[Botol Minum]
Jayden mengangguk, ia segera menjalankan mobilnya keluar dari halaman rumah Reyna. Sepanjang perjalanan Jayden hanya diam. Reyna yang tak suka keheningan mulai membuka suara.
"Kamu kenapa sih?"
Jayden diam.
"Jangan diam terus ih," rengek Reyna.
Jayden tetap diam.
"Aku ada salah ya? Kasih tau aku di mana salahnya."
Jayden diam, pandangannya tetap lurus ke depan.
"Jay, jangan cuekin aku hiks." Mulai terdengar isakan. Jayden menghela napas.
"Lihat papa kamu dek, hiks ga sayang sama mama, hiks ga sayang sama kalian."
Cit.
Mobil berhenti di lampu merah. Jayden menoleh ke arah Reyna yang sedang mengelus perutnya.
"Siapa yang bilang gitu?" Tanya Jayden tajam.
"Kamu cuekin aku, aku gak suka dicuekin, adek sama dedek juga gak suka dicuekin hua." Tangis Reyna pecah.
Jayden segera menarik Reyna ke dalam pelukannya. Walaupun tak bisa memeluk dengan leluasa. "Maaf," ucapnya.
Reyna melepas pelukannya. "Aku salah ya? Aku gatau salah aku di mana tolong kasih tau."
Jayden menatapnya datar. "Gitu aja masih nanya," cibirnya.
"Ada orang yang mau nyium cowo lain di depan suaminya sendiri." Sindir Jayden yang kembali menjalankan mobilnya
Reyna mengerti, ia segera mengusap air matanya. "Kamu cemburu ya?" goda Reyna. Raut wajahnya sekarang berubah menjadi jahil.
"Apaan sih?"
"Ih kamu cemburu." Reyna terkikik, "Cemburu tanda cinta, artinya kamu cinta sama aku."
"Siapa yang bilang gitu?" Tanya Jayden.
"Aku." Jawab Reyna polos sambil menunjuk dirinya sendiri
Jayden berdecak, mobilnya saat ini sudah berada di halaman rumah. Jayden turun lalu menurunkan koper Reyna.
Reyna setia mengikutinya di belakang. "Iya kan? Kamu cemburu."
"Kamu cinta sama aku yeay." Ucap Reyna sambil menuju pintu masuk rumah mereka.
"Ck! Diam."
"Gak bisa diam, wlee." Reyna menjulurkan lidahnya. Ia lalu berjalan mendahului Jayden dengan lompat-lompat kecil.
"Reyna jangan lompat-lompat." Jayden memberi peringatan, ia ngeri dengan perut Reyna.
"Ck! Iya-iya," Reyna berdecak kesal. Ia lalu membuka pintu rumah.
Jayden masuk, ia langsung duduk di sofa. Reyna datang dari dapur, ia membawakan air minum untuk Jayden.
Jayden meminumnya, sementara Reyna memperhatikan wajah Jayden lekat sambil senyum-senyum tak jelas.
"Kenapa?" Ujar Jayden sok sinis, padahal ia gugup ditatap sebegitu intensnya.
"Gak papa, aku seneng kamu udah cinta sama aku." Reyna menoel-noel pipi Jayden. Jayden menghempaskannya.
"Apaan sih?!"
"Jay ih, masih marah ya?" Reyna cemberut. Jayden diam.
"Jay..." Rengek Reyna. "Maafin aku," ucap Reyna lirih.
"Cium dulu."
"Hah?"
"Perlu diulang?" Tanya Jayden.
KAMU SEDANG MEMBACA
Accident
JugendliteraturReyna Faesya Airlangga, gadis manja yang hidup dalam limpahan kasih sayang, harus menghadapi kenyataan pahit ketika sebuah pesta mengubah segalanya. Hamil tanpa tahu pasti apa yang terjadi, dipaksa menikah dengan pria yang membencinya, dan terjebak...
