Part 4

675 119 250
                                        

Keesokan harinya, Satya kembali mendatangi rumah Reyna untuk membicarakan maskawin. Sementara itu, Reyna masih murung di kamarnya, bahkan enggan menyentuh makanan. Kedua orang tuanya cemas, namun tetap berharap pernikahan nanti bisa membuat putri mereka berubah menjadi pribadi yang lebih baik.

Vivi masuk ke kamar adiknya, mencoba mencairkan suasana.
“Ekhem, heh bocil, udah dong. Jangan galau mulu,” katanya sambil menepuk bahu Reyna.

Reyna hanya menggerutu, “Kesel banget gue."

"Baru mau nikah aja udah murung kaya ayam mau mati.” ejek vivi.

“Satya mau kesini loh, mau nanya maskawin ke lu,” ujar Vivi.

“Dasar cari muka,” sahut Reyna ketus.

“Idih, siapa sih yang ngajarin lo jadi kayak gini?” kesal Vivi.

“Lagian, kenapa sih sibuk banget ngurusin hidup gue?” Reyna membalikkan badan, malas menatap kakaknya.

Vivi mendengus. “Yakin gak mau nikah sama Satya? Dia itu pangeran ganteng loh.”

“Apaan sih, jomblo ngenes begitu dibilang pangeran.” Reyna mencibir.

Vivi tersenyum kecil. “Agaknya adikku ini lupa masa kecilnya.”

“Maksudnya apa?” tanya Reyna penasaran.

“Cuma mau ngingetin, dulu kamu sayang banget sama ‘pangeran ganteng’ itu,” kata Vivi sebelum keluar kamar.

Reyna menatap pintu yang baru saja ditutup kakaknya. “Pangeran ganteng? Kok kedengeran familiar ya?” gumamnya.

Tak lama, Satya datang dan disambut hangat oleh Pak Ronal dan Bu Sania.
“Assalamualaikum, mah, pah,” sapa Satya sopan.

“Waalaikumsalam. Wah, calon mantu Mamah udah datang,” sahut Bu Sania riang.

Satya tersenyum. “Saya mau tanya langsung ke Reyna, kira-kira maskawin apa yang ia mau.”

“Pengertian banget, ya,” kata Bu Sania. “Padahal dia masih aja judes sama kamu.”

“Tidak apa-apa, Bu. Satya paham, butuh waktu untuk Reyna bisa menerima.”

Suara berat ayahnya menggema ke kamar, “Reyna, ayo keluar, atau Papah blokir kartu ATM kamu!”

“Ish, ngancem terus,” kesal Reyna, tapi akhirnya ia keluar.

“Hai, Rey,” sapa Satya ramah.

Reyna hanya mendengus, “Hmm.”

“Maaf ganggu, saya cuma mau tanya, apa mahar yang kamu mau?”

Reyna menjawab ketus, “Terserah Bapak aja.”

“Kalau perhiasan bagaimana?” tanya Satya.

Reyna sempat berpikir nakal, tapi akhirnya berkata, “Aku mau satu set perhiasan.”

“Yakin hanya itu?” Satya menegaskan.

“Iya, Pak. Satu set perhiasan aja.”

“Kalau begitu, mari kita ke toko perhiasan sekarang biar tidak mepet,” ajak Satya.

Reyna mendesah, lalu mengangguk. “Yaudah, aku siap-siap dulu.”

Mereka pun pergi memilih perhiasan. Akhirnya Reyna mendapat satu set yang indah. Ia heran, kenapa Satya mau mengabulkan permintaannya meski sikapnya begitu dingin. Setelah itu, Satya mengajak makan di restoran sebelum pulang.

---

Seminggu kemudian, hari pernikahan tiba. Tamu undangan memadati rumah. Reyna gelisah, sementara Satya terlihat tenang.

“Apa mempelai wanita sudah siap?” tanya penghulu.

“Siap, Pak,” jawab Reyna lirih.

“Kalau mempelai pria?”

“Siap, Pak,” sahut Satya mantap.

Dengan sekali tarikan napas, Satya mengucapkan ijab kabul. Para saksi serentak berkata, “Sah!”

Reyna menunduk. Hatinya masih berat, tapi kini statusnya resmi sebagai istri Satya.

Malam harinya, orang tua Reyna berpamitan.
“Satya, jaga dan sayangi Reyna ya,” pinta Bu Sania.

“Iya, Mah. Satya janji,” jawabnya.

Reyna masuk kamar bersama Satya, masih kikuk. Saat Satya keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk, Reyna tak kuasa menahan degup jantungnya. Ia mencoba menunduk, tapi matanya tetap melirik.

Satya menyadarinya dan tersenyum. “Dek, aku tahu kamu belum bisa terima aku sepenuhnya. Tapi aku akan selalu ada di sampingmu.”

Reyna terdiam, lalu mengangguk pelan. Malam itu, meski hatinya masih bimbang, ia merasa sedikit lebih tenang.

My teacher my husband-Telah TerbitTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang