53. Approved

840 32 19
                                        

Adalah benar.

Sesuatu yang berusaha ditutupi akan ketahuan juga pada akhirnya. Erys tidak tahu bagaimana kemudian mereka duduk bersama dengan Oma Kirana yang tampak
lemas tidak berbicara apapun.

Masalahnya adalah Erys tidak bisa berpikir, dirinya tidak tahu harus bagaimana merespons. Keadaan Eros juga tidak baik. Tapi Erys punya firasat kalau Eros akan membicarakan perasaannya sekarang. Dan Erys sangat khawatir. Tanggapan omanya, tanggapan Eros dan tanggapan semua orang.

Oma Kirana tampak menghela napasnya, "jelaskan." Pintanya dengan pelan. Suara Oma terdengar  sangat pelan tetapi menggelegar di tempat yang sepi seperti putusan yang menunggu untuk diberi tanggapan. "Orang tua kalian tahu?"

Eros yang sudah berdiri tegak menjawab dengan tenang. "Mereka tahu." Sangat berbeda dengan Eros yang emosional beberapa waktu lalu. "Eros sudah berbicara dengan Dada dan Bunda."

Kini Erys yang menatap Eros tidak menyangka. Sejak kapan? Dirinya tidak bisa berpikir lagi, semuanya serba mendadak dan baru. Ingin sekali Erys bertanya, tapi situasi tidak nyaman dan menegangkan ini tidak cocok.

"Apa kata mereka?" Kini Oma menatap Eros dengan tenang.

Eros mengalihkan pandangannya pada Erys, "It's all up to Erys." Jawab Eros pelan. Lalu kembali memandang Kirana. "Bagaimana menurut Oma?"

Sungguh Erys yang dipandang Eros hanya bisa membeku, tidak tahu harus apa. Yang ada di pikirannya sekarang adalah melarikan diri tetapi dia tentu tidak bisa dan tidak boleh.

Kirana tampak menghela napasnya, "kalian tahu hubungan kalian kan?"

Eros kembali yang menjawab, "Kami bersaudara. Second cousin. Dari perspektif Hukum dan Agama yang berlaku, hubungan antara sepupu dua kali adalah diperbolehkan—" Eros berbicara panjang kali lebar yang membuat Kirana menghela napas. Cucunya hanya berbicara padanya panjang kali lebar karena masalah percintaannya.

"Kamu cuma bicara panjang lebar sama oma karena Erys ya?" Kata Kirana lelah. Sungguh memiliki anak dan cucu yang sama-sama kurang ajar ini membuat Kirana pusing.

Erys menggelengkan kepalanya, akhirnya mengeluarkan suara. "Itu... Bukan kaya gitu maksud Kak Eros—"

"Oh kamu sama saja Erys? Kalian berdua..." Kirana menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Enggak sama." Erys membantah dengan cepat saat melihat wajah Omanya sudah pahit lagi.

"Oh kamu tidak mau dengan Eros?"

Haduh bukan itu. "Bukan itu Oma!" Erys ngegas karena sifat Omanya yang kemudian diturunkan pada sang Dada sudah muncul.

"Jadi kamu mau sama Eros?"

Erys menghela napasnya lalu mengangguk sendikit. "Aku rasa—" Kini pandangan Erys menatap Eros dengan tatapan yakin. "Ada rasa itu tumbuh pelan-pelan di hatiku." Jelasnya dengan pelan.

"Aku ngerasa sedih waktu Kak Eros sedih. Hati aku sakit waktu Kak Eros sakit. Menurut Oma, itu perasaan apa?" Tanya Erys pada sang oma.

Kini Kirana kembali menghela napas, "Kalian berdua... Oma gak tau mau bilang apa lagi." Tangan Kirana memijat-mijat keningnya yang pusing.

Erys berjalan menuju sang oma, "bukannya kita mau nikah besok juga oma," ujarnya dengan nada manja.

Kirana langsung menjewer telinga Erys sampai merah namun suara cucunya pertama kembali terdengar karena dia menganiaya Erys.

"Oma jangan." Eros menatap telinga Erys yang sedikit memerah sambil mengerutkan keningnya. "Merah."

Kini Oma Kirana menganga mendengar Eros yang sangat lebay. Tangannya langsung melepaskan jeweran yang dia yakini tidak menggunakan tenaga sama sekali. "Kamu..." Kirana hanya bisa mengelus dadanya.

Fall ApartCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang