.
.
Suasana kontrakan yang dihuni oleh Melvian dan teman temannya nampak tenang pada malam akhir pekan ini
Semua penghuni nampak sibuk dengan urusan masing masing di ruang tamu kontrakan tersebut, kecuali satu orang yang nampak
bosan dengan kesendiriannya
"Ini gak ada yang mau main ke klub kah?" Gerald tiba tiba berceletuk
"Skip, gue ngerjain laprak. Senin dikumpulin, besok mau tidur aja gue" balas Juan
"Sama. Gue bikin proposal buat organisasi, heran banget cowok jadi sekretaris. Mana mau mauan aja gue"
Gerald memutar bola matanya malas, harapan terakhirnya tertuju pada Melvian yang sibuk dengan ponselnya, beda dengan dua teman lain yang sedari tadi memang bergelut dengan laptop dan beberapa lembar kertas di sekitarnya
"Melvian gak bakal mau, kapok dia sama bapaknya" ujar Juan seolah tau maksud Gerald
"Bapaknya gak bakal tau ini. Ayo Yan, gue bayarin deh"
Melvian mendongak, tersenyum miring lalu gelengkan kepala. Juan ikut menyeringai karena ucapannya benar
"Gak mood"
Juan terkekeh bersama Dean begitu dengar jawaban Melvian
"Ya elah Ger, mau lo beliin klubnya pun Melvian juga gak bakal mau. Bapaknya kalau
mau bisa dari dulu beliin dia gituan, masalahnya kan Melviannya yang gak bisa dikontrol kalau udah mabok"
Juan tergelak saat Melvian lempar satu kotak tisu ke arahnya, Dean di seberang lelaki itu hanya nyengir saja sambil masih sibuk mengerjakan proposalnya
Memang dari mereka berempat Gerald yang baru kenal Melvian saat mereka kuliah sebelum memutuskan untuk kontrak dirumah yang sama
Juan teman Melvian sejak sekolah menengah atas, Dean sepupu Melvian jelas sudah kenal tabiat lelaki itu
"Gue mana tau, Melvian mana pernah mau diajak mabok"
"Gue terakhir lihat Melvian mabok ya pas sekolah dulu. Udah terakhir itu gak pernah lagi dia, bapaknya serem banget pas tau Melvian mabok" seru Juan bercerita
Melvian menatap ke arah Juan dengan tajam, buat lelaki itu terkekeh canggung. Sepertinya lelaki itu tak suka jika masa lalunya diungkit
"Astaga, masih aja lo Yan. Jangan liatin gue kayak gitu!" seru Juan sedikit panik
"Takut lo sama abang gue" Ejek Dean pada Juan
"Emang kalo mabok ngapain ini orang? banting orang lain?" pertanyaan Gerald
"Waduh, bakal susah sih liat Melvian mabok. Dia gak bakal mau" ujar Juan lagi
"Udahan bahas mabok, lagian lo gak ada tugas Ger? Laporan lo udah?" Dean coba alihkan pembicaraan saat lihat wajah keruh Melvian
Gerald sandarkan bahunya pada sandaran sofa
"Udah tinggal dikit, suntuk banget gue makanya pengen open table dulu"
"Besok masih kuliah ini. Malam Minggu aja Ger, gue temenin" ujar Dean
"Tumben banget lo"
"Kan lo bayarin, gue mana mau kalau gak dibayarin"
"Kampret lo!" seru Gerald, Dean terkekeh, dia kan tidak punya banyak uang jajan. Uang bulanannya dipotong karena kemarin memang ketahuan mabok juga oleh ibunya, tapi kalau dibayarin kan dia tidak akan takut ketahuan lagi
"Awas aja tante Dea tau" ujar Melvian menengahi tanpa alihkan tatapannya pada ponselnya. Lelaki itu fokus melihat hapenya sampai layarnya berubah, ada panggilan masuk dari Hanin disana
