050

480 15 1
                                        

𝗝𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗹𝘂𝗽𝗮 𝘃𝗼𝘁𝗲 𝘀𝗲𝗯𝗲𝗹𝘂𝗺 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗮𝗰𝗮!
☆→★

" Kami sengaja ngelakuin itu semua biar kamu bahagia lagi, Lisa." Mary menyapu air mata yang terus mengalir turun dari mata indah sang putri.

" Kenapa, Ma? Kenapa kalian harus pisah. " Lisa mencengkram kuat roknya hingga kusut. Cobaan apalagi ini? Kenapa Tuhan selalu menguji hidup Lisa.

" Kamu pasti tau alasannya! 11 tahun lalu, gara-gara wanita jalang itu hidup kita hancur! " geram Mary. Wanita itu melayangkan sebuah pukulan keras disofa saking kesalnya.

" Wanita jalang? "

" Iya, Sintia si jalang itu! " Sial, Lisa benci jika ada yang menyebut nama wanita itu, karena kepalanya bisa mendadak pusing. Ingatan bodoh itu terasa sangat memuakkan bagi gadis itu.

Melihat sang putri menundukkan frustasi membuat Mary seketika sadar akan ucapannya yang salah. Wanita paruh baya itu mengelus punggung Lisa, berusaha memberi anak gadisnya ketenangan.

" Jangan terlalu dipikirkan, itu semua udah berlalu dan bukan salah kamu. Sekarang lebih baik kamu pulang, " ucapan sang Mama membuat Lisa kembali pada kenyataan pahit ini.

Lisa sangat benci pada wanita bernama Sintia itu. Dari dulu jalang sialan itu selalu menggoda ayahnya.

" Lisa mau disini aja nemenin Mama, " ucap Lisa sambil memeluk erat lengan sang mama.

" Lisa! Lebih baik sekarang kamu pulang. Mama ada beberapa pekerjaan yang harus diurus, jadi mama gak dirumah, sayang, " Mary kembali membelai rambut sang putri, menarik pelan tangan Lisa yang memeluk erat lengannya agar gadis itu segera pulang.

" Tapi Ma— "

" Sayang, Mama pergi dulu ya! Udah lambat ni, " potong Mary sambil menyambar sebuah tas dan beberapa dokumen.

" Kamu langsung pulang, ya? Mama pergi dulu. " Dengan langkah terburu-buru, Mary segera pergi dari hadapan Lisa hingga benar-benar hilang dibalik pintu.

' Lagi? '

Lisa berjalan keluar dari rumah dengan pandangan kosong. Ia menyuruh salah satu supir untuk mengantarnya pulang. Bayang-bayang kebersamaan mereka selama dirumah itu membuat Lisa kesal. Ternyata selama ini kedua orang itu menipunya dengan tingkah manis didepan, namun dibelakang?

***

Andrean sedang duduk dimeja kerjanya sambil membaca puluhan dokumen yang seakan tak ada habisnya itu.

Tangan kekar pria itu menarik asal kacamata yang bertengger di sekitar hidung dan matanya. Ia mengusap mata nya beberapa kali untuk mengurangi rasa perih akibat bergadang semalaman. Keadaan Andrean benar-benar kacau semenjak bertengkar dengan Lisa.

Tok ... tok ... tok.

Ketukan keras pada pintu membuat lamunan Andrean buyar.

"Masuk!" Pria itu kembali memakai kacamata petak kecilnya lalu kembali fokus memeriksa dokumen-dokumen yang ada.

" Permisi tuan! Maaf mengganggu waktu anda. Saya mendapatkan telepon dari tuan Andra Caesar Dirgantara," ujar Neon dengan kepala Tertunduk.

' Ayah Lisa? Hm, ada apa, ya? '

" Tuan Andra menyuruh saya untuk memberitahukan bahwa beliau dan istrinya akan bercerai hari ini. "

" Apa? Bagaimana mungkin?" pekiknya tidak percaya. Ia sebenarnya tak peduli pada perceraian itu, ia hanya peduli pada perasaan istri kecilnya saat ini.

" Neon! Pesankan tiket pesawat untuk saya sekarang juga! " perintah Andrean sembari membereskan beberapa dokumen lalu dimasukan kedalam tas.

" Tapi pekerjaannya— " ucapan Neon langsung disela oleh Andrean.

" Neon!"

"Baik tuan!" Neon mundur beberapa langkah sambil menundukan kepalanya. Jujur saja, ia merasa sangat takut saat Andrean melepas aura negatif aneh begitu.

"Sekarang akan lebih mudah. Aku hanya perlu pulang untuk ikut berduka dan menenangkan Lisa yang sedang sedih! Dengan begitu ia akan cepat memafkan ku, haha, " gumam Andrean tersenyum sinis.

Pria 31 tahun itu berjalan riang menuju kawasan apartemen elit milik perusahaannya.

***

Sudah malam hari. Sejak pulang dari rumah kedua orang tuanya, Lisa tak mau keluar sama sekali. Ia mengurung diri dan terus menangis seperti anak cengeng yang baru saja dibentak oleh orang dewasa.

" Mereka pasti bohong! Bohong!" Lisa mengigit boneka landak miliknya beberapa kali untuk melampiaskan semua gejolak kekesalan yang bersarang dihatinya.

" Nona Lisa! Tolong keluar nona! Makan dulu, nanti tuan marah!" teriakan para pelayan terus terdengar dari luar. Sejak tadi mereka terus berusaha membujuk Lisa agar mau makan barang beberapa sendok saja.

Mereka takut dipecat bila ketahuan Lisa tidak makan.

" Nona! Tolong makan Nona! Kami bisa dipecat kalau Nona tidak mau makan," ujar pelayan lesu.

Tiba-tiba kehadiran seorang pria tinggi kekar mengejutkan beberapa pelayan yang berada di luar kamar Lisa. Mereka buru-buru menundukkan kepala saat tuan besar mereka akhirnya pulang.

" Tuan! S-selamat datang kembali. "

" Bocah itu kenapa lagi?" tanya Andrean dengan wajah datar tentunya. Ia malas berbasa-basi dengan orang kecuali Lisa.

" Nona tidak mau makan, tuan, " jawab pelayan itu gugup.

" Berikan! " Andrean mengambil alih piring yang dipegang pelayan itu.

" Eh?"

" Kau boleh pergi! "

" Baik, saya permisi, tuan. " Selagi ada kesempatan, pelayan itu akan pergi secepatnya dari Andrean.

Tanpa babibu Andrean langsung membuka pintunya dengan sedikit kasar.

"Kurang ajar!" maki Lisa karena berpikir kalau itu adalah pelayan tadi.

Andrean masuk dengan senyuman angkuh khasnya. Ia ingin melihat wajah rapuh sang istri yang sangat ia rindukan selama ini.

Pertahanan Lisa Langsung bobol kala melihat wajah sang suami. Ia semakin menangis keras. Dengan tak tau malu nya ia berlari kearah Andrean, memeluknya erat hingga air mata dan hingusnya membasahi kemeja Andrean.

"Heh, dasar bocah cengeng! " cibir Andrean blak-blakan, namun tetap membalas pelukan Lisa sepenuh hati.

"Hiks ... hiks, Andrean! Mama, Andrean! Huaa .... " Lisa terus merengek sambil menangis keras.

Tangan kekar pria itu membelai penuh kasih rambut Lisa. Ia benar-benar gemas melihat wajah imut sang istri saat menangis.

"Sudah, sudah! Jangan menangis lagi! Aku akan selalu ada untuk mu. " Andrean menarik tengkuk gadis itu lalu sedikit berjongkok untuk mengecup pelan bibir Lisa.

Lisa yang diciumi begitu buru-buru menarik diri dari dekapan sang suami.

'Apaan sih! Aku kan masih marah sama dia! ' batin Lisa mengutuki kebodohannya. Seharusnya ia bersikap dingin dan cuek karena Andrean telah membuat Lisa marah, tapi sekarang kenapa sebaliknya?

Jangan lupa vote dan komen ya!

Jangan baca doang! Apa susahnya sih tekan bintang?

Btw thanks bagi yang udah vote! Vote-an kalianlah yang bikin aku semangat nulis.


ANDREANTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang