53

3.3K 195 58
                                        

Happy Reading


Jangan lupa vote ya teman-teman💐

Tandai jika ada typo‼️

"Jadi untuk kalian semua para lelaki, saya ingatkan. Jangan sekali-kali kau menampar seorang wanita. Karena sesuatu yang paling menyakitkan bagi wanita adalah menampar wajahnya. Apapun alasannya, apa pun itu ketika kamu lagi tersulut emosi, jangan sekali-kali menyakitinya."

"Perempuan itu seperti cermin. Tau cermin kan? Ketika kamu melemparkan nya dengan batu sampai hancur. Lalu kamu susun kembali menggunakan lem. Apa cermin itu akan tersusun kembali?"

"Tidak!" sorak mereka.

"Salah. Cermin itu akan kembali tersusun, tapi bentuknya sudah tidak sempurna. Nah, cermin itu ibaratnya seperti perempuan. Ketika kamu berhasil menampar nya, itu akan membekas di hatinya."

"Apa yang akan kita lakukan setelah itu? Benar, para suami akan meminta maaf tapi bukan berarti sakitnya hilang. Dia memang mengatakan bahwa dia memaafkanmu, tapi di hatinya akan selalu membekas."

"Sama dengan ketika kamu memberikannya sebuah bunga. Kamu berikan satu kali saya, dia akan ingat seumur hidup. Apa lagi yang kamu berikan itu rasa sakit, susah. Pasti akan selalu dia inget. Yang tadinya dia ingat bahagianya ketika kamu memberikan bunga menjadi ingat hal yang kamu perbuat."

"Jadi ingat para lelaki semua yang ada disini, semua yang hadir disini. Muliakan seorang perempuan. Karena perempuan itu kodratnya sangat tinggi."

Abi Ahmad menghentikan ucapannya sejenak ketika melihat murid nya mendekst kepadanya lalu berbisik. "Abi tidak berangkat di bandara?"

Abi Ahmad memukul pelan pelipisnya. Namanya juga sudah tua, wajar ia menjadi lupa-lupa ingat. "Untung kamu ingatkan, Syad"

"Kalau begitu saya Akhiri saja disini, ingat yang saya katakan tadi. Saya harus berangkat ke Indonesia, saya ingin berjumpa dengan cucu disana. Assalamu'alaikum."

Abi Ahmad kemudian keluar dari mesjid. Tak lupa juga pada santri mendoakan perjalanan Abi Ahmad.

Abi Ahmad Rifal Hidayatullah mengangkat tongkatnya lalu melayangkan di punggung seseorang yang tidak ada hentinya berbicara.

"Syad, kamu bisa diam tidak?"

"Buya. Buya ngapain ke Indonesia? Kalau emang mau jemput Zahra, biar saya saja,"

Pria yang sudah berumur mengabaikan cucunya, dari pada mendengarkan ocehan itu lebih baik ia segera berangkat ke bandara.

"Jaga pesantren, buya hanya tiga hari di sana," Ujar Abi Ahmad.

"Siap Buya." jeda pria itu sejenak, "Beneran nggak mau di temanin kesana?"

Sebelum tongkat itu kembali melayang, pria yang berumur 26 tahun lebih dulu menahan dan menurunkan tongkat kembali ke berdiri di atas tanah.

"Taufiq ada di Indonesia. Sudah sana kembali ke ndalem," Ujar Abi Ahmad.

"Yasudah. Buya hati-hati kesana, kalau sudah sampai jangan lupa kabarin."

Pria itu kembali menghela nafas pelan, sebelum mobil itu meleset dari pesantren, ia kembali berteriak. "Titip salam untuk Zahra!"

"Abi Ahmad tidak mengizinkan kamu ikut?" Tanya seseorang itu mengejutkan pria yang masih senantiasa menatap kepergian mobil milik Abi Ahmad.

"Laa,"
(Tidak)

Pria itu menoleh lesuh, ada sedikit kekhawatiran yang tak bisa di ungkapkan. Karena kemana pun Abi Ahmad pergi akan di pastikan salah satu dari mereka ikut mendampingi pria paru baya itu. Di umur 60 tahun Abi Ahmad masih memiliki tenaga yang kuat apa lagi ketika keluar kota menemui beberapa ulama.

GUS IDAMANKUTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang