44. Baik

462 73 2
                                        

.
.



Lengan kemejanya digulung hingga siku. Jasnya diletakkan sembarangan di atas meja pengunjung

Rambutnya yang tak terlalu memutih itu disisir ke belakang

Sementara itu dengan telaten satu tangannya menyisir surai sebahu milik sang istri

Marcel menelan ludah gugup

Sama gugup nya saat ia melihat Hana menoleh ke arahnya

Menatapnya dengan tatapan tanpa emosi

"Kamu yang rapihin rambut aku?"

Singkat. Sekaligus mendebarkan

Marcel tak mampu berkata. Tapi ia juga tak melewatkan kesempatan dekat dengan istrinya kembali

Dengan cepat ia minta asisten yang berjaga diluar ruangan istrinya untuk membawakan gunting rambut dan kain untuk menutupi bahu istrinya

Sementara itu Hana tampak tenang. Keduanya menghadap ke arah jendela yang samar memantulkan bayangan keduanya

"Aku usahain sebisaku ya" ujar Marcel kemudian

Hana mengangguk kecil, menerbitkan senyum di wajah Marcel. Lelaki itu mulai gerakkan gunting di tangannya dengan perlahan dan lembut. Mengambil ujung rambut belakang Hana untuk dirapikan

Lelaki itu serius. Selalu serius

"Agak aku potong dikit ya. Biar lurusnya bagus" ujar Marcel lagi masih dengan pandangan yang fokus pada gunting dan rambut Hana

Sementara itu Hana, melihat Marcel dari pantulan jendela ruangannya

Selama pernikahannya, tak pernah mereka sedekat ini. Mengobrol santai seperti ini

Marcel menegakkan tubuhnya saat pekerjaannya telah selesai, lelaki itu lalu memutar dan berdiri didepan Hana

"Sekarang poninya ya. Aku potong juga biar gak ganggu kalau makan"

Marcel sedikit menundukkan badannya. Wajahnya berada tepat didepan wajah Hana dalam beberapa jengkal saja

Lelaki itu masih serius

Sementara Hana mau tak mau menatap ke arah Marcel dengan pikiran campur aduk

Sedekat ini

Mereka dulu tak akan bisa sedekat ini

"Kenapa?" Suara pelan Hana memecah hening

Jantung Marcel yang berdetak kencang semakin kencang saat dilihatnya Hana menatapnya dengan lekat dengan jarak yang sedekat ini

"Apa?"

"Kenapa begini?" Lanjut Hana

Marcel mengernyitkan dahi bingung

"Kenapa? Tidak suka potongan rambutnya? Apa ke salon saja? Ke salon saja ya? Oh atau aku panggilkan stylist kemari? Mau?" Marcel tampak panik namun tak berani menyentuh bahu Hana yang masih diam menatapnya

Hana mengedipkan matanya pelan

Teringat masa dulu di mana ia perlu banyak usaha untuk menarik perhatian Marcel padanya

"Han?" Suara pelan Marcel terdengar. Datar seperti dulu, tapi ada kelembutan disana

Yang tak pernah ada sejak dulu. Dan baru sekarang ia mendengarnya. Kedua mata Hana memanas

"Kenapa butuh waktu lama untuk bisa begini? Aku harus gila dulu baru kamu bisa perhatian ke aku?"

Deg

MuakTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang