040

489 15 5
                                        

Membudayakan vote sebelum membaca!
☆→★

" 8-5-7-2-2-1!! Akhh! Kok gak bisa sih!? Padahal ini udah bener! " Lisa mengacak-acak rambutnya frustasi. Penderitaan apa ini?

' Sekarang gimana caranya gue nelpon mama? ' batin Lisa merasa sangat frustasi.

Lisa terduduk lemas di lantai sambil memandangi ponselnya yang terkuci, ia ingin menangis sekencang mungkin, namun masih bisa ia tahan.

***

Sementara itu di kelas Lisa, keadaan sedang sangat ricuh akibat tidak datangnya guru untuk mengajar.

" Si Lisa tumben banget gak datang, kenapa ya? " tanya Kaizy sedikit khawatir pada keadaan sang sahabat, karena sejak balapan semalam, belum aja yang melihat penampakan Lisa.

"Mana gue tau! Dikurung palingan ama bokapnya, " balas Tiara santai dengan mata yang terus fokus pada gamenya.

" Kayaknya enggak deh. " Kaizy memegang dagunya, tampak berpikir keras. Gadis itu merasa Lisa pernah menyampaikan sesuatu yang sangat penting padanya, tapi apa ya?

" Engga gimana? Jelas jelas kemaren polisi itu bilang kalau Lisa udah dijemput sama walinya. Siapa lagi kalau bukan bokap nya? "

" Gue kayak merasa lupa sesuatu, tapi gue lupa apa? " Kaizy berusaha mengingat sekeras mungkin walaupun otak udangnya sedang ngeleg.

" Kenapa lagi lo? " tanya Ardell sambil menatap miris temannya satu ini.

" Ah! Gue baru ingat! " pekik Kaizy dengan suara toaknya , membuat yang lain reflek menutup telinga.

Ardell menjitak kesal kepala sang sahabat, " Lo mau Bikin kita semua budek ama suara toak lo! " Sang empu yang dimarahi begitu hanya tertawa pelan.

"Gue baru ingat hal yang penting ... buwagett, " ucap Kaizy segaja bertele-tele untuk membuat kedua sahabatnya penasaran dengan informasi yang akan gadis itu sampaikan.

" Ingat apa? Cepetan kasih tau gak! " Tiara dan Ardell tampak sangat penasaran, mana tau ada gosip baru 'kan? Mereka pasti gak mau ketinggalan dong.

" Jangan bahas dikelas! Kita ke rooftop aja? " usul Kaizy tampak lebih semangat dari sebelumnya.

" Gass! " jawab keduanya serentak.

Ketiga gadis primadona Sma Blue Sky itu berjalan pede menuju rooftop yang memang sudah menjadi basecamp abal-abal mereka sejak lama.

Sesampainya di sana. Tiara dan Ardell langsung menatap tajam Kaizy, tampak sedang mengkode agar Kaizy segera memberitahu informasi apa yang hanya Lisa sampai kan padanya.

"Jadi gini .... " Kaizy kembali menjeda ucapannya. Ia sangat menikmati ekspresi kesal sang sahabat.

"Cepet apaan! Gausah banyak drama, " tegur Tiara semakin emosi.

" Ya, ya. Jadi ... sebenernya, Lisa itu udah nikah! "

" Whatt! " Pekik kedua-nya tampak shok sekaligus tidak percaya.

" Lo gausah ngarang, Kai! Seorang Lisa? Nikah? Keknya gak mungkin deh, " timpal Ardell mewakili perasaan tidak percaya Tiara saat ini.

" Beneran kocak! Lisa bilang sendiri sama gue! "

" Gak mungkin! Gak mungkin! " jawab Tiara kukuh pada keyakinannya bahwa Lisa tidak mungkin menikah, apalagi di umur semuda ini.

" Kalau lo gak percaya nanya aja sama orang nya lansung! Orang gue jujur kok. "

***

Malam datang dengan cepat, membuat sang rembulan malam mulai menunjukkan cahayanya. Lisa duduk terdiam di lantai dalam keadaan kamar yang gelap gulita. Kalaupun ada cahaya, itu pasti cahaya bulan yang berhasil menembus gorden kamar.

Gadis itu duduk sambil menyembunyikan wajah di antara lutut, ia tidak berniat bangun sama sekali.

Ceklek ....

Sebuah tangan besar menghidupkan lampu kamar Lisa hingga terlihat lah sang empu yang sedang duduk sambil menyembunyikan wajahnya.

Tangan itu kembali mengunci pintu lalu berjalan pelan ke arah gadisnya. Tangan kekar nya bergerak mengelus pelan kepala Lisa.

" Udah lama nunggu saya, ya? " Mendengar suara mengerikan itu seketika membuat kesadaran Lisa kembali, ia menatap tajam sang suami dengan mata merah tajam.

" Sialan! B*ngsat lo! " Andrean berusaha sebisa mungkin untuk menghindari cakaran Lisa. Ia lupa kalau Lisa punya kebiasaan mencakar orang saat ia sedang kesal.

" Arghh ... mati aja lo! " teriak Lisa kesal sambil terus berusaha untuk mencakar wajah mulus milik Andrean.

" Hey! Berhenti ... berhenti! Aww. " Andrean mengusap kasar wajahnya  yang sudah berdarah akibat cakaran maut sang istri.

Setelah puas melampiaskan amarahnya, Lisa lansung berbaring dengan posisi telungkup.

" Lisa! Kamu nangis? " tanya Andrean sedikit ragu. Apa makhluk sejenis Lisa bisa menagis?

Andrean semakin panik kala mendengar isakan kecil dari Lisa, " Lisa! Kenapa nangis? " tanya pria itu pelan sambil berusaha menarik bahu Lisa agar menatapnya.

" Lepasin gue! Lo ngurung gue seharian! Lo pikir gue hewan, hah? " bentak Lisa diiringi tangisan keras. Andrean mematung ditempat melihat Lisa menangis keras karena ulahnya, ia tau ia salah, tapi ia melakukan ini demi kebaikan Lisa sendiri.

" Lo pikir gue gak sengsara apa lo kurung gini! "

Lisa lanjut marah-marah gak jelas, ia tanpa lelah terus memarahi dan mengatai Andrean dengan kata-kata kebun binatang nya. Andrean memilih diam dan mendengar daripada masalah semakin besar. Setelah Lisa diam, Andrean lansung menarik sang gadis ke pelukan hangat nya.

" Udah ya marah-marahnya. Gak cape apa marah-marah terus? "

" Tapi lo ngurung gue seharian! Hiks ... hiks. "

"Makanya jangan ngelawan kalau gak mau dihukum! Saya udah larang kamu keluar, kenapa masih keluar? " tanya Andrean lembut. Tangan kekar itu terus mengelus rambut istri kecilnya.

" Gue kan bosan, makanya gue keluar, " cicitnya pelan.

"Bosan, hm? " tanya Andrean lembut dan langsung mendapat anggukan dari Lisa.

" Berarti tiap malam saya harus nemenin kamu biar gak bosan ya? " Andrean terkekeh pelan melihat ekspresi Lisa yang seakan ingin protes.

" Omong-omong kapan kita malam pertama? " tanya Andrean lagi sambil tersenyum licik.

" Uhuk ... uhuk. Gausah ngaco aneh-aneh lo! " peringat Lisa menatap tajam manik mata elang sang suami.

" Aneh apanya? Kita kan udah nikah ... jadi udah sah kali. " Andrean dengan sengaja menoel pipi Lisa agar sanggadis menyetujui permintaannya

" Mimpi! "

" Mimpi yang bentar lagi jadi kenyataan. "

" Najis! Gua gak bakal mau sama lo! "

" Jadi kalau saya pengen gimana? Gak mungkin kan saya ngelakuin itu dengan gadis lain? "

" Itu 'kan masalah lo! Gue gak nafsu liat tu muka, " cibir Lisa terang-terangan.

" Yakin? " tanya Andrean sambil menyeringai pelan.

" Yaqin banget. "

Vote + komen dulu ya?

Sampe sini aja hari ni, soalnya bingung mau lanjut gimana.

Jangan lupa mampir ke cerita aku yang lainnya 🙏🏻
See you next time.

Follow dulu kali 😏 Yasares_

ANDREANTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang