Happy Reading
Jangan lupa vote ya teman-teman💐
Fatin berdiri di tengah-tengah sekitar asramanya. Saat dia sedang dilanda sedih yang mendalam, Fatin melihat orang-orang sibuk dengan kegiatannya masing-masing.
Dunia terasa runtuh
Tapi mengapa hanya dia?
Mengapa hanya dia yang merasa dunia terasa runtuh sementara orang lain tidak.
Ada kala dimana kita harus melepaskan seseorang yang dicintai demi mendapatkan kebahagiaan nya pada orang lain.
Benar kata Abdul Muthalib– Setiap cinta membutuhkan pengorbanan, jika kamu cinta dia maka tinggalkan lah.
Dan pada akhirnya pilihan terbaik dari setiap kejadian adalah menerima, memaafkan dan mengikhlaskan. Dan di hari ini, Fatin menerima pilihan suaminya yaitu kembali mengejar cintanya yang sempat tertunda karena pernikahan mereka.
Bila suatu saat nanti pernikahan mereka benar-benar selesai, Fatin akan pergi meninggalkan semuanya.
Fatin mendesah pelan, ucapan Gus Fatih kembali berputar di pikirannya.
"Kapan Gus akan melamar Fatimah?"
"Mungkin setelah ujian kalian selesai."
"Setelah saya sudah mendapatkan Fatimah sepenuhnya, kita akan berpisah secepatnya, Fatin."
"Jadi, tiga bulan lagi ya, Gus?" guman Fatin pelan.
Fatin menatap langit yang begitu silau karena cahaya matahari. Ia sedikit menutup matanya agar cahaya tidak begitu menusuk di indra penglihatannya.
"Tiga bulan lagi"
"Tiga bulan lagi, Gus Fatih akan mendapatkan cinta nya."
"Tiga bulan la–"
"Tiga bulan apa, Atin?" Tanya seseorang itu yang datang tiba-tiba.
Fatin menurunkan pandangannya lalu melirik sekilas seseorang yang datang entah dari mana.
"Ustadz Abizar?" Panggil Fatin sedikit terkejut.
"Kamu ngapain disini?" Tanya Ustadz Abizar.
Fatin menggeleng pelan,"Nggak ada Ustadz, saya cuma pengen lihat langit."
"Tapi disini panas, Atin. Mending di sana, lebih teduh." Ustadz Abizar menunjuk ke arah asrama Fatih.
"Hehe, syukron Ustadz!" Kata Fatin.
"Kamu nggak papa, kan?" pernyataan Ustadz Abizar membuat Fatin terdiam sejenak.
"Atin?" Lagi-lagi Ustadz Abizar memanggil Fatin untuk memastikan ucapannya tadi.
"Kamu–"
"Nggak papa kok Ustadz! Saya cuman kecapean," Sela Fatin cepat.
"Tapi mata kamu–"
"Saya pamit ke asrama dulu Ustadz, Assalamu'alaikum!"
Ustadz Abizar menghela nafasnya. Ia tahu bahwa Fatin sedang tidak baik-baik saja namun perempuan sangat tertutup padanya. Padahal di satu sisi Ustadz Abizar seringkali menanyakan keadaan Fatin bukan hanya semata-mata untuk dirinya saja melainkan juga untuk keluarga terdekatnya, Kyai Ahmad Rifal Hidayatullah alias kakek Fatin.
Fatin mempercepat langkahnya menuju kamar asramanya, terlihat dari jauh, Fatimah baru saja memasuki kamar mereka.
"Assalamu'alaikum," salam Fatin berjalan masuk kedalam.
KAMU SEDANG MEMBACA
GUS IDAMANKU
Teen FictionDILARANG KERAS UNTUK PLAGIAT! ig:ftrvvva tt:ftrivvv Fatin Az-Zahra ketika beranjak di SMA negeri, fatin ingin bersekolah di tempat yang ia inginkan namun papa nya tidak mengizinkannya, rayuan demi rayuan yang ia berikan pada ayahnya, akhirnya ia di...
