Sore hari Faro terduduk di kursi rodanya di sebuah taman rumah sakit. Sebuah taman yang di kelilingi pohon palem dan juga beberapa tanaman hias yang berada disekelilingnya. Faro terduduk di atas kursi rodanya di atas rumput taman tersebut Ia mencari kontak di handphone nya, mencari nama seseorang yang sangat Ia rindukan. Seseorang yang menjadi alasan Ia untuk sembuh, seseorang yang sudah Ia janjikan bahwa Ia akan selalu melindungi nya. "Caca nya Pauli" kontak nama yang berhasil Ia temukan di handphone nya. Ia mengklik tombol berwarna hijau itu untuk menelpon nya. Sebuah kegiatan rutin yang selalu mereka lakukan meskipun isi dalam pembicaraan tersebut hanya sebuah guyon atau bahkan keributan yang tiada usainya, namun itulah cara mereka untuk melepas rasa rindunya. Elisa yang di panggil caca itu menceritakan apapun yang Ia lalui hari itu kepada Pauli. Begitu pun sebalik nya meskipun semua yang di ceritakan Paul hanyalah sebuah omong kosong karena pada kenyataannya Paul tidak ingin caca nya itu mengetahui tentang keadaannya yang sebenarnya. Bahkan saat Ia berada di atas kursi roda ini pun Elisa hanya tahu Paul sedang menonton Netflix di kamarnya.
"Lagian tumben banget lo nelpon gue jam segini." Tanya Caca.
"Ah iya tadi gue sibuk sekolah ca jadi baru sempet. (Sorry ca gue harus boongin lo gue ga mau bikin lo khawatir.)" Batin Paul.
"Hufhh yaudah deh terus apa ada yang mau lo ceritain? kan lo bisa besok aja ul nelpon gue nya ini ganggu tau ga udah ngantuk nih gue besok sekolah."
"Ck yaelah ca sabar dulu kenapa sih. Tau rasa lo nanti gue gaakan nelpon lo lagi lo kesepian gaada yang ganggu lagi."
"Yah bagus lah jadi gue bisa tidur nyenyak abis lo kalau nelpon malem mulu di indo nya ga pengertian banget sama sahabat sendiri heran."
"Haha yaudah yaudah lo lanjut tidur nya ca. Gue cuma mau bilang ...."
"Bilang apa ulll? malah berhenti ."
"Ngga gue cuma mau ingetin lo supaya lo bisa jaga diri, baik-baik disana kalau lo punya pacar lo harus cari cowo nya yang kaya gue yah ca WAJIB awas aja lo pacaran sama cowo berengsek." Jelas Paul.
"Dih lo yah kenapa harus kaya lo coba ul kalau kaya lo yah mending lo aja emng di dunia ini ada orang yang mirip 100% kan gaada ul."
"Yah ga mirip gue juga maksudnya tapi pokonya yang baik yang gaakan nyakitin lo udah titik."
"Dih iyaiyaa siap bule ku sayang."
"Yaudah sana tidur ca inget jaga diri lo dan tetep kangenin gue yah ca. Bye ."
Faro menutup telpon nya mungkin ini adalah telpon terakhir nya. Ia tidak ingin membuat Elisa sedih jika nanti Ia sudah pergi dari dunia ini. Setidak nya jika tidak sering berkomunikasi suatu saat jika memang Ia harus pergi meninggalkan dunia ini Elisa sudah terbiasa tanpa kehadiran nya. Pikir nya begitu.
Selesai menelpon sahabat nya itu Paul menatap wallpaper di layar handphone nya. Menyunggingkan senyuman tipis nya berharap seseorang yang Ia pandangi hanya dalam bentuk foto itu Ia akan terus bahagia disana. Tetesan air mata mulai membasahi pipi nya seketika tangis nya berhenti ketika mendengar suara teriakan dari seorang wanita di samping nya.
"Tuhaann.. kenapa harus mama yang kau ambil tuhan? Kenapa harus mama?" Tangis seorang wanita pecah di taman rumah sakit.
"Aku bahkan belum merasakan kasih sayang nya tuhan." Teriak wanita tersebut dengan rintih.
"Hey." Ucap Faro menghampiri wanita tersebut karena seperti nya wanita itu berasal dari Indonesia.
"Mau ini ga?" Ucap Faro memberikan coklat yang ada di sakunya. "Katanya coklat bisa bikin kita happy. Siapa tau kalau kamu makan coklat ini setidak nya kamu bisa merasakan manis nya rasa coklat walapun hidup kita lagi gak baik-baik aja." Ucap Faro memberikan senyumannya.
"Thanks." Ucap nya dan membuka coklat nya tersebut dan melahapnya.
"Hidup ku juga ga akan lama lagi. Mungkin nanti aku bisa ketemu mama kamu di surga. Tapi padahal aku masih mau merasakan hidup yang panjang, aku mau bertemu seseorang, aku mau menikah dan hidup bahagia." Ucap Faro. "Tapi takdir bikin aku sakit padahal aku juga ga mau sakit haha iyah mana ada juga kan orang yang mau sakit?" Ucap Faro dengan senyumnya. "Begitupun dengan mama kamu, mama kamu gaakan mau kalau dia harus pergi ninggalin kamu untuk selamanya tapi takdir yang buat mama kamu harus pergi." Lanjut Faro.
"Tapi kenapa harus aku? Aku bahkan dari kecil belum merasakan kasih sayang seorang ibu. Dan sekarang seorang ibu yang aku rindukan itu gaakan bisa aku peluk lagi bahkan aku udah gabisa mendapatkan perhatian nya lagi. Dan bahkan aku pun belum sempat membahagiakan nya." Ucap wanita tersebut dengan tangisnya.
Faro yang melihat wanita itu menangis mengingat kan nya dengan Elisa. Apa mungkin jika Ia pergi dari dunia ini Elisa akan menangis seperti yang di lakukan wanita dihadapan nya ini.
"Kamu masih bisa buat dia bahagia, dengan kamu hidup baik-baik saja itu sudah membuatnya tenang dan bahagia di surga. Tapi jika kamu menangis seperti ini pasti mama mu disana juga ikutan sedih. Begitupun dengan aku kalau aku sudah meninggal nanti aku akan bahagia di surga kalau orang yang aku sayangi hidup bahagia di dunia." Ucap Faro meyakinkan wanita tersebut.
Setelah mendengar ucapan pria di hadapannya entah mengapa Ia merasa tenang dan damai. Ia menghapus air mata nya dan memberikan senyuman kepada pria yang berhasil menghibur nya itu.
"Thanks yah." Ucap nya.
"Untuk?" Tanya Faro.
"Untuk semangat yang kamu kasih. Padahal aku tau kamu pun lagi ga baik-baik aja " balas wanita tersebut.
"Its okey. Nama kamu siapa?" Tanya Faro.
"Sabila, kamu?" Tanya Sabila.
"Faro." Jawab Faro dengan senyumannya.
Semenjak pertemuan pertama tersebut lah kedekatan Faro dan Sabila. Faro yang masih harus di rawat beberapa hari lagi di rumah sakit membuat Sabila sering mengunjungi nya. Sesekali Sabila menghibur Faro yang sudah menjadi temannya itu, memberikan semangat agar Ia sembuh. Saling cerita masa lalu mereka membuat Sabila mengetahui bagaimana sosok Faro sebenarnya. Sosok laki-laki penyayang dan humoris membuat Sabila merasa nyaman di dekatnya. Sampai akhir nya Sabila tahu tentang seseorang yang selalu Faro ceritakan itu. Sabila yakin seseorang itu adalah bahagia nya Faro, meskipun berlindung dari kata sahabat tapi Sabila yakin rasa yang Faro miliki melebihi dari sekedar sahabat.
Sampai akhirnya Sabila memutuskan untuk melanjutkan kuliah nya di Indonesia Ia berjanji untuk menjadi teman Elisa dan akan selalu memberikan kabar apapun tentang sahabatnya itu. Sebenarnya Sabila tidak ingin melakukan itu karena itu membuat nya harus jauh dari Faro, tapi melihat kondisi Faro yang sakit Sabila ingin membuat Faro lebih semangat lagi untuk sembuh dengan menjadi teman Elisa dan memberikan info tentang Elisa. Sabila tidak jujur ke Faro alasan Ia melanjutkan kuliah nya di Indonesia, Sabila hanya membertahu bahwa Ia ingin kuliah dan tinggal bersama nenek nya di Jakarta. Tanpa Sabila tahu Faro pun mulai nyaman berteman dengan nya Faro merasa memiliki teman curhat yang baik dan asik. Tapi demi pendidikan nya Faro ingin Sabila bisa sukses dan Faro mengikhlaskan kepergian Sabila dengan syarat Sabila harus sering mengabarinya.
To be continue.
Sabila cinta nya setulus itu, tapi bagaimana dengan Faro? Apa Faro benar mencintai Elisa seperti yang di pikirkan Sabila? Stay tune guys...
Jangan lupa tinggalin jejak kalian. Terimakasih selamat membaca.. 💜💙
KAMU SEDANG MEMBACA
Mengapa? (Completed)
Novela Juvenil" Aku bisa memilih untuk mencintai siapapun, tapi tuhan telah menciptakan takdir ku sendiri." Elisa Arumi Salsabil. " Mengapa harus ada kata sahabat di antara rasa yang tumbuh setiap harinya ca?" Pauli Adriansyah Faro. " Jika aku bisa memilih takdir...
