Gak ada rencana Vote ni? 🗿
☆→★
" Kamu udah tau apa kesalahan kamu 'kan, Lisa? "
" Ya, Buk! Tapi saya gak peduli, " balas Lisa santai. Dari tatapan sang guru, Lisa menyadari kalau Andrean memiliki pengaruh besar terhadap sekolah itu, karena itu Lisa akan memanfaatkan nya sebaik mungkin.
Sang guru menghela nafas frustasi. " Kenapa kamu ngelakuin itu, Lisa? Kamu tau 'kan mencekik orang itu salah? Tapi— "
" Gak! Gak tau saya, " potong Lisa sambil tertawa mencemooh.
" Buk! Saya sebagai ibunya Gibran menuntut keadilan, Buk! " seru wanita paruh baya itu tegas.
" Apaan sih Buk! Orang anak ibuk yang salah, " cibir Lisa kesal. Alergi banget ngeliat emak-emak yang anaknya selalu gak pernah salah.
" Hey! Kamu gak punya sopan santun sama orang tua, ya? Gak di ajarin apa? Emang gini , ya, orang kaya. Sombong nya minta ampun, " sindir wanita tua itu sambil mengirim tatapan sinis pada Lisa.
" Pake ngatain gue segala. Emangnya situ sopan? " sindir Lisa.
" Ya jelas lah! "
" Ck ... anak sama emaknya sama aja. Sama-sama goblok, hahaha .... "
Andrean mendegus kesal melihat dua manusia ini bertengkar. " Udah Lisa! Gausah diladenin! Saya pusing dengarnya! "
" Kok aku yang disalahin? Salahin dia lah! " gerutu Lisa tak terima.
Tangan wanita paruh baya itu bergerak untuk menjambak rambut Lisa dari belakang. Namun, langsung ditahan oleh Andrean.
" Lepasin gak! "
" To the point aja. Ibu butuh berapa? " tanya Andrean malas berdebat terlalu lama. Apalagi dengan orang seperti itu.
" Butuh apa? Saya gak bisa disogok ya! " Wanita tua itu meninggikan suaranya, seolah tak berminat pada uang sama sekali.
' Cih, sok jual mahal, ' batin Lisa berdecak sebal.
Andrean mengeluarkan kartu namanya lalu menyerahkan pada wanita tua itu. " Ini kartu namanya saya. Saya yang akan membayar kompensasi pengobatan anak Ibuk! "
Mata wanita itu langsung berbinar. Ini sangat sesuai dengan rencana awalnya. " Terimakasih banyak tuan. Gibran ayo kita pulang! " ajak wanita itu sambil menarik kasar lengan sang putra.
" Tapi buk! Kita gak jadi tuntut mereka? " tanya Gibran bingung. Kenapa sang ibu tiba-tiba berubah? Padahal semalam yang paling semangat untuk menuntut pihak Lisa adalah sang ibu.
" Kamu jangan banyak tanya! Udah balik cepat! " bisik wanita itu dengan suara geram.
" Tuan, Buk, Lisa saya permisi dulu, ya? " pamitnya tanpa malu.
" Ck ... giliran dikasih duit pergi, lu! Dasar penjilat! " Lisa meniup poninya sambil memutar bola mata malas.
***
" Jadi kamu mau pergi sekarang? Besok aja gak bisa? " tanya Lisa sambil memainkan ujung jarinya. Ada perasaan tidak rela yang membuatnya enggan melepas kepergian sang suami. Terlebih saat mengetahui kalau sang suami akan pergi selama beberapa minggu karena ada urusan bisnis.
" Iya. Ada masalah di perusahaan saya yang ada di kota X, jadi saya harus kesana, " katanya Lembut.
" Pergi habis aku sekolah gak bisa? " Lisa bergelayuh manja di dada sang suami, enggan melepasnya. Ini seperti bukan Lisa sama sekali.
" Gak bisa, Lisa. Ini mendesak. Kamu ngertiin, ya. " Andrean membawa tubuh mungil sang istri agar semakin menempel padanya.
" Saya janji akan pulang secepatnya. "
KAMU SEDANG MEMBACA
ANDREAN
Novela JuvenilJangan menilai sebelum membaca !! Typo bertebaran !! Follow dulu sebelum baca 🙏 Lisa adalah seorang gadis berusia 18 tahun, hidup bergelimpangan harta, bebas ke sana ke mari membuat nya jarang pulang ke rumah, orang tua nya yang melihat itu lanta...
