Hujan di hari libur. Suasana yang sangat mendukung untuk rebahan seperti Reyna saat ini. Ia rebahan di paha Jayden yang sedang memainkan game online.
Tangan Reyna pun tak tinggal diam, jarinya bergerak naik dan turun untuk men-scroll sosial media di ponselnya.
Hingga gerakannya terhenti saat melihat sesuatu yang menarik perhatiannya, sebuah video yang menampilkan seorang bayi yang terlelap sambil memeluk boneka beruang.
"Jay," panggil Reyna.
"Hm?" Sahut Jayden tanpa mengalihkan pandangan dari game-nya.
"Aku pengen ini." Ucap Reyna sambil menunjukkan layar ponselnya.
"Yaudah beli." Ucap Jayden enteng.
Seketika Reyna bangun dari rebahannya, ia menatap tajam Jayden. "Enak aja beli, jangan bilang kamu gak liat apa yang aku tunjukin."
Merasakan atmosfer yang berubah, Jayden menaruh poselnya lalu menatap Reyna yang sudah terbakar amarah. "Hehe gak liat, emang apaan sih?"
"Ah udahlah males." Ucap Reyna kesal lalu pergi meninggalkan Jayden sendirian.
Jayden menghela napas sambil menatap pintu yang tertutup, ia sebenarnya melihat dan tau apa yang di inginkan Reyna. Tapi Jayden belum bisa memberikannya dalam waktu dekat ini.
***
Satu bulan kemudian...
Reyna sedang mendekor sebuah kue ulang tahun di toko rotinya. Namun, saat ia mencium aroma krim perutnya serasa diaduk-aduk.
Karena tak tahan, Reyna segera berlari dan memuntahkan isi perutnya di kamar mandi. Setelah puas, ia keluar dengan berpegangan pada tembok karena sakit kepala menderanya dan membuatnya lemas.
Pandangannya perlahan menggelap, beruntungnya ada Naira, ia orang yang selalu membantu Reyna mengurus toko rotinya. Naira melihat Reyna dan menangkap tubuh Reyna sebelum jatuh membentur lantai.
Reyna membuka matanya perlahan, seketika aroma khas rumah sakit memenuhi indra penciumannya. Reyna mengerang memegangi kepalanya
"Alhamdulillah Ibu Reyna sudah sadar." Ucap Dokter yang menangani Reyna. "Masih pusing?"
"Udah mendingan Dok," jawab Reyna. "Saya kenapa ya akhir-akhir ini suka mual-mual? Tapi baru tadi saya mual sampai pusing dan pingsan."
Sang dokter tersenyum ramah, "Selamat ya bu, anda sedang mengandung, usianya saya perkirakan sekitar tiga minggu."
"S-saya hamil? Tiga minggu?" Tanya Reyna memastikan.
"Iya selamat, Bu. Saya akan meresepkan vitamin untuk ibu." Ucap dokter lalu keluar kemudian digantikan Naira yang tadi membawa Reyna ke rumah sakit.
"Rey, selamat ya. Gue udah denger dari dokter katanya lo hamil." Ucap Naira. "Gue tadi khawatir lihat lo tiba-tiba pingsan, jadi langsung gue bawa ke rumah sakit."
"Terimakasih ya, Nai." Ucap Reyna sambil mengelus perut ratanya.
"Maaf Rey, Gue udah nelpon Jayden tapi gak di angkat sama dia."
"Gak papa, nanti aku kasih tau dia sendiri aja." Balas Reyna. "Nai, tolong tebus vitamin aku di apotek, bisa?"
"Bisa dong, yaudah gue tebus dulu ya vitaminnya" Jawab Naira.
Reyna tak bisa menyembunyikan senyumannya, ia tersenyum haru sambil mengelus perutnya. la tak menyangka ada makhluk kecil yang tinggal di rahimnya.
"Sehat-sehat ya anak mama."
KAMU SEDANG MEMBACA
Accident
Teen FictionReyna Faesya Airlangga, gadis manja yang hidup dalam limpahan kasih sayang, harus menghadapi kenyataan pahit ketika sebuah pesta mengubah segalanya. Hamil tanpa tahu pasti apa yang terjadi, dipaksa menikah dengan pria yang membencinya, dan terjebak...
