Reno menggenggam tangan Elisa segera membawa Elisa keluar dari kafe tersebut. Reno sangat marah kepada Bian hingga Reno berhasil membuat Bian terkulai lemas di atas taman tersebut. Reno akan meminta Daniel untuk mengurus bajingan itu. Reno terus menggenggam tangan Elisa namun Elisa mengeluh sakit di kakinya membuat Reno khawatir dan langsung mengecek kaki Elisa.
"Awsss." Rintih Elisa.
"Lo kenapa? Ada yang sakit?" Tanya Reno melihat Elisa.
"Kaki gue Ren." Jawab Elisa lirih.
Mendapatkan jawaban dari Elisa membuat Reno langsung menduduki Elisa di kursi kafe yang sudah sepi dan tutup itu. Ia melihat kaki Elisa ada darah yang mengalir. Reno melilit celana panjang Elisa dan melihat nya ada luka goresan yang lumayan besar akibat tergores paku saat Elisa hendak kabur. Reno langsung menggendong Elisa membawa nya ke mobil dan pergi ke rumah sakit.
"Ren hidung lo berdarah." Ucap Elisa ketika sudah berada di dalam mobil.
Reno langsung mengusap darah di hidung nya dengan tissue yang ada di mobilnya. "Gue gapapa ko, sekarang kita ke rumah sakit yah buat bersihin luka lo." Jelas Reno diangguki Elisa.
Reno menggendong Elisa kembali ketika sudah sampai rumah sakit. Luka Elisa yang dalam hingga mengharuskan untuk dijahit dengan beberapa jahitan.
Reno membasuh mukanya di kamar mandi sambil membersihkan darah di hidung nya. Reno benar-benar di penuhi amarah tadi saat memukuli Bian, Reno tidak terima dengan apa yang dilakukan Bian kepada Elisa. Reno sangat marah kepada Bian Hingga akhirnya Reno menyadari dengan perasaan yang dimilikinya kepadanya Elisa sekarang. Cinta? Yang jelas Reno tidak ingin melihat Elisa terluka, menangis, bahkan dekat dengan laki-laki lain.
Reno menghampiri Elisa di brangkar yang sudah selesai menjalani pengobatan tersebut.
"Ca sorry gue telat dateng nya tadi." Ucap Reno dengan nada rendah dengan kepala yang tertunduk Ia duduk di sebelah brangkar Elisa.
"Gapapa Ren gue bersyukur lo dateng tadi. Makasih yah." Ucap Elisa tersenyum.
"Lo diapain sama Bian? Lo di pegang-pegang sama dia?" Tanya Reno menatap Elisa tajam.
"Enggak Ren. Tadi Bian mau ngobrol sama gue cuma gue gamau, gue tinggalin dia ke gazebo karena mau nyusul lo taunya lo gaada disana terus ternyata Bian ngikutin gue dari belakang. Dia maksa mau ngobrol sama gue sampe akhir nya gue setuju. Tapi lagi-lagi dia maksa gue buat nerima dia. Karena gue capek dengan omongan dia gue pergi dan lari tapi malah jatoh terus kena paku yang nempel di kayu. Terus tadi Bian mau nolongin gue dia mau gendong gue. Tapi aman ko dia ga ngapa-ngapain gue." Jelas Elisa meyakinkan Reno.
"Sorry ca tadi gue lagi di ruangan Daniel lagi ada masalah di keuangan kafe jadi gue bantu dia. Gue ga liat jam kalau lo udah selesai. Maaf " ucap Reno menundukkan kepalanya.
Elisa memegang tangan Reno. "Lo ga salah ko Reno. Justru gue makasih banget sama lo karena lo selalu ada disaat gue lagi ga baik-baik aja. Thanks yah Ren." Ucap Elisa mengelus punggung tangan Reno.
"Ca.." hening sesaat. "Gue sayang lo ca, gue cinta sama lo, gue mau jagain lo kapan pun." Ucap Reno mengelus tangan Elisa yang berada di atas tangan sebelahnya. Sementara Elisa terkejut dengan apa yang Reno ucapkan.
"Ca gue serius, gue ga maksa lo untuk jadi pacar gue. Tapi gue mohon dalam keadaan apapun lo please hubungi gue. Gue gasuka lo kaya tadi ngadepin Bian sendirian." Jelas Reno masih dengan genggamannya.
Elisa tersenyum manis menatap Reno. Elisa meyakinkan dirinya bahwa apa yang Reno rasakan sama dengan apa yang Elisa rasakan selama ini. Jantung Elisa yang sering berdegup cepat ketika dekat dengan Reno dan juga Elisa merasa nyaman saat dekat Reno. "Gue juga sayang sama lo Ren." Jawab Elisa dengan tersenyum.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mengapa? (Completed)
Ficțiune adolescenți" Aku bisa memilih untuk mencintai siapapun, tapi tuhan telah menciptakan takdir ku sendiri." Elisa Arumi Salsabil. " Mengapa harus ada kata sahabat di antara rasa yang tumbuh setiap harinya ca?" Pauli Adriansyah Faro. " Jika aku bisa memilih takdir...
