23. Terbongkar

727 82 3
                                        

.
.



Hanin menerawang ke luar jendela perpustakaan. Sudah hampir sejam lebih ia duduk disana, ia suka berdiam diri di perpustakaan, entah itu tidur atau hanya bengong saja melihat keluar jendela, ke arah luar dimana ia bisa lihat lalu lalang mahasiswa yang berjalan di luar sana

"Woy!!" Hanin terjingkat pelan

"Dimas"

"Ngelamun mikirin apa lo?" Dimas duduk berseberangan dengan Hanin, buka laptop juga beberapa buku yang sepertinya baru ia ambil

"Ngerjain metpen nih gue, biar cepet kelar. Tinggal satu bab lagi sama kesimpulan" Hanin mengangguk

"Mumpung ada lo juga kan, lo ngerjain apa?"

Hanin tunjukkan tugasnya, hanya rangkuman jurnal dari tugas mata kuliah harian biasa

"Rajin banget lo, itu kan buat seminggu besok"

Hanin hanya gedikkan bahu, tak berniat untuk bicara karena sedang malas. Dan juga, selama
ia sering bolak balik ke perpustakaan menyendiri di sudut favoritnya, ia tak pernah sekalipun melihat ada Dimas disini. Jadi, ia sedikit canggung saat Dimas malah duduk berseberangan dengannya

Apalagi sebenarnya ia melamun tadi juga sempat memikirkan lelaki itu dan juga kekasihnya. Melvian sepertinya tidak terlalu menyukai Dimas. Kalau di kelas pun mereka jarang sekali berinteraksi. Kalau begitu artinya kan ia juga harus jaga diri

Tapi batin Hanin terus berpedang, Hanin tak masalah dengan itu kan seharusnya. Pengalaman pertamanya hadapi hal ini jadi buat ia was was dan bingung

Apa ia boleh berteman dengan Dimas? Mereka satu angkatan dan sering berada di kelas yang sama, tentu mereka adalah teman. Tak jarang Dimas menyapa dan bahkan tak sungkan duduk di sebelahnya jika berada di kelas yang sama, itu dulu sebelum ia jalin kasih dengan Melvian

Sementara itu, Dimas, lelaki itu terdiam namun tak katakan apapun lagi. Ia juga mulai kerjakan tugasnya sendiri, sesekali akan bertanya pada Hanin dan gadis itu akan menjawab pertanyaannya dengan lugas seperti biasa

"Gue ke toilet dulu Nin" Dimas lalu berdiri, Hanin hanya menggumam saja tadi tanpa menatap ke arah Dimas

"Aduh" Dimas tak sengaja menabrak seseorang saat berbalik dari kursi

"Dimas, lo disini juga" Juan bersama Redica yang memang baru datang. Redica tau kebiasaan Hanin duduk dimana sehingga ia bawa Juan ke spot ini. Tak menyangka saja ada Dimas juga disana

Dimas terkekeh pelan, namun tak jawab pertanyaan Juan dan buru buru ke kamar mandi

Juan dan Redica lalu duduk masing masing di sebelah Hanin dan Juan di sebelah tempat duduk Dimas

"Janjian sama Dimas?" tanya Redica, Hanin langsung gelengkan kepala

"Aku duluan disini tadi, terus dia dateng" jawab Hanin, Redica mengangguk. Sepasang kekasih itu lalu buka laptop masing masing

"Kalau bisa hati hati aja deh Nin" Juan tiba tiba berceletuk sambil diiringi tawa kecil, Hanin maupun Redica beralih menatap Juan

Juan mendongak merasa diperhatikan, lalu tertawa canggung

"Ah, maksud gue kan lo udah punya Melvian tuh, dia tuh cemburuan orangnya walaupun kadang suka cuek gitu"

Hanin tau itu. Tapi kenapa ia tak suka ya kalau Juan katakan hal itu padanya. Dia ini salah sekali ya kalau berinteraksi dengan teman teman satu angkatannya sendiri?

Tak lama Dimas datang, lelaki itu berujar kalau ia hendak kembali lebih dulu karena ada rapat organisasi. Sementara Hanin dan dua yang lain tetap disana mengerjakan tugas hingga mereka sendiri bosan


MuakTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang