Reyna duduk terdiam setelah selesai merapikan bahan-bahan untuk persediaan toko rotinya.
"Kenapa diem aja, Rey?" suara Naira memecah keheningan. Ia kini duduk di samping Reyna sambil mengunyah cokelat favoritnya.
"Gapapa kok. Kamu itu, makan cokelat terus. Nggak takut sakit gigi, Nai?"
Naira menggeleng cepat. "Ini semua gara-gara gue keseringan main sama keponakan kesayangan gue, si Selyn."
Reyna hanya tersenyum. Tak lama kemudian, suara bel di pintu masuk berbunyi.
"Mamaaa!" seru seorang anak kecil yang sedang digendong oleh seorang pria.
"Hai, sayang. Gimana sekolahnya hari ini? Senang?" Reyna menyambut lembut.
Saat ini Selyn sudah memasuki sekolah TK dengan rambut dikuncir dua Selyn mengangguk pelan dan menyandarkan kepala ke dada pria yang menggendongnya.
"Thanks ya, Steve. Udah mau jemput anak aku," ucap Reyna tulus.
Pria itu adalah Steve.
"Elah, nggak usah bilang makasih kayak sama siapa aja, kamu. Apasih yang nggak buat anak cantik kesayangan om. Iyakan Princess Selyn?"
Namun saat Steve menunduk, ia baru menyadari kalau Selyn telah tertidur di pelukannya.
"Tidur dia, Steve." kekeh Naira yang dilirik sekilas oleh Steve.
"Iya, dia tidur. Aku bawa ke kamar, atau sekalian bawa pulang aja?"
"Kamu bawa pulang ke rumah aku aja, ya. Di sana ada Evelin, tadi dia bilang nungguin Selyn pulang. Kalau di kamar sini takutnya berisik dan dia rewel."
"Oke, aku bawa pulang, ya."
"Hati-hati di jalan."
"Siap. Kalian jaga toko baik-baik, ya. Jangan ngomongin kegantengan aku mulu, suara kalian kedengeran sampai parkiran loh."
Tanpa menunggu balasan, Steve pun pergi. Reyna dan Naira hanya menggeleng melihat tingkahnya.
"Mau-maunya lo dari dulu punya sahabat kayak Steve, Rey. Setelah gue kenal dekat sama dia, ternyata emang kelakuannya suka kepedean begitu, ya."
"Takdir, Nai."
"Emang gitu dia kalau udah deket," sahut Reyna sambil tertawa kecil.
Sesaat kemudian, wajah Naira berubah serius. "Rey, lo nggak khawatir?"
"Khawatir? Soal apa?"
"Soal anak-anak lo."
Reyna mengernyit bingung. "Emangnya kenapa? Apa yang harus aku khawatirin?"
Sebelum Naira menjawab, tangisan bayi terdengar dari dalam kamar.
Bayi laki-laki berusia dua tahun itu menangis kencang hingga wajahnya memerah. Reyna segera masuk ke kamar, menggendong si kecil, dan menepuk-nepuk punggungnya pelan.
"Cup cup sayang. Maaf ya, Mama sama Tante Naira berisik. Tidur lagi ya?"
Tangisan itu pun mereda. Bayi itu kembali tertidur di gendongan Reyna, lalu diletakkan kembali ke box bayi.
Reyna kembali duduk.
"Maksud gue," lanjut Naira, "apa lo nggak khawatir suatu saat nanti anak-anak lo bakal nanyain soal papanya?"
"Aku bakal jelasin pelan-pelan. Aku yakin mereka bakal ngerti."
"Oke. Mungkin Selyn bisa ngerti karena lo punya foto dia sama Jayden. Tapi anak kedua lo? Dia bahkan nggak punya kenangan apapun soal papanya."
"Nai, ak-"
"Keberadaannya aja nggak pernah diketahui sama papanya sendiri, Rey."
Reyna terdiam. Naira benar. Bayi itu adalah anak keduanya bersama Jayden. Hadir di saat rumah tangga mereka telah berakhir. Lebih buruknya lagi, Reyna memang memilih untuk tidak memberi tahu Jayden soal kehamilan itu. Ia tahu, Jayden takkan pernah membiarkannya pergi jika tahu.
"Aku akan cari alasan buat itu, Nai."
Naira menggenggam tangan Reyna lembut. "Gue ngerti lo udah capek. Tapi gue juga takut, suatu hari nanti anak-anak lo bakal salah paham dan nyalahin lo."
"Aku harap kamu mau bantu aku buat jelasin ke mereka nanti, Nai."
"Tanpa lo minta pun, gue pasti bantu, Rey. Tapi boleh gue kasih saran?"
Reyna mengangguk.
"Gue tau lo belum bisa maafin Jayden-"
"Aku udah maafin dia. Tepat sebelum aku minta cerai."
"Kalau gitu, lo hebat. Lo kuat banget bisa jadi single parent. Tapi, Rey, anak-anak nggak peduli soal masalah orangtuanya. Mereka cuma pengen ngerasain kasih sayang dari kedua orangtuanya secara utuh."
"Maksud kamu?"
"Anak-anak itu butuh kehadiran sosok papa dan mama. Dan itu nggak bisa diganti. Lo boleh kasih seluruh hidup lo buat mereka, tapi tetap aja, mereka pasti akan merasa ada yang kurang."
Reyna menautkan jari-jarinya. Matanya menatap ke arah anak keduanya yang tidur lelap.
"Gue harap lo bisa sedikit nurunin ego lo demi anak-anak lo, Rey. Bukan sekarang, tapi nanti... selama masih ada waktu."
"Aku udah nyoba, Nai."
Mata Naira membesar. "Nyoba? Maksud lo nyoba hubungin Jayden?"
Reyna mengangguk pelan. "Aku sempat coba. Tapi dia udah ganti nomor, semua akun sosial medianya juga udah nggak ada."
"Lo serius? Dia ngilang gitu aja? Jangan-jangan..."
"Jangan-jangan apa, Nai?"
"Jangan-jangan dia beneran hilang ditelan bumi, Rey?" ucap Naira pelan. Sejak Reyna dan Jayden bercerai, Naira memang tak pernah lagi dengar kabar soal sepupunya itu. Bahkan om dan tante nya tidak memberitahu soal keberadaan Jayden.
"Sembarangan kamu! Nggak mungkin lah."
"Cie, yang masih takut kehilangan mantan."
"Bu-bukan begitu maksud aku! Bagaimanapun juga, Jayden itu papa dari anak-anak aku."
"Halah. Tapi serius Rey, dia ngilang gitu aja?"
Reyna menghela napas berat. "Iya."
"Tapi gue yakin satu hal."
"Apa?"
"Dia bakal kembali. Dan bakal ngacak-ngacak hidup lo lagi. Percaya deh."
"Dih, nggak jelas kamu."
"Pokoknya, saat itu datang, semua rencana lo bisa berantakan. Karena kehadiran Jayden, papa kandung mereka."
Deg.
Benarkah?
Siapkah Reyna kembali terusik oleh pria yang berkali-kali menghancurkan hidupnya?
Dan jika itu terjadi... bagaimana nasib anak-anaknya nanti?
Reyna terdiam, otaknya seolah penuh oleh pertanyaan-pertanyaan tanpa jawaban.
"Heh! Ngelamun aja. Itu Jean nangis lagi, pengen susu kali. Gue mau layanin pelanggan dulu ya, toko udah rame tuh. Lo ke kamar istirahat dulu gih."
Reyna tersentak sadar. Ia segera menggendong si kecil dan membawanya ke kamar.
Ia duduk di atas kasur, memeluk anaknya erat. "Selama kamu dan Kak Selyn ada di hidup Mama, Mama bahagia, sayang."
-
Jangan lupa vote & comment yaa!!
KAMU SEDANG MEMBACA
Accident
Fiksi RemajaReyna Faesya Airlangga, gadis manja yang hidup dalam limpahan kasih sayang, harus menghadapi kenyataan pahit ketika sebuah pesta mengubah segalanya. Hamil tanpa tahu pasti apa yang terjadi, dipaksa menikah dengan pria yang membencinya, dan terjebak...
