanya di banding harus beristirahat di dalam kamar.
"Aku ke ruang tamu dulu ada yang harus di bicarakan sama, Abah. Kalau masih susah jalan nya, panggil aku" Bisik Gus Fatih.
"Iya"
Fatin mendekati mertuanya yang sedang bergulat dengan alat dapur.
"Umii, lagi masak apa?"
"Loh nduk, kaki nya kenapa to?" Hadijah mendekat pada menantu nya yang hendak datang kepadanya.
Fatin tersenyum malu, wajahnya seketika memerah ketika mertuanya bertanya.
"Anu eh–"
"Gus!" Panggil Hadijah dengan suara yang nyaring.
"Kamu apakan menantu Umi?!" Hadijah melangkah cepat dan membawa sendok wajan di tangannya.
"Umi" Langkah Umi hadijah begitu cepat bahkan Fatin tidak sempat menahannya. Ia kemudain mengikuti mertuanya dengan jalan pincang menuju ruang tamu tepat Gus Fatih berada.
"Lihat sana, Fatin sampe pincang kamu apakan menantu Umi hah?!"
Kyai Abdullah, Gus Fatih dan Umi hadijah menatap Fatin yang sedang berdiri tak jauh dari mereka, hanya beberapa langkah saja.
Kyai Abdullah menghela nafas, istrinya seperti tidak pernah muda saja. "Nduk, itu kakinya kenapa?"
"Umi sama Abah kayak gak pernah muda," jawab Gus Fatih.
Kyai Abdullah hanya beroh-ria, pantas saja sedari tadi anaknya tidak berhenti tersenyum.
"Jadi–" Jeda Umi hadijah. Fatih menunduk.
"Nduk, jatuh?! Astaghfirullah, Umii panggil kan tukang urut sekarang, ya! Ya Allah. kenapa ndak bilang dari tadi"
Kyai Abdullah menarik istrinya dan membawanya kedapur.
"Fatih, kamu jadi bertemu ustadz farhan?"Tanya Kyai Abdullah.
"Nggih, sekalian ambil soal ulangan untuk minggu depan."Jawab Gus Fatih tetapi pandangannya tak hilang dari istrinya yang masih menunduk.
KAMU SEDANG MEMBACA
GUS IDAMANKU
Fiksi RemajaDILARANG KERAS UNTUK PLAGIAT! ig:ftrvvva tt:ftrivvv Fatin Az-Zahra ketika beranjak di SMA negeri, fatin ingin bersekolah di tempat yang ia inginkan namun papa nya tidak mengizinkannya, rayuan demi rayuan yang ia berikan pada ayahnya, akhirnya ia di...
