Accident | 45

1K 39 8
                                        

[Merelakan]

Jayden menghela napas berkali-kali demi meredakan rasa sesak di dadanya. Kepalanya terasa pening dan matanya memanas mendengar semua ucapan Steve.

Jayden terduduk, ia bersandar pada pohon. "Gue juga hancur, gue tau gue salah, gue selalu sia-siain dia, gue telat menyadari perasaan gue yang sebenarnya."

"Awalnya gue emang mau bales dendam sama lo, tapi ternyata gue sendiri yang kejebak, gue kejebak sama perasaan gue sendiri, gue kejebak sama permainan Yena. Gue sekarang hampir gila karena Papa Reyna nyuruh gue buat pisah sama Reyna dan gue gak mau."

Mereka berdua terdiam dengan pikirannya masing-masing.

Jayden bangkit," Steve, makasih udah merelakan Reyna buat gue. Dengan gak tau dirinya apa gue boleh minta satu hal lagi? Bantu gue ketemu Reyna, please gue kangen banget liat wajahnya."

"Kalo nanti Reyna tetap gak mau maafin gue, apa lo masih mau menerima Reyna? Gue Cuma percaya sama lo buat jagain Reyna, dengan begitu gue bisa mundur dengan tenang." Ucap Jayden setelah melakukan pertimbangan berkali-kali. la juga menahan rasa perih di hatinya ketika mengatakan itu.

Steve menatap Jayden, ia bisa melihat Jayden juga hancur seperti dirinya.

"Ayo ikut ke balkon kamar gue, Reyna biasanya duduk di balon kamarnya yang berhadapan sama balkon kamar gue." Ajak Steve karena ia tak mungkin membawa Jayden masuk ke rumah Reyna.

Jayden menerima ajakan Steve, ia mengikuti Steve ke rumahnya lalu masuk ke kamarnya.

Dari dalam kamar Steve, Jayden bisa melihat Reyna duduk di kursi dengan memeluk kedua lututnya yang menekuk. Matanya memejam dan wajahnya menghadap ke atas.

"Dia tidur?" Tanya Jayden.

"Enggak, dia emang suka mejamin mata begitu." Jawab Steve.

Jayden memberanikan diri keluar ke balkon, ia hampir menangis. Setelah sekian lama akhirnya ia bisa melihat wajah tenang Reyna.

"Reyna..." Panggil Jayden pelan seperti berbisik.

Tak disangka Reyna mendengar panggilan itu, ia membuka matanya perlahan lalu pandangannya jatuh ke arah Jayden yang berdiri di balkon kamar Steve.

"AAAA PERGI!"

"AKU BENCI SAMA KAMU!"

"PERGI!"

Reyna masih berteriak histeris ketika melihat Jayden.

Jayden cepat-cepat kembali masuk ke kamar Steve dengan mata memerah.

"Reyna takut liat gue, dia benci sama gue, dia nyuruh gue pergi, gue gak bisa maksa. Sekarang giliran lo, jagain dia ya? Bikin dia bahagia, bikin dia ceria lagi, bikin dia lupain kebrengsekan gue." Jayden mendongak menahan air mata yang hendak jatuh.

Jayden menepuk pundak Steve, "makasih udah bantu gue buat ngeliat Reyna, gue pergi dulu."

Setelah Jayden pergi, Steve juga pergi ke rumah Reyna. Melihat perempuan itu sudah tenang atau belum.

"Mama, Reyna ada di dalam?" Tanya Steve ketika melihat mama Renata menutup pintu kamar Reyna.

"Di balkon, temani ya? Mama mau masak dulu, soalnya Rendy lagi keluar. " Jawab Mama.

Steve lalu masuk dan langsung menuju balkon kamar Reyna. Kali ini bukan lutut di pelukannya, melainkan sebuah pigura foto.

"Hai." Sapa Steve lalu duduk di samping Reyna.

Reyna menoleh, ia hanya melayangkan senyumannya.

"Itu foto siapa?" Tanya Steve.

"Foto aku." Reyna menunjukan pigura yang ternyata berisi foto pernikahannya dengan Jayden.

AccidentTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang