051

456 16 1
                                        

Membudayakan vote sebelum baca!
☆→★

Apaan sih! Aku kan masih marah sama dia! ' batin Lisa mengutuki kebodohannya. Seharusnya ia bersikap dingin dan cuek karena Andrean telah membuat Lisa marah, tapi sekarang kenapa sebaliknya?

Lisa berusaha keluar dari dekapan Andrean. Namun, pria itu langsung menahan pinggang Lisa, mencengkramnya kuat.

" Aww, sakit! " Lisa ingin mengumpati Andrean dengan kata-kata kasar. Namun, entah kenapa kali ini ia sedikit takut.

" Lepasin Andrean! Ini sakit! " Pria itu akhirnya melepaskan cengkraman saat melihat wajah kesakitan sang istri.

Andrean mendaratkan bokongnya diatas kasur lalu menepuk pelan pahanya, berusaha menyuruh Lisa duduk dipangkuan nya dengan cara baik-baik.

Lisa menatap manik mata elang itu ragu-ragu. Haruskah ia mendekat lalu duduk dipangkuan Andrean? Sedangkan tempo hari mereka bertengkar hebat ditelpon.

Melihat respon Lisa yang hanya diam, Andrean langsung menarik tangan Lisa hingga terduduk diatas pahanya. Andrean memindahkan beberapa anak rambut yang menghalangi mata Lisa.

" Kamu baik-baik saja 'kan? " tanya Andrean dengan suara lembut.

"A-aku? Emangnya aku kenapa? Gapapa kok." Pria itu menatap dalam wajah cantik Lisa. Ia dapat melihat sirat kekecewaan dan kesedihan di sana.

" Saya akan dengar semua cerita kamu! Gak ada gunanya juga kamu sembunyiin, karena saya udah tau semuanya! Saya mau dengar itu dari mulut kamu langsung, " ujar Andrean semakin mengeratkan pelukannya, seakan tak ingin kehilangan gadis itu sedetikpun.

Lisa kembali menunduk sendu. "Mama sama papa cerai! Ini semua salah aku. Mereka menderita bertahun-tahun karena gak mau aku sedih. A-aku—"
ucap Lisa dengan suara tertahan, tampak sedang berusaha menekan emosinya.

Andrean menarik sang istri kepelukannya. " Ini bukan salah kamu! Jangan pernah nyalahin diri sendiri."

Lisa memegang kepalanya yang terasa sakit. Ia merasa ingin terus menangis sampai air matanya habis. Namun, setiap kali menangis kepalanya akan langsung kesakitan.

" Sudah, sudah! Lebih baik kamu tidur. Aku akan mengurusnya untukmu." Andrean menggendong Lisa lalu dibawa ke ranjang. Menidurkannya pelan lalu segera berlalu dari ruangan itu.

Tangan kekar pria itu menari-nari diatas layar handphone untuk menelpon seseorang.

"Neon! Carikan semua hal tentang wanita bernama Sintia Aurora, " perintah Andrean dengan suara berat khasnya.

' Baik, tuan! '

"Kalau sudah langsung kirimkan padaku! " Andrean langsung memutuskan sambungan telepon mereka setelah mengatakan itu.

Pria itu kembali memasuki kamar, duduk di sofa untuk mengerjakan beberapa pekerjaan yang kian menggunung.

"Sial, ini terasa semakin banyak," gerutu Andrean. Ia kembali memfokuskan pikirannya agar bisa mengecek dokumen dengan jeli.

Andrean sesekali melirik Lisa yang sudah tertidur pulas setelah menangis. "Heh, dasar bocah!" gumam Andrean tersenyum tipis. Ucapannya tempo hari ia tarik kembali, karena ia merasa mulai tertarik pada sosok bar-bar seperti Lisa.

Sebuah notifikasi menarik seluruh atensi Andrean. Ia segera melihat e-mail yang dikirim oleh sang sekretaris pribadi.

"Akhirnya dia bisa bekerja cepat." Andrean begitu excited saat membaca informasi tentang Sintia yang begitu mencengangkan.

"Sintia mati bunuh diri." Andrean hampir tertawa saat membaca itu. Siapa yang menulis kebohongan ini?

Ia menatap Lisa dengan seringai. "Mereka tak tau apapun, Lisa!" gumam Andrean. Ia kembali mengggali informasi yang dikirimkan oleh Neon.

"Rumah terakhirnya dijalan Bulan 05. Hm ... sepertinya saya harus kesana besok. "

***
"Sudah kau urus masalah itu?" tanya seorang pria yang tak lain adalah Andrean.

"Aman, tuan! Semua sudah saya siapkan," jawab Neon tersenyum bangga. Hal itu semakin menjadi saat melihat seringai tipis terukir diwajah sempurna Andrean.

"Kita kesana sekarang!" Baru kali ini Neon melihat wajah tuan garangnya begitu excited.

" Tumben tuan kelihatan semangat. Ada apa? " tanya Neon memberanikan diri.

"Kau tau? Mata wanita bernama Sintia itu sedikit mirip dengan mata seseorang. " Kalau dugaan Andrean terbukti benar, maka sudah dipastikan ini akan sangat menguntungkan baginya.

' Aku sangat menantikan permainan intinya dimulai,' batin Andrean tersenyum puas.

Mobil mewah Andrean terus melanju hingga berhenti di sebuah rumah sederhana yang didominasi oleh warna biru laut menenangkan.

" Ini beneran rumahnya?" tanya Andrean memastikan.

"Benar, tuan!" Neon memutar kunci dilubang pintu untuk membukanya.

"Silahkan, tuan! "

***

Lisa menuruni terburu-buru dengan wajah kesal tentunya. Ia sangat kesal karena Andrean tak ada disampingnya saat ia bangun tidur.

Apa pria itu pergi lagi? Sialan memang!

" Selamat pagi, nona Lisa!" sapa Wendy dengan seragam khas pelayan.

" Iya, pagi!" Lisa berjalan malas ke arah meja untuk sarapan. Perutnya daritadi sudah berteriak meminta makan.

" Maaf, non. Nona kenapa pakai seragam sekolah?" tanya Wendy sambil menghidangkan beberapa menu ke piring Lisa.

"Hah? Mau sekolah lah. "

" Maaf, non! Tuan melarang nona sekolah hari ini," ujar Wendy gugup.

"Apa? Ngapain dia larang-larang gue! " pekik Lisa kesal. Ia tidak sadar kalau sekarang ia menakuti sang pelayan.

" Ini perintah tuan, nona. Saya hanya diperintah untuk menyampaikannya pada nona." Wendy pamit undur diri saat merasakan aura kesal dari Lisa.

Sang gadis kembali melahap makanan yang ada dipiringnya. Untuk kali ini ia akan mendengarkan Andrean, tapi jangan harap lain kali.

" Udah ngelarang orang sekolah dia malah enak-enakan keluar!" gerutu Lisa.


Jangan lupa vote dan komen!

Bab ini kependekan gak? Aku lagi males soalnya. Gatel banget ni tangan pengen buat cerita baru, padahal cerita lain belum juga selesai.

Kalau gak komen minimal vote lah! Susah amat kayaknya! Jangan jadi silent readers!

ANDREANTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang