47

3K 114 32
                                        

Happy Reading

Bunyi seruan takbiran dini hari membuat mata pulas Fatin perlahan terbuka. Fatin berniat untuk berwudhu sebelum membangunkan Gus Fatih. Namun, langkah kakinya melemah ketika mendengar suara yang begitu samar-samar perlahan terdengar jelas di indra pendengarannya.

Fatimah

Fatimah

Fatimah

Ia melirik sekilas pada Gus Fatih. Fatin tersenyum kecut melihat suaminya yang tertidur sembari memanggil nama perempuan yang dia cintai selama bertahun-tahun.

Ya Allah. bolehkah Fatin cemburu?

Fatin kemudian mendekat pada Gus Fatih lalu perlahan membangunkan dari tidurnya.

Fatimah

Fatin menggoyang pelan tubuh Gus Fatih yang masih saja menyebut nama sahabatnya. "bangun, Gus"

"Gus"

"Gus Fatih bangun"

"Gus Fatih–"

"FATIMAH!" Gus Fatih tersentak. Ia terbangun dari tidur seperti ada yang mengagetkan dirinya. Tanpa aba aba Gus Fatih memeluk Fatin yang kini berada di depannya. "Fatimah" bahkan dalam pelukan yang erat, Gus Fatih masih memanggil nama orang yang ia cintai di depan istri yang mencintai-Nya.

"Istigfar Gus." Hanya sepatah kata yang bisa Fatin ucapkan.

Gus Fatih tersadar. Orang yang di dalam pelukan bukanlah Fatimah melainkan istrinya, Fatin Az-Zahra.

Perlahan pelukan yang erat kini terlepas, Gus Fatih memandang wajah Fatin yang tersenyum padanya. Di tengah-tengah ini, bukannya marah akan tetapi Fatin memberikan senyum tulus untuk Gus Fatih.

Karena Fatin tahu, sampai kapan pun cinta tulus Gus Fatih hanya untuk seseorang. Yaa, Seseorang itu adalah Fatimah, Fatimah Azizah Humairah.

"Sudah jam tiga, Gus. Sholat tahajjud dulu." Ajak Fatin. Ia meninggalkan Gus Fatin begitu saja.

Selang beberapa menit setelah sholat tahajjud. Fatin melipat mukenah lalu menyimpannya. "Mau kemana, Fatin?"Tanya Gus Fatih.

"Mau ke dapur." Jawab Fatin. Gus Fatih melirik jam dinding, waktu masih menunjukkan pukul tiga lewat beberapa menit saja, untuk apa istrinya ke dapur jam segini?

Bunyi takbiran kembali terdengar setelah beberapa menit terhenti. Gus Fatih baru teringat bahwa hari ini adalah hari raya idhul adha. Tanpa sepatah kata, Fatin meninggalkan Gus Fatih di dalam kamar.

Marah? Untuk apa lagi, Fatin sudah mengetahui bahwa dari awal dia sudah kalah.

Setibanya di dapur, Fatin mempercepat langkah karena Umi Hadijah dan mba Ningsih sudah sibuk dengan peralatan dapur. "Umi," Panggil Fatin..

"Mba Ningsih." sapa Fatin.

"Sudah tahajjud, nduk?" Tanya Hadijah yang sibuk menaburkan bumbu di atas wajan.

"Nggih Umi. Lagi masak apa, mi?" Tanya Fatin. Ia mengambil pisau untuk membantu Mba Ningsih menyiapkan bahan.

"opor ayam, nduk."

Allahuakbar

Allahuakbar

Adzan berkumandang membuat mereka terhenti sejenak. Ternyata mereka sudahh hampir selesai, tinggal dua menu saja yang sedang di masak oleh Umi Hadijah. Fatin dan mba Ningsih menyiapkan di meja besar untuk para keluarga Umi Hadijah yang akan datang.

GUS IDAMANKUTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang