16. Ikatan

884 106 4
                                        

.
.



Ada satu hal yang Hanin akui sebagai salah satu kelebihan dirinya yaitu sikapnya yang mudah sampaikan apa yang ia rasakan

Meski kadang tak sadar lakukan itu

Tapi ia tak menahan untuk katakan apa yang ia rasakan

Saat ia katakan bahwa ia cemburu. Ia benar benar seperti rasakan itu. Ia tak suka jika Melvian katakan ingin dekat dengannya tapi masih berhubungan dengan Sharon

Ia tak suka dan ia katakan itu dengan gamblang

Begitupun juga dengan mengajak lebih dulu Melvian untuk jalin hubungan. Entah apa nama hubungan itu, tapi begitu Hanin katakan itu. Melvian langsung izin memegang tangannya, Hanin yang tadinya percaya diri langsung gemetar pelan

Apalagi saat ibu jari Melvian mengusap punggung tangannya dan menatapnya begitu lembut. Ia benar benar paham alasan Sharon meminta lelaki itu untuk kembali berhubungan

"Gue seneng. Tapi gue gak pernah maksa lo buat lakuin itu Nin. Gue bisa nunggu sampe lo siap"

"Gue gak mau lo terpaksa, apalagi kasihan sama gue" Melvian tersenyum berusaha bersikap tenang

"Gue gak kepaksa kok" balas Hanin tegas

"Gue ngerasa lo udah tulus banget sama gue makanya gue mau coba"

Hanin memalingkan wajah malu

"Gue mau coba gimana rasanya dapet perhatian itu dari lo"

Gadis itu gigit bibirnya malu. Benar benar tak bisa menyaring setiap kata yang keluar dari bibirnya

Ia terkesan seperti haus kasih sayang

"Tanpa lo minta juga gue bakal kasih itu. Selama ini gue begitu kan, gak perlu minta itu bakal gue kasih ya Nin"

"Jangan terpaksa kasih gue kesempatan karena kasihan ya, gue beneran gapapa Nin"

Hanin mengulum bibirnya, malah jadi dirinya yang memaksa Melvian sih

"Gue gak kepaksa Melvian, gue beneran mau!"

Melvian menatap lagi kedua mata Hanin dengan dalam

Lelaki itu serius dengan apa yang ia ucapkan. Ia tak memaksa Hanin untuk balas perasaannya, walaupun nanti perasaan yang ia miliki tetap tak terbalas. Ia juga tak masalah

"Serius?" Tanya Melvian tak yakin

"Iya"

Melvian terdiam, ia lepas tangan Hanin dari genggamannya

Bersamaan dengan itu pelayan datang dan bawakan pesanan milik mereka

"Pesanan seperti biasa untuk Tuan Melvian"

"Terima kasih" ujar Melvian

Pelayan itu pergi

Melvian kembali menatap Hanin

"Hanin, untuk yang terakhir kali. Gue beneran gak mau maksa lo buat terima gue"

"Gue gak kepaksa Melvian. Apa gak usah aja?"

"No!! Jangan" sela Melvian cepat

"Lo kemarin nolak gue keras banget, jadi gue gak expect aja bakal begini. Makasih udah mau coba"

Melvian menelan ludahnya pelan

"Hanin, karena lo udah mau coba sama gue. Biar gue yang mulai secara resmi" Melvian menghirup udara dalam dalam

Orang orang mungkin melihatnya sebagai pribadi yang kaku. Tapi jika urusannya begini, ia akan berubah menjadi sosok yang berbeda

Hanin terkekeh kecil, buat Melvian ikut tersenyum juga. Perlahan lelaki itu sedikit tenang

MuakTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang