.
.
(Flashback setelah pertemuan Hanin dan Dito. Hanin langsung menghubungi Dimas untuk bertemu)
"Dim lo tau apa aja?"
"Maksud lo?"
Hanin berdecak kesal, "Yang mau lo kasih tau ke gue waktu itu, apa?"
Saat itu sebenarnya Dimas goyah. Perusahaannya membaik dengan cepat hanya karena nama perusahaan keluarga Melvian yang ikut andil membantunya. Hanya nama saja tapi mereka kembali melirik perusahaannya
Ia sadar besarnya kekuatan Melvian saat itu
Tapi pengkhianatan ayahnya perlahan ia ketahui. Saat ia sering mengunjungi kantor, saat itu akhirnya ia tau bahwa ayahnya bermain dibelakang ibunya
Dimas marah, dan memutuskan untuk berulah. Selain karena tak mau membantu ayahnya, ia juga merasa bahwa perlakuan Melvian pada Hanin sangat buruk
"Gue disuruh Melvian deketin lo" Dimas sedikit rasakan tangannya gemetar. Ia mengingat setiap pukulan yang Melvian berikan padanya beberapa kali
Ia takut, tapi ia tak mau lanjutkan ini
Wajah Hanin yang tadinya nampak sedikit senyum langsung berubah menjadi datar. Gadis itu mendengus lalu tertawa kecil
"Gak jelas lo" ujar Hanin tak percaya
Dimas mengulum bibirnya yang terasa beku
"Itu yang mau gue omongin ke lo Nin. Gue mau kasih peringatan ke lo"
"Peringatan soal apa!" Nada bicara Hanin sedikit meninggi
"Gue taunya Melvian pasang kamera buat awasin gue, bukan omong kosong gak jelas tentang lo Dim"
"Ya, itu salah satunya juga. Dia pasang kamera biar bisa awasin lo"
"Awasin gue buat apa? Dia gak sepercaya itu sama gue Dim? Terus maksud lo dia nyuruh lo deketin gue buat apa?"
Dimas menggelengkan kepala pelan
"Gue juga gak tau, sorry gue setuju nurut sama Melvian. Gue gak tau alasan dia apa. Tapi yang jelas gue yang akhirnya deketin lo emang murni suruhan dari Melvian"
Hanin terdiam, merasa dipermainkan. Lagipula untuk apa? Hubungan mereka baik baik saja kan, Hanin selalu jaga perasaan kekasihnya itu
Ah, atau sedari awal Melvian malah tak menganggapnya sebagai kekasih? Apa ia hanya mainan semata? Yang seolah bebas dilelang untuk didekati siapapun
Kedua mata Hanin memanas
Jadi selama ini, apa semua sikap Melvian padanya hanya pura pura?
Ketakutannya sejak awal dulu, ternyata jadi nyata. Melvian tak benar benar mencintainya kan?
"Nin, gue gak ngerti tepatnya gimana. Tapi ada satu orang yang tau itu. Dia juga pernah kayak gini"
"Bang Dito?" Dimas terkejut atas jawaban Hanin
"Lo tau Bang Dito?"
Satu tetes air mata Hanin jatuh, gadis itu merasa begitu lelah. Hanya tau fakta ini saja ia sudah lelah
"Dia yang kasih tau gue soal kamera itu. Makanya gue tanya ke lo, apa aja yang lo tau. Tapi ternyata lebih parah dari itu ya" Hanin tersenyum getir
"Ternyata bener, gue cuma mainan Melvian" Hanin tersenyum, tapi kedua matanya menangis
Dimas di seberangnya hanya bisa diam. Ia tau perasaan Hanin pada Melvian sangat tulus. Ia bisa lihat itu sebelumnya setiap kali Dimas berusaha mendekat
Hanin selalu bisa menempatkan diri. Gadis itu tak mau menyakiti Melvian
