Happy Reading
Jangan lupa vote ya teman-teman💐
Tandai jika ada typo‼️
📍Rumah sakit Hermina, Bandung.
Abi Ahmad mempercepat langkahnya menyusuri lorong rumah sakit. Mendengar penjelasan Ustadz Abizar, Abi Ahmad sedikit tenang—setidaknya cucu semata wayangnya baik-baik saja.
Tanpa berlama-lama Abi Ahmad membuka pintu kamar rumah sakit terlihat ada tiga perempuan yang mengelilingi cucunya. "Siapa mereka?" Tanya Abi Ahmad dalam bahasa Arab.
"Mereka teman Fatin, Abi."Ujar Ustadz Abizar.
Abi Ahmad memberikan tatapan tajam pada Ustadz Abizar, padahal ia sudah mengatakan bahwa tidak ada yang boleh ikut ke rumah sakit entah siapapun itu.
Helaan nafas dari mulut Abi Ahmad sedikit kasar. Pandangannya tertuju pada perempuan yang tengah tertidur di atas brankar rumah sakit. Pikirannya kembali mengingat wajah seorang lelaki yang sudah berani melakukan kekerasan pada cucunya.
"Menyingkir lah." Ucap Abi Ahmad mengusir halus ketiga sahabat Fatih. Langkahnya perlahan mendekat pada Fatin. Tangan kanannya menyentuh wajah Fatin yang di penuhi oleh luka.
"Wajah kalian sangat mirip, Ali." Guman Abi Ahmad. Tanpa di sadari, air mata Abi Ahmad perlahan jatuh. Abi Ahmad mengalihkan pandangannya pada ketiga gadis di depannya. Terlihat dari wajah mereka yang berusaha menyembunyikan kesedihan.
"Sampaikan apa yang ingin kalian sampaikan. Karena setelah ini, kalian tidak akan pernah bertemu lagi dengan cucu saya." Ucap Abi Ahmad.
"M-maksudnya?" Karin nampak keliru untuk memahami ucapan Abi Ahmad.
"Saya akan membawa dia di tempat yang sangat jauh. Dia adalah cucu saya. Dan saya adalah kakek Zahra. Ahmad Rifal Hidayatullah." Jelas Abi Ahmad.
"Dimana tempat itu?"Tanya Fatimah.
"Taufiq. Antarkan mereka kembali ke pesantren lalu ambil semua barang Zahra di asramanya." Terlihat Abi Ahmad mengalihkan pembicaraan.
Ustadz Abizar mengangguk pelan. Dan mempersilahkan ketiga sahabat Fatin berjalan lebih dulu.
"Terima kasih. Saya sangat berterima kasih kepada kalian karena sudah menemani Zahra." Kata Abi Ahmad. Ketiga nya berhenti di ambang pintu lalu memutar tubuh mereka menatap Abi Ahmad.
"Apa kami tidak bisa bertemu nya lagi?" Tanya Karin.
Abi Ahmad tersenyum tipis. Melihat ketulusan mereka, ia sedikit kasihan. Bagaimanapun ketiga nya sudah menganggap Fatin seperti saudara. "Saya tidak bisa janji. Karena butuh waktu lama jika kalian ingin bertemu dia."
Fatimah menundukkan tubuhnya di hadapan Abi Ahmad. "Maaf. karena saya, Fatin menjadi seperti begini."
"Apa maksud kamu?" Abi Ahmad memandang Fatimah dengan tatapan sulit di artikan. Ucapan Fatimah membuat Abi Ahmad mengingat bagaimana Zahra di pukul habis-habisan oleh suaminya. Abi Ahmad memang belum mengetahui permasalahan cucunya.
Ustadz Abizar mengkode ketiga sahabat Fatin agar segera pergi dari sana. Ustadz Abizar sangat yakin bahwa jika mereka masih ada disini, ketiganya akan di interogasi habis-habisan oleh Abi Ahmad.
"Kalau begitu saya pamit dulu Abi, Assalamu'alaikum." Salam Ustadz Abizar, begitupun juga dengan ketiga gadis itu.
Sesampainya di parkiran rumah sakit. Ustadz Abizar menggepalkan kedua tangannya melihat orang yang baru saja turun dari mobil hitam tersebut.
KAMU SEDANG MEMBACA
GUS IDAMANKU
Roman pour AdolescentsDILARANG KERAS UNTUK PLAGIAT! ig:ftrvvva tt:ftrivvv Fatin Az-Zahra ketika beranjak di SMA negeri, fatin ingin bersekolah di tempat yang ia inginkan namun papa nya tidak mengizinkannya, rayuan demi rayuan yang ia berikan pada ayahnya, akhirnya ia di...
