' Ya! Kau jalang! Padahal aku belum sehari pergi tapi kau sudah! Ck, menyebalkan! '
" Maksud kamu apa, hah! Ngatain aku jalang? Punya masalah apa kamu! " teriak Lisa mulai tersulut emosi. Padahal dia tidak melakukan apapun tapi Andrean tiba-tiba menuduhnya.
' Heh! Dasar munafik! Kamu pikir saya gak tau apa yang kamu lakuin di belakang saya? '
" Emang aku ngelakuin apa? Perasaan gak ada apa-apa! " Lisa kembali mengingat ingat kejadian apa yang kira-kira membuat sang suami marah. Ia membekap mulut terkejut, jangan bilang Andrean sedang membahas masalah di depan mansion itu?
" Hean! Ini gak seperti yang kamu kira! Kami gak ngelakuin apapun, sumpah! " Suara sang gadis gemetar saking takutnya jika Andrean berpikir aneh-aneh.
' Oh, udah jadi kami, ya? Lucu banget sih, ' Andrean terkekeh pelan, padahal suaranya kelihatan sangat kesal.
" Maaf, Andrean! Ini gak seperti yang kamu lihat. Kejadian sebenarnya gak gitu. Dengerin penjelasan aku dulu ya, " lirih Lisa pelan.
' Gausah repot-repot. Saya gak buta Lisa! Saya bisa lihat dengan jelas kalian ciuman! Cih ... murahan! ' Emosi Lisa kembali naik kala mendengar ucapan sang suami yang sangat merendahkan harga dirinya.
" Kok kamu jadi ngatain aku terus sih? Gak jalang, murahan, nanti apalagi lonte? Katain terus! Gak peduli aku! " jerit Lisa sambil membanting ponsel ke kasur.
" Gausah sok marah! Kalau emang kamu gak kau dia gak bakal cium kamu! Kamunya aja yang gatal! '
" Apa? Dia gak cium aku! Kamu pekak apa gimana? Aku bilang dia gak cium aku! " bentak Lisa. Lama-lama ia bisa kehilangan akal sehatnya kalau terus begini.
' Dasar tukang selingkuh! Saya jijik sama kamu! Mulai sekarang gausah nelpon Saya lagi! '
" Terserah! Gak bakal aku telpon lagi seumur hidup! " Lisa langsung melemparkan benda pipih itu hingga pecah berkeping-keping.
Tangannya mencengkram kuat baju tidur dengan kepala tertuduk. Bulir bening kristal mulai mengalir dari pelupuk mata sang gadis, menggambarkan betapa kacau isi kepalanya saat ini.
Kuku kukunya yang panjang itu terus mencakar leher jenjang yang sekarang sudah berdarah akibat ulahnya sendiri. Perasaan ini, sama seperti 11 tahun lalu. Lisa marah dan ingin melampiaskan pada sesuatu.
Kakinya melangkah lemas menuju sebuah kaca besar di samping lemari.
"Andrean bodoh, ya? " tanya Lisa pada pantulan diri dari dalam cermin.
" Iya, Andrean bodoh! Dia menuduh mu sembarangan! "
" Heh, dia emang kurang akal! "
***
Sementara itu didunia lain, Andrean sedang duduk di kursi kerjanya sambil menatap layar monitor yang memperlihatkan kondisi kamar seorang gadis.
" Gadis bodoh! Baru digertak gitu aja udah nangis. " Andrean tersenyum miring lalu kembali menyesap alkoholnya.
Sang asisten yang melihat itu tentu saja khawatir, karena ini pertama kalinya seorang Andrean menyentuh minuman tidak baik itu.
" Sudah tuan, jangan minum lagi! Besok kita harus meeting dengan klien penting. Saya tidak mau tuan sakit, " ucap Neon berusaha menasehati ala kadarnya.
" Batalin! "
" Apa? "
" Tuli, ya? Saya bilang batalin! " bentak Andrean tanpa pikir panjang. Pikirannya benar-benar kacau karena masalah dengan sang istri.
" Tapi tuan— "
" Jangan membantah, Neon! "
" Baik tuan. Akan saya batalkan, " ucap Neon mulai terinmindasi oleh aura negatif yang terpancar dari Andrean.
Andrean mengambil ponselnya lalu mulai menelpon seseorang.
" Periksa kamar Lisa dan pastikan dia baik-baik saja! " perintah Andrean pada seseorang dari balik telepon nya.
' Baik tuan! '
***
Tok ... tok ... tok.
Pintu kamar Lisa terus diketuk keras dari luar. Sementara sang gadis tidak berniat membukanya sama sekali. Ia masih betah duduk diantara pecahan kaca yang membuat seluruh kaki dan pahanya berdarah.
" Nona Lisa! Ini saya Wendy. Tolong buka pintunya, nona! " teriak sang kepala pelayan. Ia benar-benar khawatir saat mendapat telepon dari Andrean. Bisa-bisa Ia langsung di pecat kalau Lisa terluka sedikit saja.
" Lisa! Tolong buka pintunya, ya? Ini perintah tuan Andrean! Jadi cepat buka, " sahut Rean selalu orang yang bertanggung jawab menjaga Lisa selama Andrean pergi.
Rahang Lisa berkedut saat mendengar nama pria sialan itu kembali disebutkan. Andai saja Andrean ada di depannya sekarang, sudah pasti Lisa akan memukul pria itu sampai puas.
Karena tak mendapatkan jawaban sama sekali, Rean terpaksa membuka kamar Lisa dengan kunci cadangan.
" Keluar! Kalian gak boleh masuk! " Lisa bangun lalu berusaha mendorong tubuh kekar Rean.
Namun, bukannya mundur, Rean malah langsung menarik tubuh Lisa ke kamar sebelah yang tidak ada barang barang berkaca.
" Lepasin! Pasti Andrean yang nyuruh lo ' kan? " Teriakan cempreng Lisa membuat Rean sakit telinga. Ia bergegas menarik Lisa ke kamar lalu menguncinya dari luar.
" Maaf nona! Ini semua perintah tuan Andrean, " ujar pria itu sebelum pamit pergi.
Lisa terus menggerutu kesal. Padahal tadi dia hampir saja tertidur, tapi sekarang malah terjaga gara-gara masalah ini.
' Awas lo Andrean! '
***
Sinar sang fajar kembali hadir, menerangi hidup suram manusia manusia yang hidup di bawahnya.
Lisa akhirnya terbangun setelah berjuang dengan rasa pusing dan perih mata akibat menangis.
" Argh! Pening banget kepala gue." Lisa memukul pelan kepalanya untuk meredakan pusingnya.
Sebuah notifikasi pesan menarik atensi sang gadis. Itu dari mamanya. Ada apa dengan wanita itu?
Mama ❤ :
Sayang!
Pulang sekolah nanti temenin mama kesuatu tempat, ya?
Mama sama papa mau ngomong serius sama kamu!
𝟶𝟶.𝟷𝟶
Anda :
Kemana, Ma?
Serius amat kayaknya.
𝟶𝟻.𝟺𝟷
" Yah! Mama c 1 tagi! " ucap Lisa resah. Entah kenapa perasaannya mulai tidak enak saat melihat kata ' Mama sama papa mau ngomong serius sama kamu! ' Entahlah, ini hanya pikiran gadis itu yang sedang kacau atau apa.
Sorry ya all, up nya kemalaman. Gak malam kali sih sebenarnya. Tapi semoga kalian suka ya.
Aku kayaknya mau namatin ni cerita setelah beberapa bab lagi. Please woi! Dah muak aku nulis ni!
Jangan lupa vote dan komen!
Vote jangan gak vote!
Btw, kalau kalian berkenan follow akun gw Yasares_ thanks!
KAMU SEDANG MEMBACA
ANDREAN
Teen FictionJangan menilai sebelum membaca !! Typo bertebaran !! Follow dulu sebelum baca 🙏 Lisa adalah seorang gadis berusia 18 tahun, hidup bergelimpangan harta, bebas ke sana ke mari membuat nya jarang pulang ke rumah, orang tua nya yang melihat itu lanta...
