41. Menyesal

2.2K 153 10
                                        

Beberapa hari kemudian Jiro disibukkan dengan banyak pekerjaan. Sampai dirinya lupa memperhatikan dirinya sendiri. Bahkan ia juga terkadang lupa memperhatikan Kina.

.
.
.
.

Setelah membuka gerbang Kina berlari masuk ke dalam rumah, ia melihat ada Jiro dan bi Ani yang sepertinya sedang berargumen, lebih tepatnya Jiro yang sedang memarahi bi Ani.

Jiro menghampiri Kina yang masih berdiri di ambang pintu. Jiro langsung menarik tangan gadis itu dan membawanya masuk ke dalam kamar Kina.

"Jiro lepasin, sakit!"

Jiro menghempaskan cengkramannya. Kina terus mengusap pergelangan tangannya.

Jiro memajukan langkah kakinya, mendekati Kina yang terus berjalan mundur sampai punggungnya menghantam sebuah lemari kayu yang ada di belakangnya.

"Makin berani lo keluar rumah ini tanpa izin gue?"

"Gue cuma ke depan doang kok, gak lama. Baru juga keluar 30 menit yang lalu kayaknya" sahut Kina.

"Lagi juga masih pagi, Jiro. Gue gak mungkin ganggu lo yang masih tidur." Sambung Kina.

"Udah mulai berani ngelawan gue lagi? gue bilang lo gak bisa keluar rumah ini tanpa izin gue. Lo tau kan kalo gue gak suka lo ngebantah ucapan gue, Kinara."

"Astaga, lo sebegitunya banget? toh lo liat sendiri deh gue juga tetep balik ke rumah ini kan?"

"Lo bisa berhenti ngelawan omongan gue gak," tangan Jiro bergerak mencekik leher Kina, ini membuat Kina mendadak kesulitan bernafas, karena cekikannya cukup kuat.

Kina memejamkan matanya, menahan sakit akibat perlakuan Jiro. Tangannya terus memukul bahu Jiro untuk melepaskan cekikannya.

"Ji— Jiro gue, iya gue minta maaf. Tolong lepasin, sakit..."

Jiro melepaskan cekikan pada leher Kina. Menunggu gadis itu memberikan penjelasan yang logis kepadanya.

"Jelasin, gak pake ngebohong," tukas Jiro.

Keduanya masih dengan posisi yang sama yaitu Kina bersandar pada lemari, dan Jiro berada tepat di hadapan Kina.

Kina berusaha meraup oksigen karena hampir kehabisan nafas akibat cekikan Jiro. Ia merasakan lehernya sangat panas karena cengkraman lelaki itu sangat kuat.

"Gue keluar karena udah izin sama bibi, dan itu juga cuma ke tukang sayur di depan komplek Jiro. Lo gak liat bawaan gue tadi? gue cuma mau beli bahan masakan, buat lo makan. Dan gue gak mungkin ke supermarket buat beli bahan makanan. Toh, ke depan sebentar aja gue udah hampir mati kayak gini, apalagi gue pergi jauh dari sini."

"Bibi bilang lo terlalu sibuk dan jarang makan, terus selalu gak mau makan masakan bibi, jawabannya karena lo bosen sama masakan beliau. Jadi, gue berinisiatif mau coba masakin lo, siapa tau lo bakalan ngerasain hasil masakan yang beda, dan nantinya lo bakal sering makan di rumah lagi."

"Siapa tau dengan lo makan masakan gue lidah lo jadi gak bosen dan ngerasain hasil yang beda dari tangan orang lain. Gue tau gue salah karena gak izin lo, gue tadi cek lo di kamar tapi lo masih tidur, bibi bilang lo habis begadang selesain kerjaan, dan gue gak mungkin ganggu waktu istirahat lo, dan gue pikir gue bakalan pulang sebelum lo bangun. Tapi ternyata salah, lo malah bangun lebih dulu dan gak nemuin gue di rumah ini."

Ucapan yang dilontarkan Kina cukup panjang dan membuat Jiro sedikit merasa bersalah.

"Gimana gue gak marah, gue udah capek sama kerjaan, kurang tidur juga, pas bangun buat liat lo, ternyata lo malah gak ada di sini. Lo gak pernah nurut sama omongan gue, lo selalu ngebantah ucapan gue, Kina."

DANGEROUSLY | Jihoon Treasure Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang