.
.
Flashback
Suatu malam beberapa tahun lalu.
Pak Marcel pulang lebih awal, sesuatu yang jarang ia lakukan. Namun pesan dari Reyhan yang memintanya untuk segera pulang membuatnya segera keluar dari kantor
Ia menemukan rumah sunyi, lampu ruang tengah hanya satu yang menyala. Langkahnya cepat namun terasa pelan, jantungnya berdebar kencang. Kenapa? Samar ia dengar suara benda pecah dari kamarnya, saat makin mendekat suara tangisan pun ikut terdengar
Reyhan berdiri di depan pintu, dan langsung menyadari Pak Marcel yang berjalan mendekat. Pak Marcel tak suka ekspresi yang ditunjukkan oleh Reyhan sekarang
Pak Marcel menghela napas panjang sebelum membuka pintu
Hana langsung menoleh ke arahnya. Wajahnya pucat. Mata kosong. Bibir bergetar tapi tak bersuara. Wanita itu memegang vas bunga yang masih utuh, mungkin akan pecah juga seperti vas lain yang berserakan di atas lantai
Pak Marcel mendekat, mengambil alih vas itu. Dan meletakkannya jauh dari jangkauan Hana. Tapi wanita itu masih diam. Kedua tangannya beralih mencengkeram sprei
Pak Marcel mengedarkan pandangan. Di sudut kamar, Melvian anak remajanya itu berdiri kaku. Bahunya naik-turun menahan napasnya yang berat. Kedua matanya merah, tangannya terkepal di sisi tubuh
Pemuda itu tak menangis
Pak Marcel mendekat. Ingin bertanya. Ada apa?
Tapi saat ia berdiri di depan putranya sendiri, Pak Marcel tertegun. Dari dekat ia bisa lihat ekspresi Melvian hampir sama dengan istrinya sendiri. Mendadak Pak Marcel rasakan kepalanya memberat
Lelaki itu menyentuh bahu anaknya, Melvian mendongak. Mata merahnya tampak kosong. Bibirnya bergetar. Pelan pelan Melvian bicara
"Aku gak mau bikin Mami nangis. Aku cuma mau Mami berhenti"
Pak Marcel sadar, namun tak katakan apapun. Sekali lagi ia arahkan pandangannya pada sang istri yang sedang terisak tanpa suara.
Sementara di sudut satunya, sang anak menahan rasa bersalah yang akan membekas seumur hidup
Malam itu Pak Marcel gagal merangkul dua orang paling berarti dalam hidupnya
.
Melvian tidak menjadi posesif karena merasa benar, tapi karena merasa bersalah dan penyesalan itulah yang membentuk seluruh konsepnya tentang cinta
Ia mengira kontrol adalah bentuk penebusan.
Bahwa dengan mengontrol orang yang ia cintai, ia menjaga mereka. Bahwa kalau ia mencintai orang seperti ibunya mencintainya, maka ia tidak akan mengulang kesalahan yang sama
Dan ia mau itu semua berakhir. Jika nantinya mereka tetap berada di sampingnya. Ia bisa menghapus perasaan bersalah itu
Ia mau menebus rasa bersalahnya pada sang ibu. Melalui Hanin dan juga Sharon
Mimpi buruknya setelah bertahun tahun lalu membuatnya tak tenang. Saat akhirnya ia mulai berusaha menyembuhkan dirinya sendiri menggunakan Sharon, ia tau gadis itu tak akan berhasil
Mimpi buruknya tak pernah berhenti
Bayangan ibunya yang menangis karena dirinya dan semua perkataan ibunya terus menggema dalam kepalanya
Malam itu hujan deras lagi, awal semuanya dimulai. Awal mimpi buruknya terus menghantui
Langit seperti mengerti bahwa ini bukan malam biasa. Ada sesuatu yang pecah di dalam rumah itu. Dan Melvian, di usia 16 tahun, berdiri di ruang tengah dengan dada naik turun
