.
.
"Hanin, gue mau ngomong sesuatu!" Dimas meraih lengan Hanin begitu kelas mereka usai
Namun Hanin lepaskan lengannya cepat
"Mau ngomong apa Dim, disini aja"
Dimas gelengkan kepala, "Gak! Lo ikut gue, ini penting dan lo harus tau"
"Dim, hal penting lo itu buat hubungan gue sama Melvian hampir renggang. Gue gak mau" tolak Hanin. Gadis itu sedikit terkejut saat lihat wajah penuh luka lebam Dimas dihadapannya, lukanya sudah samar namun tetap saja terlihat bekasnya. Entah apa yang lelaki itu lakukan hingga dapatkan luka itu
Dimas mengerang pelan, sadar kalau Hanin benar benar telah jatuhkan perasaannya untuk Melvian
Akan sulit baginya untuk cari kesempatan lagi mendekati Hanin, mengatakan kepada gadis itu yang sebenarnya
"Gue balik dulu Dim"
"Bentar.. Ada banyak hal yang mau gue omongin ke lo Nin"
Dimas menghela napas panjang, lalu menatap Hanin dengan lekat. Berharap gadis itu mengerti bahwa ia serius, tapi Hanin hanya diam seolah tak mau tau apa yang ada di pikirannya
"Cari gue kalau lo bingung dan ngerasa ada yang aneh. Bakal gue jelasin semua" Dimas menepuk lengan gadis itu dua kali lalu pergi lebih dulu, ia tak sengaja melihat diujung lorong sana ada Juan yang berjalan bersama Redica dan tak mau lelaki itu memergokinya mendekati Hanin
Sementara Hanin hanya diam mencerna maksud Dimas barusan
Hal aneh apa yang bisa buat Hanin akan merasa bingung nantinya
"Tadi Dimas gak sih?" Redica berdiri di samping Hanin. Redica baru datang karena kelasnya berbeda dengan Hanin
"Iya"
"Dimas deketin lo?" tanya Juan
Hanin menggelengkan kepala cepat, ada Juan didekat mereka dan ia tak mau teman kekasihnya itu salah paham
"Dia cuma tanya soal materi kampus tadi" ujar Hanin memutuskan untuk sembunyikan perihal Dimas pada keduanya. Toh ia juga tak ingin lagi berhubungan dengan Dimas, jadi ia tak mau bawa bawa lelaki itu lagi
"Yaudah, hati hati baliknya" Hanin pamit pulang terlebih dulu
Melvian tadi juga kelas, namun langsung keluar kelas paling pertama karena ada rapat yang harus dihadiri. Lelaki itu sempat bilang akan ke kosannya nanti malam, tapi entah jadi atau tidak
Hanin akan diam saja di kosan, mengerjakan tugas atau mungkin tidur. Urusan Dimas, ia tak terlalu peduli, mereka juga baru dekat karena tugas akhir akhir ini saja. Ia tak mau ambil resiko hingga ketahuan Melvian seperti saat di tempat makan itu
.
Hanin terbangun saat dengar suara berisik yang berasal dari luar kamarnya. Gadis itu menguap pelan
Jam menunjukkan pukul 4 sore. Hanin kenakan jaketnya, lalu hendak keluar dari kamar, ia buka pintu kamarnya sedikit dan intip melalui celah pintu. Didepan kamarnya ada dua orang yang tengah benarkan cctv
Hanin hanya mengangguk pelan begitu tau siapa orang yang buat ia terbangun, ia lalu buka pintu, buat dua orang itu reflek langsung menatap ke arahnya
