.
.
Hanin kira ia bisa saja tidak menghiraukan keberadaan Melvian
Hanin kira ia sudah tidak peduli
Tapi langkah kakinya lebih cepat daripada pikirannya. Beberapa menit ia berdiri mematung mencerna maksud perkataan Melvian atas pertanyaannya. Ia berbalik cepat dan menyusul lelaki itu
Dan disana ia melihat, Melvian tengah berbicara dengan Reyhan
Hanin mendekat, namun tak membuat kedua lelaki itu mengetahui keberadaannya
"Lo yang bawa Hanin kesini" suara Melvian terdengar samar
"Ya, dia mau jenguk nyonya. Hanin yang bantu nyonya buat sembuh. Kenapa lo harus halangin dia kesini"
Hanin mengernyitkan dahi bingung. Namun dengan cepat menyadari sesuatu
"Dia gak punya tanggung jawab atas ibu gue Han. Tugasnya udah selesai, dia yang gak perlu datang kesini lagi"
"Masih aja lo ngatur gue!" Hanin keluar tiba tiba dengan wajah merah padam dan tatapan nyalang ke arah Melvian yang sedikit terkejut melihat kehadirannya
Reyhan bahkan ikut terkejut karena suara lantang Hanin barusan
"Lo udah gak berhak atas hidup gue. Terserah gue mau ngapain aja. Gue gak kenal Bu Hana sebagai nyokap lo!"
"Gue mau bantu Bu Hana itu terserah gue. Gue gak harus minta izin sama lo!"
"Diem!" Balas Melvian dengan suara keras juga yang langsung membuat Hanin tersentak
Reyhan reflek menahan bahu Melvian
Hanin mengedipkan kedua matanya dengan cepat. Jantungnya berdebar kencang hingga samar ia bisa mendengar sendiri dentumnya
Pertama kalinya Melvian meninggikan suara padanya
"Tenang Yan"
Sementara itu Melvian menatap Hanin lekat, rahangnya mengeras melihat Hanin menatapnya masih dengan tatapan nyalang. Kepalanya berdenyut mendengarkan setiap perkataan Hanin dan bagaimana gadis itu terus menggunakan kata ganti yang sangat tidak ia sukai dilayangkan padanya
Terasa asing dan jauh
Hanin tersadar dari rasa terkejutnya. Gadis itu menghela napas panjang
"Apa gue pernah bilang kalau gue benci banget sama lo? Gue benci lo karena gue ngebiarin lo masuk ke hidup gue! " Kedua mata Hanin mengabur seketika. Gadis itu langsung memalingkan wajah, berbalik meninggalkan dua lelaki itu keluar dari area rumah rehabilitasi
Sementara Melvian masih ditempatnya berdiri dengan kepala yang terus memutar ulang perkataan Hanin yang membenci dirinya
Reyhan menepuk bahu lelaki itu dua kali lalu ikut pergi juga
"Lo sama Hanin beda. Lo cuma perlu berani aja Yan" ujar Reyhan sebelum pergi
.
"Saya pikir kamu sibuk sama kuliah kamu" Hanin menggelengkan kepala pelan
Saat hendak memesan taksi online untuk mengantarnya pulang dari rumah rehabilitasi tadi. Mobil yang sangat ia kenali datang, Pak Marcel yang sudah beberapa hari tak ia lihat keluar dari kursi penumpang sementara itu dari tempatnya berdiri ia bisa melihat dari balik kemudi, sopir lelaki parubaya itu tertunduk
"Sekarang sudah tidak lagi Om"
Pak Marcel mengangguk
"Hana cari kamu kemarin. Saya bilang kamu ada tugas kuliah yang numpuk jadi gak bisa diganggu" Pak Marcel tertawa kecil
