Setelah bergelut dengan pikirannya, Kina kembali masuk ke dalam kamarnya untuk mengecek keadaan Jiro. Perkataan Elkas benar–benar membuat kepalanya sakit.
Cklek
Laki–laki yang tengah berbaring di atas ranjang, sontak menoleh ke arah pintu. Terlihat Kina yang sedang kembali menutup pintu dan melangkah ke arahnya. Laki–laki itu tampak merekahkan senyumnya saat Kina mendudukkan dirinya di tepi ranjang.
"Kok bangun?"
"Lo sendiri kenapa gak tidur?" Jiro malah bertanya balik.
Jiro bergerak memposisikan dirinya menjadi duduk, dan dibantu oleh Kina. "Jangan banyak gerak." Omel Kina.
"Kin, gue cuma digebukin biasa doang. Gak sampe kayak orang mau mati. Tapi Kin..." Jiro menggantungkan ucapannya. Sedangkan Kina tampak menaikkan sebelah alisnya, menunggu Jiro melanjutkan ucapannya.
"Tapi, gue boleh minta tolong lo buat liat punggung gue gak Kin? soalnya kerasa nyeri dikit."
Memang tadi Elkas dan Kina hanya mengobati Jiro di bagian wajah saja, karena anak itu sedikit terpejam dan tidak mengatakan apa–apa soal sakit di badannya. Ah permintaan Jiro sekarang malah semakin membuat Kina khawatir. Kina menganggukkan kepalanya, menyetujui permintaan Jiro.
"Boleh, lepas aja bajunya." Kina membantu Jiro melepaskan atasannya. Kini posisi Kina ada di belakang tubuh laki–laki itu.
Matanya membelalak saat melihat punggung lebar itu dipenuhi luka memar yang menurut Kina cukup serius.
"Ini punggung lo memar semua, sakit gak?" tanya Kina.
"Nggak sakit, tapi nyeri sedikit." Bohong Jiro.
Kina geram karena Jiro berbohong, ia menekan punggung lelaki itu. "Serius, gak usah sok kuat lo. Gue tanya sakit gak?"
Jiro memekik saat Kina menekan–nekan punggungnya. "Iya iya, sakit woi!! jangan dipencet–pencet gitu!"
"Lo habis ngapain? jadi orang jangan kebanyakan tingkah kenapa sih." Kina menoyor kepala Jiro.
"Habis jadi pahlawan super," canda Jiro.
"Gue serius, gak lagi pengen bercanda." Ucap Kina serius.
"Iya–iya, gue gak tau tiba–tiba diserang dari belakang. Gak tau temen–temennya mukul gue pake tongkat apa, tadinya biasa aja gak sakit. Baru kerasa sekarang, makanya kebangun." Jelas Jiro.
Kina menghela nafas, sungguh kali ini ia khawatir dengan kondisi laki–laki ini. "Tunggu ya gue ke dapur dulu sebentar."
Jiro mengganggukkan kepalanya.
Tak lama Kina kembali dengan membawa es batu di wadah dan kain bersih. Ia meletakkannya di atas nakas, dan membuka laci nakas untuk mengambil salep serta obat pereda nyeri. Ia memberikan 1 kapsul pereda nyeri untuk Jiro minum. "Minum dulu, ini obat yang biasa gue minum kalo nyeri karena memar."
"Gue izin kompres dingin punggung lo ya? gue sempet konsul sama dokter lewat aplikasi, cara nanganin memar di rumah tanpa harus ke rumah sakit. Ini biasa gue lakuin kalo leher, tangan, kaki atau badan gue yang lainnya ada memar terus kerasa nyeri. Gue kompres dingin, minum paracetamol, sama nanti dioles salep."
Jiro menganggukkan kepalanya. Dan kembali membelakangi Kina.
Kina membungkus es batu dengan kain bersih, kemudian bergerak mengompres punggung laki–laki itu dengan perlahan. "Ji, harusnya lo gak perlu sebegitunya ngelakuin hal ini buat gue, sampe lo jadi kayak gini." Ucap Kina di sela–sela kegiatannya.
"Jangan larang gue buat ngelakuin hal yang bersangkutan sama lo, Kin. Dia bikin lo luka, gue harus cari sampe dapet dan bales perbuatannya. Meskipun dia gak sengaja, tapi dia gak ada niat tanggung jawab." Jiro masih membelakangi gadis itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
DANGEROUSLY | Jihoon Treasure
FanfictionPark Jihoon x OC ⚠️ no one exit door. "Once you get in here, you won't be able to get out. come and play with me. Lo cuma perlu terima gue, dan hidup sama gue, maka lo akan selamat, Kinara." [Sajiro Runggala] Disclaimer : harshword.‼️ 🔞 kekerasan⚠...
