Vote dulu gak!!
☆→★
Daripada mati penasaran, Lisa lebih memilih untuk pergi ke sekolah setelah mengobati beberapa luka di tubuh dan wajahnya.
Kaki jenjangnya melangkah mantap menuruni puluhan anak tangga.
" Eh, non Lisa udah bangun. Sarapan dulu, non! " ajak Wendy sambil tersenyum. Ia agak meringis melihat banyak luka goresan di tangan putih Lisa.
" Gausah Bik, Lisa makan di kantin aja nanti. Yaudah Lisa pergi dulu ya. "
Wajah datarnya berubah masam kala melihat kehadiran makhluk yang paling tidak ia harapkan.
" Ngapain lo kesini? " tanya sang gadis datar.
" Mau jemput lo lah. Yakali mau nenek lo. " Lisa hanya memasang wajah datar saat mendengar candaan garing pemuda itu.
" Nenek gue dah mati. Apa, naksir lo? "
" Sorry gue gak maksud ngingetin, " balas Dean sedikit tak enak hati.
" Santai aje kali. Gue aja gak sedih pas si tua serakah tu mati. "
" Oh ya, ayo gue antar! " ajak Dean sambil tersenyum manis. Senyuman yang membuat meleyot setengah sekolah itu tak berpengaruh sama sekali pada Lisa.
" Gak! "
" Kenapa? Gue gak kayak kemarin lagi, kok! Santai! " Dean tersenyum cengengesan saat mengingat kejadian kemarin. Ia sampai tak bisa tidur karena terlalu bersemangat.
" Pala lo putus kalau berani gitu lagi! " ancam Lisa dengan wajah datar. Dena hanya tersenyum lalu menyodorkan sebuah helm berwarna merah muda dengan gambar pita ungu janda di sekeliling nya.
" Norak banget warnanya. Gak! Gue gak mau pake." Memikirkan nya saja membuat Lisa jijik. Warna pink bukan Lisa sama sekali.
" Pake doang susah banget diatur ni cewek! " balas Dean kesal.
Lisa mengambil helm miliknya sendiri yang lebih manusiawi lalu mengenakan nya. Ia menatap CCTV sambil tersenyum miring.
' Sekalian aja gue bikin dia meledak, heh! ' batinnya sambil tersenyum jahat.
Ia mulai naik ke motor Dean lalu dengan sengaja memeluk pinggang pemuda itu. Ia ingin melihat sejauh mana sang suami akan bertindak saat melihatnya dengan pria lain.
' sangat menyenangkan! '
***
Tepat di sebuah rumah mewah dan indah, dihiasi oleh berbagai macam ornamen berharga ratusan juta yang tersebar di seluruh menjuru rumah. Lantai marmer berkilau semakin menambah kontras elegan dan menenangkan dalam kediaman Dirgantara.
Sepasang suami istri berusia lanjut sedang duduk di sofa sambil menikmati secangkir teh. Pembicaraan keduanya tampak sangat serius.
" Kamu serius kita bakal ngelakuinnya hari ini? " tanya Mary sedikit khawatir akan perasaan sang putri.
" Yakinlah. Kita gak bisa nunda lagi! Lagipula Lisa udah besar, dia pasti ngerti kalau kita jelasin baik-baik. " jawab Andra menimpali. Didepan mereka sudah terdapat berbagai macam dokumen yang sudah ditangani dan siap diserahkan pada pengadilan.
" Lisa pasti marah kalau tau kita ngebohongin dia selama ini. " Mary menunduk gelisah. Ia akan merasa hancur kalau Lisa membencinya karena masalah ini.
" Tenang aja! Kita udah bertahan selama 11 tahun ini cuma demi dia. Sekarang dia juga harus ngerti masalah kita. "
" Mungkin ada benarnya. Dia harus bisa bersikap dewasa! " ujarnya bertekad tak akan bersikap lemah saat berhadapan dengan sang putri nantinya.
" Udah kamu kabarin Lisa? " tanya Andra memastikan. Sebenarnya ia ingin menyembunyikan rahasia ini selamanya, tapi rasa muak ini membuat niatnya urung.
" Udah! Sepulang sekolah Lisa pasti kesini. "
" Yaudah, saya pergi dulu untuk mengantar dokumen ini. " Andra melenggang pergi sampai benar-benar hilang dibalik pintu.
' Semoga kamu gak kecewa sama mama, ya sayang? '
***
Lisa duduk sendirian di kantin sekolah sambil melahap nasi goreng yang sudah di pesannya.
Wajah lesunya terus menatap kedepan. Kosong, seperti pikirannya. Ia terus melahap nasi goreng itu sambil menatap ponsel yang terus berbunyi keras. Tak berniat mengangkatnya sama sekali.
" Ngapain sih dia nelpon gue terus? Ga cape apa? " Lisa mulai muak saat terus ditelpon oleh sang suami.
Katanya gak bakal nelpon lagi? Tapi sekarang?
"Arghh! ... stres gue lama-lama! " Nyerah deh! Mau tak mau akhirnya Lisa mengangkat telepon nya.
" Apa lagi, hah! " bentak Lisa setelah menggeser tombol hijau di layarnya.
' Kenapa baru angkat sekarang? Mau saya hancurin hape kamu? ' tanya Andrean dengan nada mengintimidasi.
" Apaan sih! Mau kamu? Kalau cuman mau marahin aku mending gausah nelpon deh! Muak banget dengernya, " balas Lisa kesal. Baru kali ini dia malas mendengar suara berat sang suami.
' Kamu ini emang gak bisa diperingati baik-baik, ya? Jangan salahin saya kalau saya pakai kekerasan nanti! ' peringatnya dengan suara tertahan. Hilang sudah sifat tenang Andrean yang selama ini ia bangga banggakan saat berurusan dengan si bocah kematian, Lisa.
" Kenapa lagi, hah? Kamu tu terlalu posesif! Sadar diri! Yang salah disini kamu, bukan aku! " jerit Lisa penuh amarah. Ia benar-benar akan gila kalau berbicara dengan Andrean lebih lama.
' Saya emang posesif. Seharusnya kamu bisa jaga diri, mudah banget dibonceng laki-laki, ' cibir Andrean terang-terangan.
Atmosfer disekitar kantin mulai memanas, membuat sebagian guru yang ingin menegur Lisa karena bolos menjadi ragu. Ini bukan waktu yang tepat untuk mendekati moster kecil bernama Lisa itu.
Pertengkaran keduanya terus berlanjut. Tak ada yang mau mengalah sama. Keduanya terus saling menyulut emosi masing-masing.
' Terserah kamu lah Lisa. Saya capek ngelarang orang kayak kamu. Silahkan kamu mau pergi dengan siapa aja, saya gak peduli, ' ujar Andrean dengan suara lelah setelah hampir setengah jam bertengkar dengan sang istri.
Ia ingin cepat cepat menyelesaikan urusannya dikota X lalu pulang untuk meluruskan masalah ini dan membalas si brengsek Dean.
Mendengar ucapan pasrah Andrean entah kenapa malah membuat Lisa tidak senang. Ia justru suka kalau Andrean bersikap posesif.
Panggilan diputus oleh Andrean dan hanya menyisakan layar hitam gelap di ponsel Lisa.
Air mata hampir jatuh namun langsung ditepis oleh gadis itu. Ia sangat mudah menangis jika bertengkar dengan orang yang ia sayangi. Mentalnya rapuh, ia butuh tempat bersandar yang nyaman.
Kepalanya ditarik lembut oleh seseorang hingga bersandar di bahu lebar pemuda itu. " Kalau ada masalah, lo bisa kok cerita sama gue. Tenang, gue bukan ember bocor! " ucapan lembut pemuda itu tidak membuat Lisa tenang sama sekali.
Tidak Tuhan, bukan dia yang Lisa inginkan. Lisa ingin Andrean. Ia ingin suaminya yang menenangkan nya bukan Dean.
" Gausah deketin gue lagi! Gara-gara lo, gue sama suami gue marahan. Gue benci sama lo, Dean! "
Jangan lupa vote dan komen.
Ini novel bentar lagi tamat, jadi jangan bosan tekan bintangnya☺
Kalau mood nanti malam aku up satu bab lagi. Jadi jangan lupa vote dan komen biar aku yang hobi writer block ini semangat!
KAMU SEDANG MEMBACA
ANDREAN
أدب المراهقينJangan menilai sebelum membaca !! Typo bertebaran !! Follow dulu sebelum baca 🙏 Lisa adalah seorang gadis berusia 18 tahun, hidup bergelimpangan harta, bebas ke sana ke mari membuat nya jarang pulang ke rumah, orang tua nya yang melihat itu lanta...
