27. Resah

738 85 5
                                        

.
.





"Siapa yang minta bertemu?"

"Jawab! Siapa?" Hanin tersentak pelan saat Melvian tinggikan nada bicaranya untuk pertama kali. Meskipun nadanya tak cukup tinggi untuk tarik perhatian di sekitar mereka, tapi tetap saja Hanin kaget. Apalagi wajah lelaki itu begitu datar dengan tatapan mata yang tajam

"Kita gak sengaja ketemu disana, aku mau beli makan" jawab Hanin pelan

Melvian menghela napas pelan, berusaha meredam amarah

"Tadi gak mau aku ajak makan berat karena mau ketemu Dimas?"

Hanin langsung mendongak dan menggelengkan kepala keras

"Aku beneran gak sengaja ketemu dia disana, tadi gak mau diajak makan soalnya udah kenyang sama camilan, terus ternyata laper lagi" Hanin menggigit bibirnya seketika, tak percaya apa yang baru saja ia katakan. Bagaimana bisa kebohongan mengalir lancar keluar dari bibirnya? Dan itu demi Dimas

Tapi wajah datar Melvian tadi menakutinya. Lelaki itu tak katakan apapun dan membawanya keluar dari tempat makan itu meninggalkan Dimas disana

Melvian langsung mengantarnya kembali ke kosan

"Kamu masuk dulu, aku pesenin makanan" ujar Lelaki itu sambil berlalu hendak kembali ke mobilnya

Hanin langsung menahan lengan Melvian

"Jangan marah" ujar Hanin pelan, takut menatap Melvian yang hanya tampilkan ekspresi datar sejak tadi

Lelaki itu mengangguk pelan namun tak katakan apapun dan benar benar berlalu ke mobilnya yang terparkir di depan kosan Hanin. Gadis itu tak puas, tapi ia juga takut kalau berbicara dengan Melvian lagi

Gadis itu hanya bisa menghela napas, Melvian jelas marah padanya kan karena ketahuan berduaan bersama Dimas. Mau ia jelaskan bagaimanapun juga tetap saja ia tak ada urgensi untuk berada di tempat makan berdua bersama Dimas

Hanin putuskan untuk duduk diam di gazebo kosan. Menunggu Melvian kembali untuk menemuinya lagi

.

"Cari Dimas, gue dateng 20 menit lagi" ujar Melvian sebelum mematikan panggilannya

Lelaki itu lalu keluar dari mobil sambil membawa makanan yang baru tiba

Seringai tipis terukir diwajahnya sebelum ia melangkah menuju kosan kekasihnya
lagi. Begitu pintu pagar itu ia buka, ia sudah bisa menduga kalau Hanin masih ada disana dan langsung berdiri menghampirinya yang lanjutkan ekspresi datarnya

"Kenapa gak masuk kamar?"

"Kita belum baikan"

Melvian terdiam, lalu sodorkan makanan yang ia bawa

"Tidak usah dibahas. Aku pulang dulu"

"Bentar! Kita belum baikan. Aku minta maaf" ulang Hanin, gadis itu menundukkan kepala, satu tangannya mengepal kuat, sesekali telapak tangannya terbuka dan tertutup bergantian. Tunjukkan kalau ia gugup dan tak berani menatap Melvian karena ia telah bohongi lelaki itu

"Kenapa minta maaf? Kalian gak sengaja ketemu kan" Hanin mengangguk kaku, namun ekspresi datar Melvian makin meresahkannya

"Aku.."

MuakTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang