Accident | 54

789 18 1
                                        

Suara berat Jayden yang baru tiba tak menggoyahkan Reyna yang masih berdiri memandangi putri kecil mereka yang tengah tertidur di box bayi.

"Sayang... maaf," ucap Jayden lirih.

Reyna dan Selyn kini sudah kembali ke rumah. Kata dokter, demam Selyn tidak parah cukup diberi obat dan dikompres jika suhu tubuhnya kembali naik.

Reyna merasakan Jayden duduk di samping tempat tidur, posisi mereka kini saling berhadapan.

"Bagaimana keadaannya?" tanya Jayden pelan.

Reyna menghela napas. "Nggak terlalu parah. Karena cepet dibawa ke rumah sakit."

Jayden tahu, nada Reyna mengandung sindiran yang halus namun tajam.

"Aku salah... maaf," ucap Jayden, mencoba menggenggam tangan istrinya.

Namun Reyna menepis genggamannya, berdiri, lalu berjalan keluar kamar. Jayden mencium kening Selyn sejenak, lalu buru-buru mengikuti istrinya menuruni tangga.

"Sayang..." panggil Jayden sambil meraih tangan Reyna.

Reyna berbalik. Ia kembali menepis pegangan Jayden.

Plak.

Sebuah tamparan mendarat di pipi kiri Jayden.

"Kalo semua kata maaf kamu aku terima, terus kapan kamu belajar jadi lebih baik, Jay?"

Jayden terdiam.

"Aku tahu aku salah. Tadi Saskia pinjam HP aku, katanya mau nelpon ibunya karena HP nya mati. Posisi aku waktu itu lagi pesen makanan di kasir. Demi Tuhan, aku nggak tahu kalau kamu nelpon berkali-kali."

"Aku panik, Jay! AKU TAKUT ANAK AKU KENAPA-KENAPA! KAMU NGERTI NGGAK!

"Sayang, tenang dulu. Kam-"

"Aku cuma minta kamu selalu ada buat keluarga kamu. Terutama buat anak kamu. Aku nggak peduli seberapa intens hubungan kamu sama sekretaris kamu itu. Bahkan aku nggak peduli kalau kalian punya hubungan khusus!"

"Apa sih maksud kamu? Tuduhan kamu itu nggak bener! Saskia sempat bilang soal telpon kamu, tapi dia telat ngasih tahu karena lupa."

Reyna tertawa miris. "Dan kamu percaya gitu aja?"

Jayden mengernyit. "Maksud kamu?"

"Dia lupa atau pura-pura lupa?"

Jayden terdiam, berpikir. "Mungkin emang lupa, Sayang. Namanya juga manusia. Lagian salah aku juga nggak ngecek HP setelah itu."

Reyna mengangguk pelan, senyumnya getir.

"Kamu suka sama dia?"

Jayden memandang Reyna, bingung. "Sumpah, aku nggak ngerti kenapa kamu bisa ngomong kayak gitu."

"Atau kalian saling suka?" tanya Reyna lagi, tatapannya tajam.

"Say-"

"Atau hubungan kalian udah lebih dari sekadar perasaan suka?"

Jayden mulai gelisah.

"Atau dia lebih bisa memuaskan kamu di ranjang dibanding aku?"

"CUKUP!" bentak Jayden dengan nada tinggi.

Tapi Reyna justru tersenyum sinis melihat tangannya yang mengepal.

"Ucapan lo kelewatan, Reyna! Gue tahu lo marah, bahkan kecewa sama gue. Tapi apa harus lo nuduh gue sebegitunya?"

"Udah berapa kali gue bilang, gue cuma cinta sama lo! Lo masih gak paham?!"

"Aku paham, kok. Tapi apa artinya cinta kalau kejujuran aja udah nggak ada di dalamnya? Masih bisa kamu sebut itu cinta, Jay?"

AccidentTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang