54. Kejelasan

327 57 3
                                        

.
.


Akhir pekan, Melvian tiba tiba datang ke kosan. Setelah 2 hari lelaki itu tak beri kabar apapun. Hanin tiba tiba mendapat pesan agar keluar dari kamar

Gadis itu juga agak sibuk dengan kegiatan kampus jadi belum sempat mampir lagi ke rumah Melvian untuk menjenguk Bu Hana

"Kenapa?" Tanya Hanin heran. Bukannya apa, pasalnya sejak Hanin masuk ke dalam mobil lelaki itu. Melvian hanya diam saja tak katakan apapun. Lelaki itu tampak gelisah

"Ck, aku mau kerjakan tugas aja kalau gitu!"

"Sebentar.." Melvian menahan lengan Hanin

"Kenapa? Ngomong aja, siapa tau aku bisa bantu"

Melvian menatap Hanin. Takut, takut tak bisa mengontrol dirinya sendiri. Takut tiba tiba bersikap manipulatif

Hanin gadis yang tulus. Setelah apa yang ia lakukan, gadis itu masih bisa berkata demikian. Membantunya ya. Sepercaya itu Hanin padanya

"Aku mau tanya, jawab yang jujur ya Nin. Biar aku gak hilang arah"

Hanin mengerjapkan mata, mendadak merasakan atmosfer yang serius. Ia sedikit menyerongkan badannya

"Setelah semua yang aku lakuin.."

"Meskipun aku berusaha buat berubah. Aku bukannya gak suka sama perubahan ini tapi.."

Melvian memejamkan mata sebentar, "Boleh aku tanya alasan apa lagi yang buat kamu masih bertahan disini?" Melvian berujar pelan, nadanya lembut seperti biasa. Tapi sorot matanya gelisah

Hanin diam. Matanya kembali mengerjap cepat. Mendadak pipinya memerah. Mana Melvian menatapnya dengan lekat

"Kenapa tanya?" niatnya bertanya untuk mencairkan suasana. Namun Melvian menangkapnya dengan lain

Melvian sedikit panik, apalagi Hanin tiba tiba melepas genggamannya. Hanin melihatnya, Melvian yang tenang mungkin akan sedikit bergeser. Lelaki itu perlu belajar bagaimana mengatasi perasaannya yang meletup letup

Lucu. Menurut Hanin, Melvian yang sekarang tampak lugu dan lucu

"Sebelumnya, aku udah bertekad. Kamu boleh pergi, bahkan aku berharap kamu pergi setelah saat itu. Tapi, waktu aku tau kamu yang nemenin Mami. Aku kalah"

Ada hening sebentar antara keduanya sampai Hanin bersuara

"Aku udah pernah bilang ke kamu. Seandainya aku bisa, aku bakalan pergi. Aku bakal pergi sejak awal. Aku pun gak suka sama apa yang terjadi. Aku bingung, aku ngerasa gak berharga setalah tau semua kenyataannya" Melvian mengepalkan kedua tangannya dengan kuat mendengar ucapan Hanin. Ia Berusaha tidak memalingkan wajahnya dari Hanin yang menatapnya berani

Hanin melihat wajah gelisah Melvian, gadis itu tersenyum tipis lalu meraih tangan Melvian

"Waktu Pak Marcel cerita semua. Aku ngerasa akhirnya aku ngerti. Aku ngerti aja, kayak oh yaudah karena ini"

"DIbandingkan aku, kamu lebih sedih" lanjut Hanin, "Kamu bahkan harus nahan perasaanmu sendiri selama bertahun tahun"

"Kamu berusaha cari pegangan buatmu sendiri. Kamu kayak orang yang hilang arah, dan aku paham. Aku bukannya marah, setelah tau semua aku malah sedih"

Melvian balik menggenggam tangan Hanin. Lukanya dibuka, gadis iini tahu semua dan ia bukannya marah tapi lega

"Aku gak sebaik yang kamu pikirin. Aku juga bisa buat salah. Tapi aku paham, aku ngerti sama keadaan kamu. Itu aja" Hanin menghela napas pelan

"Waktu itu aku juga bertanya tanya sama diri aku sendiri. Aku tanya apakah aku bakalan pergi gitu aja atau bertahan setelah tau semuanya"

"Dan ternyata berat banget. Setelah pertemuan kita di villa itu, setiap malem aku selalu nangis" aku Hanin tiba-tiba

MuakCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang