.
.
Lengan kemejanya digulung hingga siku. Jasnya diletakkan sembarangan di atas meja pengunjung
Rambutnya yang tak terlalu memutih itu disisir ke belakang
Sementara itu dengan telaten satu tangannya menyisir surai sebahu milik sang istri
Marcel menelan ludah gugup
Sama gugup nya saat ia melihat Hana menoleh ke arahnya
Menatapnya dengan tatapan tanpa emosi
"Kamu yang rapihin rambut aku?"
Singkat. Sekaligus mendebarkan
Marcel tak mampu berkata. Tapi ia juga tak melewatkan kesempatan dekat dengan istrinya kembali
Dengan cepat ia minta asisten yang berjaga diluar ruangan istrinya untuk membawakan gunting rambut dan kain untuk menutupi bahu istrinya
Sementara itu Hana tampak tenang. Keduanya menghadap ke arah jendela yang samar memantulkan bayangan keduanya
"Aku usahain sebisaku ya" ujar Marcel kemudian
Hana mengangguk kecil, menerbitkan senyum di wajah Marcel. Lelaki itu mulai gerakkan gunting di tangannya dengan perlahan dan lembut. Mengambil ujung rambut belakang Hana untuk dirapikan
Lelaki itu serius. Selalu serius
"Agak aku potong dikit ya. Biar lurusnya bagus" ujar Marcel lagi masih dengan pandangan yang fokus pada gunting dan rambut Hana
Sementara itu Hana, melihat Marcel dari pantulan jendela ruangannya
Selama pernikahannya, tak pernah mereka sedekat ini. Mengobrol santai seperti ini
Marcel menegakkan tubuhnya saat pekerjaannya telah selesai, lelaki itu lalu memutar dan berdiri didepan Hana
"Sekarang poninya ya. Aku potong juga biar gak ganggu kalau makan"
Marcel sedikit menundukkan badannya. Wajahnya berada tepat didepan wajah Hana dalam beberapa jengkal saja
Lelaki itu masih serius
Sementara Hana mau tak mau menatap ke arah Marcel dengan pikiran campur aduk
Sedekat ini
Mereka dulu tak akan bisa sedekat ini
"Kenapa?" Suara pelan Hana memecah hening
Jantung Marcel yang berdetak kencang semakin kencang saat dilihatnya Hana menatapnya dengan lekat dengan jarak yang sedekat ini
"Apa?"
"Kenapa begini?" Lanjut Hana
Marcel mengernyitkan dahi bingung
"Kenapa? Tidak suka potongan rambutnya? Apa ke salon saja? Ke salon saja ya? Oh atau aku panggilkan stylist kemari? Mau?" Marcel tampak panik namun tak berani menyentuh bahu Hana yang masih diam menatapnya
Hana mengedipkan matanya pelan
Teringat masa dulu di mana ia perlu banyak usaha untuk menarik perhatian Marcel padanya
"Han?" Suara pelan Marcel terdengar. Datar seperti dulu, tapi ada kelembutan disana
Yang tak pernah ada sejak dulu. Dan baru sekarang ia mendengarnya. Kedua mata Hana memanas
"Kenapa butuh waktu lama untuk bisa begini? Aku harus gila dulu baru kamu bisa perhatian ke aku?"
Deg
