Sinar matahari pagi mulai memasuki kamar saat gordennya dibuka. Sinarnya menyorot, mengganggu seseorang laki-laki yang sedang tidur.
"Morning." Reyna menyapa suaminya yang terbangun karena ulahnya.
"Morning sayang," balas Jayden lalu merentangkan kedua tangannya.
Reyna yang mengerti, segera mendekati Jayden. Perempuan yang hanya mengenakan kaos yang terlihat kebesaran milik suaminya hingga menutupi setengah pahanya itu segera menyeruak masuk ke pelukan sang suami yang bertelanjang dada.
"Bangun ya, aku udah siapin sarapan." Ucap Reyna. Jayden membalasnya dengan gumaman.
"Udah mandi?" Tanya Jayden.
Reyna menjauhkan wajahnya, kedua tangannya bertumpu pada dada bidang Jayden. Sedangkan tubuhnya berada di atas tubuh Jayden.
"Udah, ini tinggal ganti," jawab Reyna.
"Yah." Jayden mendesah kecewa.
"Kenapa?"
"Padahal aku pengen mandi bareng." Balas Jayden membuat kedua pipi Reyna bersemu.
"A-apaan sih?" Reyna melepaskan diri dari pelukan Jayden. Ia lalu pergi ke luar kamar. "Cepetan mandi," seru Reyna dari luar kamar.
"Iya sayang."
Jayden segera bangkit dan masuk ke kamar mandi untuk mandi. Sembari menunggu Jayden mandi, Reyna masuk ke dalam walk in closet untuk berganti pakaian, sekalian mempersiapkan pakaian untuk Jayden.
Reyna menaruh keperluan Jayden di atas ranjang. la memperhatikan pintu kamar mandi yang tertutup, terdengar gemercik air dan sesekali terdengar nyanyian Jayden.
Setelah itu, Reyna turun ke bawah menuju meja makan. Ia menatap makanan yang sudah ia tata.
Tiba-tiba sepasang tangan melingkari perutnya, disusul dengan kecupan ringan di pipi kanan Reyna.
Reyna berbalik menatap Jayden lalu mengalungkan kedua tangannya di leher Jayden. "Kaget tau," rajuknya dengan bibir mengerucut.
Terdengar kekehan dari Jayden. "Morning kiss?" ucapnya.
"Gak mau." Tolak Reyna, "Ayo sarapan, nanti kamu telat."
"Kiss dulu," pinta Jayden sambil mengeratkan pelukannya pada pinggang Reyna.
Menghela napas pasrah, Reyna mulai mendekatkan wajahnya, hingga bibir keduanya pun bertemu. Reyna berniat melepasnya. Namun, tengkuknya ditahan Jayden. Hingga akhirnya Reyna pasrah menerima ciuman Jayden.
"Kamu, ih." Keluh Reyna dengan napas terengah.
Jayden terkekeh melihatnya, ia lalu menarik tangan Reyna dan membawanya duduk di meja makan untuk mulai menikmati sarapan bersama.
JAYDEN POV
"Nanti mau makan siang bareng?" Tanya gue sambil menoleh sekilas ke arah Reyna.
"Iya." Jawab Reyna, "nanti aku ke kantor."
"Aku aja nanti yang jemput."
"Kamu ada meeting kan? Gak papa aku aja yang ke kantor." Ucapnya sambil mendaratkan kepalanya di bahu gue.
Gue mengangguk, "Kotak makan sekalian aku bawa aja, nanti kamu tinggal kesana."
Tak lama kemudian mobil yang gue kendarai sampai di depan sebuah toko roti. Sebelum Reyna turun, gue menyempatkan diri untuk mengecup keningnya lalu mempersilakan Reyna untuk turun.
Pandangan gue gak lepas dari Reyna yang berjalan memasuki toko roti itu, membuat gue sedikit flashback ke beberapa tahun lalu.
Sejak kejadian kita kehilangan si kembar, gue dan Reyna memulai semuanya dari awal lagi, dia udah kembali masuk sekolah lalu melanjutkan pendidikannya di suatu universitas begitupun gue.
KAMU SEDANG MEMBACA
Accident
Teen FictionReyna Faesya Airlangga, gadis manja yang hidup dalam limpahan kasih sayang, harus menghadapi kenyataan pahit ketika sebuah pesta mengubah segalanya. Hamil tanpa tahu pasti apa yang terjadi, dipaksa menikah dengan pria yang membencinya, dan terjebak...
