"Jangan-jangan apa? Saya ingin menyentuh mu?" tanya pria itu dengan seringai yang tampak mengerikan.
"Jangan berani lo deketin gue! Kalau lo gak mau wajah mulus lo lecet," ancam Lisa yang sudah mulai memasang sikap kuda kuda, siap memukul pria itu jika dia macam macam pada Lisa si ratu bully sekolah ini.
"Ya ampun saya takut sekali!" jawab pria itu dengan ekspresi yang jelas sedang mencemooh Lisa.
"Ck, sialan kau om-om," ujar Lisa mengejek pria tampan di depannya ini.
"Sudah berapa kali saya bilang, saya tidak setua itu untuk di panggil om!" tegas pria itu sambil menatap miris pada Lisa, ia merasa kasihan pada anak yang sangat bodoh ini menurutnya.
"Dasar om bodoh," ejek Lisa berusaha mencakar wajah tampan pria itu.
"Jangan seperti itu!" perintahnya sambil memegang tangan mungil Lisa yang ingin mencakar wajahnya.
"Pergi dari sini sekarang juga," ujar Lisa pelan,namun penuh penekanan. Ia sedang malas meladeni pria didepan nya ini.
Pria itu menurut, ia segera pergi meninggalkan Lisa di balkon. Namun, ia tak benar-benar pergi, ia berada di belakang sebuah dinding untuk melihat apa yang di lakukan gadis yang sudah menarik perhatiannya ini.
Sementara itu, Lisa merasa sangat lelah karena telah meninggikan suaranya, hingga tanpa sadar bulir kristal bening jatuh dari pelupuk mata sang gadis. Lisa bukan anak cengeng, ia hanya merasa ingin menangis agar rasa lelahnya sedikit mereda.
"Hiks ... Hiks ... gue capek." Suara Lisa tampak lemah, namun masih bisa didengar oleh sang pria. Entah kenapa ada secercah rasa iba yang timbul di hatinya kala melihat Lisa menagis, ini seperti bukan dirinya sama sekali.
Pria itu pun segera menghampiri Lisa kembali dan lansung merangkul bahu kecil sang gadis. "Tenang, cerita 'kan masalah mu pelan-pelan. Aku akan mendengar lalu melupakannya." Ucapan pria tersebut sangat lembut, suara serak sang pria sanggup menjinakkan keliaran Lisa.
"A-aku lelah pada dunia ini, aku berharap ada dunia lain yang menampung orang orang seperti ku. " Ucap Lisa yang berada dalam dekapan pria itu , ia merasa sangat nyaman bersama pria ini, walaupun ia sendiri belum mengetahui nama nya, namun ada hal aneh yang membuat nya merasa aman.
"Ya anda benar, saya juga tidak menyukai dunia ini " Ucap Pria itu sambil menatap langit, Lisa yang melihat itu pun penasaran kenapa pria ini kalau berbicara tidak menatap nya , " Kenapa kau menatap langit, apakah ada yang aneh? "Tanya Lisa penasaran , " Aku merasa tenang saat menatap langit "jawab nya sambil masih menatap sang langit , " Kenapa? "Tanya gadis kepo itu lagi.
“Langit biru mengajakku bermimpi setinggi awan, mengajarkan ku bahwa setiap saat kita tidak sendirian, menikmati setiap pijakan, walau terkadang ada yang nama nya mendung " ucap pria itu sambil tersenyum manis, ia terlihat sangat mengagumi langit di atas saja, karya Tuhan memang tidak pernah gagal.
" Kenapa sudah tidak sedih, hm? " Tanya nya, ia berjalan ke arah ujung balkon sambil memandang ke arah ku, terpaan sinar matahari mengenai wajah nya , pria itu tersenyum pada ku mengulurkan tangan nya, Lisa dengan senang hati menyambut nya, perkataan pria tadi terus tergiang giang di pikiran Lisa, ia sekarang memahami maksud pria itu, sungguh luar biasa.
Lisa berlari ke arah pria itu dan menyambut uluran tangan kekar itu, mereka berdua berdiri di atas sebuah tangga sambil berpegang tangan, "jadilah seperti langit yang senantiasa memberikan kebahagiaan" Gumam Pria itu, mereka berdua merasakan sensasi menegangkan sekaligus menyenangkan saat berada di atas tangga itu..
***
"Lisa dimana ya, di Wc gak ada, di UKS juga gak ada " Ucap Kevin frustasi, sebentar lagi bel masuk akan berbunyi, anak anak yang lain sudah berada di kelas, tapi Lisa malah merayap kemana mana...
KAMU SEDANG MEMBACA
ANDREAN
Teen FictionJangan menilai sebelum membaca !! Typo bertebaran !! Follow dulu sebelum baca 🙏 Lisa adalah seorang gadis berusia 18 tahun, hidup bergelimpangan harta, bebas ke sana ke mari membuat nya jarang pulang ke rumah, orang tua nya yang melihat itu lanta...
