052

507 14 0
                                        

Vote dulu dong! 🥰❤💋
☆→★

Andrean dan Neon mulai menjelajahi rumah mendiang Sintia dengan penuh hati-hati dan tidak meninggalkan jejak sedikit pun.

Andrean beberapa kali terbatuk karena debu yang memenuhi setiap inci ruangan, tampak tak pernah dibersihkan.

"Siapa pemilik rumah ini sekarang?" tanya Andrean.

"Tuan Andra telah membeli rumah ini sejak 11 tahu lalu, tuan!" ujar Neon.

Andrean kembali menelusuri sekitar, hingga atensinya terhenti pada sebuah bingkai foto usang yang tergeletak bebas di lantai.

Pria itu memperhatikan serius foto usang yang terdapat sebuah lubang di tengahnya. Disana terlihat wanita bernama Sintia sedang duduk di taman bersama seorang anak laki-laki yang kelihatan masih sangat kecil.

' Tanda lahir ini! ' batin Andrean dengan mata terbelalak. Tanda lahir itu juga ada pada seseorang yang sangat ia kenal, tapi ... apa mungkin?

"Neon! Selidiki tentang anak ini." Andrean melempar bingkai foto usang itu pada Neon.

" Baik tuan."

Andrean dan Neon masuk ke sebuah kamar yang diduga adalah kamar Sintia. Disana sangat bersih dan terawat, tidak seperti bagian lain rumah ini.

"Dasar jalang!" umpat Andrean tanpa sadar, karena melihat banyak gaun tidur tipis didalam lemari. Itu pasti dia gunakan untuk menggoda ayah Lisa.

***

Gadis bernama Lisa itu sedang berbaring telungkup sambil memainkan benda pipih miliknya. Tangan indah nan lentik itu terus menari-nari berselancar didunia maya.

Lama-kelamaan Lisa jengah sendiri. Ia merasa tidak ada yang menarik sama sekali.

"Kira-kira Andrean kemana, ya?" gumam Lisa dengan suara parau. Gadis itu melangkah malas kearah rak buku diujung kamar.

"Buset! Banyak bener bukunya," ujar Lisa. Ia terus memperhatikan deretan buku ilmu pengetahuan yang tersusun rapi disetiap rak. Buku-buku itu banyak didominasi oleh buku tentang filsafat dan psikologi.

"Fisiognomi, ilmu membaca wajah. Maksudnya?" Lisa yang penasaran pun langsung membuka buku itu sambil bersender di rak.

"Cara mengetahui seseorang yang sedang berbohong! Menarik!" Saking asiknya membaca, Lisa tanpa sadar menarik asal buku hingga membentuk sebuah pola. Pola yang sama yang pernah dibuat oleh Andrean tempo hari.

Rak buku itu tiba-tiba bergeser secara otomatis, membuat Lisa terjungkal kebelakang dan berakhir mencium lantai dingin.

"Arghh! Siapa tu!" Lisa menyapu pandang ke sekitarnya. Mungkinkah ada hantu iseng yang dengan sengaja membuatnya terjatuh?

Gadis itu segera bangun lalu mengusap hidungnya yang terasa seakan patah. Lisa menatap bingung ruangan gelap didepannya. Dengan gaya sok berani Lisa pun memantapkan diri untuk masuk.

Ruangan itu begitu gelap, terlihat sangat menyeramkan. Bau kayu cedar yang menenangkan memenuhi setiap inci ruangan, ini persis seperti bau Andrean.

"Curiga bukan manusia." Lisa terkekeh pada pemikirannya sendiri.

Kaki kecilnya terus menerobos kegelapan hingga tiba diruangan lain yang hanya diterangi oleh cahaya lampu redup. Disudut ruangan itu terdapat sebuah sofa kulit elegan, dihiasi oleh meja kecil dengan sekotak buku tebal serta remot kecil tertata rapi diatasnya. Disisi lain ruangan, terdapat sebuah meja putih porselen, tepat diatasnya, terlihat puluhan foto dan dokumen berserakan, menggambarkan betapa kacaunya keadaan didalam sini.

'Kok banyak banget foto gue, ya?' Lisa sangat terkejut kala menyadari puluhan foto berserakan itu ternyata fotonya, dari kecil hingga ia besar.

Lisa kembali menjelajah, tangan nakalnya kini mulai menyentuh remot kecil yang terdapat diatas meja. Tanpa ragu Lisa langsung menekan tombol biru berbentuk segitiga diantara banyaknya tombol, karena tombol itu yang paling menarik perhatiannya.

Ruangan yang awalannya hanya dihiasi oleh lampu redup tiba-tiba berubah terang. Bersamaan dengan itu, terlihat pula sebuah kaca yang menampilkan ruangan lain didalamnya.

"Wah .... " Lisa tanpa sadar menganga melihat isi ruangan itu dari balik kaca bening.

Didalam sana terdapat sebuah rak besi yang dilengkapi oleh puluhan senjata canggih yang belum pernah Lisa lihat sebelumnya. Diujung ruangan pula terpampang sebuah lemari kaca yang diisi oleh batu-batu berharga seperti berlian, ruby, safir, dan banyak lagi.

"Cantik banget, gila! Gue pengen batu safir biru yang imut itu!" Lisa menempelkan wajahnya dikaca, berusaha melihat lebih jelas batu biru didalam sana.

Batu kerajaan itu berkilau anggun, memancarkan aura kemewahan yang begitu kentara.

Tanpa pikir panjang Lisa langsung mencoba membuka gagang pintu untuk masuk keruangan itu. Namun, baru saja gadis itu menyentuh gagang pintu, tiba-tiba terdengar bunyi alarm bersamaan dengan suara benda tertutup.

"Apa-apaan ni? Kok ada alarm? Jangan-jangan ... sial!" Karena takut ketahuan, gadis itu langsung berlari keluar dari ruangan itu. Jantung Lisa semakin bertalu tak karuan kala menyadari kalau rak buku tadi sudah tertutup rapat.

"Kacau! Sekarang gimana caranya gue keluar? Kalau ketahuan Andrean bisa habis gue." Lisa mengacak-acak rambutnya frustasi.

***

"Saya sudah menemukannya, tuan." Neon menyodorkan tablet nya pada Andrean.

"Terima kasih!" Dalam hitungan detik, Andrean sudah berhasil membaca informasi penting itu.

Pria itu menyeringai tajam. 'Menarik. Bagaimana reaksi Lisa kalau dia tau ternyata memiliki saudara tiri?'

"Bawa semua barang yang udah kita kumpulin tadi, selidiki lebih lanjut," perintah Andrean tegas. Kaki jenjang pria itu melangkah tegas menuju mobil yang terparkir didepan rumah Sintia.

Setelah membereskan barang mendiang Sintia yang sekira penting, Neon akhirnya kembali masuk kedalam mobil yang sudah ada sang atasan didalamnya.

Mobil hitam itu segera melaju kencang, membelah jalanan kota yang sangat padat oleh lautan manusia.

Andrean membuka ponsel untuk mengecek keadaan Lisa dari CCTV yang terhubung langsung ke handphone pria itu.

Alisnya menukik tajam kala melihat rekaman Lisa masuk keruangan paling pribadi miliknya. Tangannya bergerak cepat untuk melihat CCTV yang memperlihatkan kondisi dalam ruangan tersembunyi itu.

"Sialan kau bocah! Beraninya dia masuk tanpa seizin ku! Kau harus dihukum agar tau diri, Lisa!" Andrean tersenyum licik saat melihat wajah panik Lisa yang tidak bisa keluar dari ruangannya.

"Bawa lebih cepat, Neon." perintah Andrean kembali ke wajah datar tentunya.

"Baik tuan!"

Jangan Vote dan Komen! 😘

Sorry banget ya, baru bisa update sekarang, karena emang gak ada ide sama sekali. Semoga kalian suka dan Vote ya.

Yang gak vote bukan manusia!

ANDREANTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang