Park Jihoon x OC
⚠️ no one exit door.
"Once you get in here, you won't be able to get out.
come and play with me. Lo cuma perlu terima gue, dan hidup sama gue, maka lo akan selamat, Kinara." [Sajiro Runggala]
Disclaimer :
harshword.‼️
🔞
kekerasan⚠...
Disclaimer ⚠️ : chapter ini akan ada adegan kekerasan. So, if u're uncomfort. Leave on this chapter yaw
Okeyhappy reading🌹 . . . . .
Kina berlari ke suatu tempat langkah kakinya terhenti saat sepeda motor berhenti di hadapannya dan menawarkan dirinya tumpangan.
"Ojek mbak?" tawar pengendara motor NMAX yang mengaku sebagai tukang ojek dengan wajah tertutup menggunakan masker. Tanpa berpikir panjang Kina mengiyakan orang itu dan meminta di antar ke alamat kostnya.
Langit sudah gelap, perlahan turun rintikan gerimis yang sepertinya tidak akan berubah menjadi hujan.
Kina di turunkan di sebuah gedung terbengkalai. Ini bukan jalan menuju arah kostnya. Ia turun dari motor dan bertanya pada pria yang mengaku sebagai tukang ojek ini. "Mas? kenapa berhenti di sini ya?" ucapnya seraya mengedarkan pandangannya ke sekitar.
"Ini mbak, motor saya bannya bocor kayaknya deh." Ucapnya yang sekarang juga turun dari motor, dan memeriksa ban belakangnya. "Mbak tunggu di sini ya? saya cari tukang tambal ban dulu di sekitar sini. Sebentar aja kok, saya titip motor saya." Katanya sambil berlari meninggalkan Kina sendirian.
"Eh— mas tunggu" Kina mendengus kesal, ia duduk di bawah seraya melihat ke arah ban motor yang ada di depannya itu. Menyadari ada kejanggalan di situ, "mana bocor? gak ada apa–apa tuh? bannya juga gak kempes." Kina menekan nekan ban bagian belakang.
"Ah! ngibul apa ya ni orang." Dengusnya kesal. Ia memilih menunggu pria itu datang kembali daripada berspekulasi yang tidak–tidak pada orang itu.
Kina teringat tasnya yang tertinggal di mobil Jiro tadi, untungnya ia masih memakai slinbagnya, paling tidak dompet dan ponselnya aman ia bawa.
Menunggu sampai bosan, selama 1 jam lebih. Kina menutuskan berdiri dan akan meninggalkan sepeda motor itu di sana. Dirinya agak bergidik ngeri mengingat di belakangnya saat ini adalah gedung terbengkalai yang bahkan sedari tadi tidak ada orang lewat. Kina tidak takut dengan hantu, ia hanya takut pada orang jahat yang akan mencelakainya.
"Bodo amat gue tinggalin lo di sini! motor nyusahin." Tukasnya. Kina melangkahkan kakinya, belum 5 langkah ia mendapat serangan berupa pukulan di bagian belakang kepalanya.
"Argh!" pekiknya saat sebuah kayu panjang menyerang kepalanya. Pandangannya gelap dan seketika Kina tidak sadarkan diri.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kina meringis kesakitan, ia memegangi kepalanya yang terasa sakit. Pasca benturan saat kecelakaan di tambah pukulan mendadak tadi, membuat kepala Kina semakin sakit rasanya. Pandangannya teredar ke seluruh penjuru, berusaha mencerna dan mengamati di mana ia saat ini. Kina menyadari dirinya tidak sadarkan diri dalam posisi terduduk tadi. Kini, ia mengetahui bahwa dirinya ada di dalam gedung terbengkalai tempat ia menunggu tadi.
"Halo sayang, udah bangun?"
Kina membelalak, kepalanya semakin terasa sakit saat mengetahui siapa dalang di balik ini semua. Ia bahkan mendadak bisu dan tidak bisa menggerakkan mulutnya untuk berbicara. Kina menatap jijik orang yang sekarang sedang berjongkok di hadapannya. Laki–laki ini, Sajiro. Semuanya di luar pemikiran Kina.
"Kaget ya?" Tukas Jiro disertai seringaian.
Kina tidak menjawab, ia berusaha memulihkan rasa sakit di kepalanya dengan cara berdiam diri dan tak merespon apapun, Kina juga sedang mengumpulkan tenaganya untuk menyingkirkan Jiro dari hadapannya. Setelah merasa energinya cukup terkumpul, Kina mengambil sebuah box kosong yang ada di sebelahnya, dan melemparnya tepat ke arah wajah Jiro. Hal ini membuat Jiro kehilangan fokusnya, dan menjadi ajang Kina untuk kabur dari sana.
Kina berlari ke luar ruangan, ia menyalakan flash pada ponselnya karena keadaan gedung sangat gelap gulita. Ah benar, ini gedung terbengkalai. Bahkan terlihat baru 30% jadi, karena baru selesai pondasi dan hanya 2 lantai atas saja yang sudah di keramik, sedangkan 3 lantai ke bawah masih berupa alas atau tanah kasar yang belum terpasang keramik. Kina berjalan mencari tangga karena sudah pasti gedung tidak aktif tidak mempunyai lift.
"Brengsek, gimana bisa orang gila itu bawa gue sampe ke lantai 5?" Kina berlari tergesa–gesa hanya dengan bermodalkan flash dari ponselnya. Sampai tiba ia menemukan tangga dan menuruni anak tangga tersebut. Terdengar suara langkah kaki Jiro yang mengejar Kina, laki–laki itu sudah tidak diragukan lagi kecepatan kakinya. Namun Kina, lebih lincah dan cekatan dibanding Jiro. Meskipun kakinya pendek, Kina memiliki kemampuan berlari yang sangat cepat.
Tiba di lantai dua, Kina tidak memperhatikan anak tangga. Kakinya tergelincir dan ia terjatuh, terguling ke bawah. "Aww" ringisnya. Menatap ponselnya yang terlepas dari tangannya yang juga membuat Kina kehilangan pencahayaan karena cukup jauh jaraknya. Dikarenakan kaki Kina sakit akibat terguling, Kina sedikit merangkak untuk meraih ponselnya kembali.
Kina memekik keras saat Jiro menginjak tangan kanannya, bahkan ia tak segan menggesek-gesek tangan Kina. Perih, itu yang Kina rasakan. Pergerakan Jiro sangat cepat sekali, sampai Kina tidak sadar kehadirannya yang langsung menginjak tangannya.
"Sakit Jiro, lo gila ya!" Kina memukul-mukul kaki Jiro dengan tangan satunya.
"Gila karena lo, lagi pula ini pelajaran buat lo." Jiro semakin menekan kakinya pada tangan gadis itu.
Kina berusaha melepaskan tangannya yang tertahan, ia mendekatkan wajahnya pada kaki Jiro, dan menggigit betis laki–laki itu. Gigitannya cukup keras sehingga menembus celana jeans yang Jiro kenakan. Jiro reflek mengangkat kakinya saat merasakan gigitan Kina pada bagian betisnya. Pada kesempatan ini lah Kina bangkit meraih ponselnya dan berlari kembali. Ia berlari ke ujung lorong dan menemukan sebuah ruangan, ia masuk dan bersembunyi di balik tumpukan barang tak terpakai. Seraya dalam hatinya berdoa agar Jiro tidak menemukannya.
Dengan tangan gemetar, Kina membuka ponselnya dan mencari salah satu kontak di sana untuk ia mencari pertolongan. Kina merasakan gemetar yang sangat hebat, ini membuatnya sedikit kesulitan menggulir layar ponselnya.
. . . .
Jiro sendiri tak peduli dengan kesakitan kakinya, ia memilih kembali mengejar gadis pujaannya yang sudah lari lebih dahulu menghindarinya. "Kemana pun lo pergi, akan gue temuin."
Jiro berhenti sejenak, dan mengeluarkan senyuman devil-nya. "Lo gak akan bisa keluar dari sini, selain gue sendiri yang akan bawa lo keluar, Kinara."
. . . .
Kina menghubungi Juvi, namun tak kunjung mendapat jawaban dari sahabatnya itu. Pikirannya buntu, hanya Juvi saja yang terlintas dalam benaknya untuk ia pintai bantuan. "Jup ayo angkat dong," Kina meredamkan suaranya agar Jiro tak mendengarnya.
Keringat mengucur deras di wajahnya. Tak pernah terbayangkan kalau dirinya akan berada disituasi yang sekarang ia alami. Dengan tangan gemetar yang masih terus menekan panggilan yang ditujukan pada Juvi.
"Kenapa sayang? gak ada yang bisa nolongin lo ya?" Jiro merebut ponsel Kina secara paksa dan membanting ponsel tersebut. "Nggak ada gunanya lo minta bantuan ke orang."
"Jiro, anjing!" Teriak Kina saat melihat Jiro membanting ponselnya dengan keras, hingga menyebabkan ponsel itu hancur dan retak. Bahkan Jiro sengaja menginjak ponsel Kina agar ponsel itu semakin hancur.
Jiro menarik Kina untuk berdiri, Kina berusaha memberontak dan pergi dari sana, namun usahanya sia-sia karena Jiro lebih besar tenaganya dibandingkan dirinya. Kini Jiro berjalan maju, mendekati Kina yang berjalan mundur. Kina terus berjalan mundur sampai punggungnya menabrak tembok di belakangnya. Kini Kina berada di antara tembok dan tubuh kekar Jiro yang mengunci pergerakannya.
Mulai dari chapter ini dan beberapa chapter ke depan sepertinya akan ada banyak adegan kekerasan, yang akan aku tandai dengan (⚠️) so, kalian bisa skip kalo gak nyaman pas bacanya ya🫶🏻
kalo pake tanda 🔞 u know lah. 18+ yaa shay. Tapi aku jamin masih aman kok😂