[Rebutan ciki]
"Pulang ga lo?" Tanya Jevan pada Jayden yang sibuk memantul-mantulkan bola basket.
Ekstrakulikuler basket telah berakhir tiga puluh menit yang lalu, teman-teman mereka sudah pulang, sekolah juga sudah sepi tapi Jayden masih sibuk dengan bola basket di tangannya.
Sebenarnya, kelas dua belas sudah tidak wajib mengikuti ekstra, tetapi Jayden dan Jevan sendiri yang ingin ikut berlatih.
"Bentar." Respon Jayden, ia lalu membereskan alat-alat dan mengembalikannya ke tempat penyimpanan. Sementara Jevan setia menunggu di lapangan.
"Gue kemarin baru beli PS, mau main ga?" Tanya Jayden sembari menggendong tasnya.
"Lo taruh di mana? Rumah orang tua lo apa rumah lo?"
"Rumah gue." Jawab Jayden sambil berjalan menuju parkiran.
"Yaudah gue mampir rumah lo dulu," Ujar Jevan. Mereka lalu pulang dengan beriringan. Jayden mengendarai mobilnya dan Jevan mengendarai motornya.
Sesampainya di depan gerbang halaman rumah, mereka berhenti sebentar. Jayden melihat punggung Reyna baru saja masuk pintu rumah mereka.
Dari mana dia? Batin Jayden bertanya-tanya.
Jayden masuk bersama Jevan dan menemukan Reyna duduk di sofa dengan aneka ciki di pangkuannya.
"Perhatian banget sih, tau aja gue mau kesini." Celetuk Jevan lalu duduk dan merebut sebungkus ciki dari pangkuan Reyna.
"Ih itu punya aku." Ucap Reyna berusaha merebut cikinya kembali "Jay..." Rengek Reyna pada Jayden, berusaha mencari pembelaan.
Bukannya mendapat pembelaan, Reyna malah mendapat tatapan tajam dari Jayden, "Dari mana tadi?" Tanyanya.
"D-dari mini market depan." Jawab Reyna sedikit gugup.
"Beneran? Kok ga bilang?" Tanya Jayden menagih janji bahwa Reyna akan menghubunginya setiap akan pergi.
"K-kan Cuma mini market depan itu." Balas Reyna sambil cemberut karena melirik Jevan telah memakan cikinya "Punyaku..."
"Itu juga beli banyak buat apa? Inget janjinya ga boleh banyak-banyak makan ciki."
Reyna menundukkan kepalanya dan kedua tangannya saling memilin, persis seorang bocah yang dimarahi ibunya, "Maaf."
"Kasian dimarahin, makanya jangan pelit-pelit," Jevan menyeletuk ikut mengompori.
Jayden mengambil semua ciki di pangkuan Reyna hingga menyisakan sebungkus dan sisanya ia simpan di kulkas.
"Sehari cukup makan sebungkus aja." Ujar Jayden yang hanya bisa dituruti Reyna. "Iya Jay."
Reyna lalu tiduran di atas sofa sementara Jayden dan Jevan duduk di karpet bulu di bawah Reyna. Mereka mulai memainkan PS.
Tangan kiri Reyna memegang ponsel dan tangan kanannya digunakan untuk makan ciki, sesekali tangan kanannya terulur untuk menyuapi Jayden yang sibuk bermain.
Jevan berdecak melihatnya. Hanya sebentar karena ia memfokuskan diri pada gamenya.
"Aw!" Pekik Reyna karena jarinya digigit Jayden.
"Sorry, ga sengaja." Ujar Jayden lalu mengecupi jari Reyna beberapa kali. Jevan mendengus melihat itu.
Bermenit-menit berlalu, Jayden dan Jevan masih sibuk dengan gamenya, sementara Reyna bosan memainkan ponselnya.
Reyna lalu turun ikut duduk di samping Jayden dan menyandarkan kepalanya di pundak Jayden. Ikut menonton pertandingan Jayden dan Jevan.
"Sini aja." Jayden menepuk pahanya. Reyna menurut, ia duduk di pangkuan Jayden menghadap ke depan. Sedangkan Jayden memegang stik PS di atas perut Reyna, seperti memeluknya dari belakang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Accident
Teen FictionReyna Faesya Airlangga, gadis manja yang hidup dalam limpahan kasih sayang, harus menghadapi kenyataan pahit ketika sebuah pesta mengubah segalanya. Hamil tanpa tahu pasti apa yang terjadi, dipaksa menikah dengan pria yang membencinya, dan terjebak...
