Halo semuanya terimakasih🤗 sudah mampir ke cerita ini.Sebagai penulis baru mohon dukungan dan sarannya.👏👏👏🫶🫶🫶
Selamat membaca💛🧡❤️, dan jangan ragu untuk memberikan umpan balik. Dukungan kalian sangat berarti untuk pemula seperti saya.
🚨Disarankan untuk memutar Vidio lagu diatas atau memutar lagu yang kalian rasa cocok supaya lebih bisa meresapi suasana cerita🚨
🚧Saran untuk yang tidak bisa memutar video YouTube musik diatas :saat pertama kali masuk langsung scroll ke bawah langsung,diusahain yang cepet,setelah loading kedengeran suaranya baru scroll ke atas lagi tapi jangan sampai ngelewati judul,baru baca🚧
**Terima kasih,Salam Pena**
❤️😙😁😆❤️
*******∆*******
*🚨Peringatan konten sensitif, pembaca harap bijak dalam menanggapi🚨*
Di ruang bawah tanah yang dingin dan lembap.
Terdengar suara cambuk yang terus menggema, memecah kesunyian.
Tercium aroma darah yang menyengat, bercampur dengan dinding tua lemban yang tak pernah terkena sinar matahari. Setiap kali cambuk itu mendarat, suara daging yang tercabik menggema di antara dinding-dinding batu yang berlumut.
Isaac Howard berdiri tegap di tengah ruangan, tubuhnya tegak tanpa sedikit pun menunjukkan rasa sakit.
Wajahnya datar, tanpa ekspresi, seolah apa yang terjadi padanya hanyalah sekadar angin yang lewat.
Matanya terlihat kosong, sementara luka-luka di punggungnya terus mengalir darah segar. Namun tak berselang lama luka-luka itu mulai menutup dan sembuh dengan sendirinya.
Di belakangnya,Grand Duke —Callixt Howard, ayahnya. Mengayunkan cambuknya terus-menerus.
Meski usianya sudah setengah abad, tubuhnya tetap kokoh dan wajahnya tetap terlihat tampan. Di usianya yang tak lagi muda.
Wajahnya terlihat penuh kebencian, saat menatap anaknya sendiri yang terluka karna ulahnya.
"Dosa apa yang ku perbuat hingga monster sepertimu, harus lahir dalam keluargaku?"
"Kau adalah aib bagi nama besar Howard."
Isaac tetap tak bergeming, tak memberikan satu pun reaksi.
Setiap kata yang keluar dari mulut ayahnya, seperti angin lalu baginya. Kebencian ini sudah menjadi makanan sehari-hari baginya.
"Wanita yang paling kucintai, tewas karena dirimu!" teriak grand Duke Calixt dengan suara bergetarnya oleh kesedihan.
"Kau yang seharusnya mati. Seharusnya aku membunuhmu saat kau baru dilahirkan!!"
Luka lama di hati Isaac kembali terbuka mendengar kata-kata itu, tapi di luar, wajahnya tetap tak berubah.
Dia telah lama tenggelam dalam rasa bersalah atas kematian ibunya. Isaac tau dia harus menanggung semua itu selama sisa hidupnya.
"Kau, bukan putraku," katanya dengan dingin. "Kau adalah monster, yang tak pantas hidup di dunia ini. Kenapa kau tidak mati saja!!"
Isaac tetap diam,Sudah lama ia tak menganggap dirinya sebagai bagian dari keluarga ini. Nama Howard, yang seharusnya menjadi lambang kehormatan, kini tak lebih dari kenangan pahit.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Story Change (END)
RomanceNara, seorang gadis biasa yang begitu menyukai novel. Namun, setelah kelelahan akibat sakit yang dideritanya, Nara terbangun sebagai Daisy dalam dunia novel yang pernah dibacanya sebagai.Daisy, karakter yang bahkan tidak pernah disebutkan dalam ce...
