48. Rasa

350 58 5
                                        

.
.


Dari awal Melvian tidak pernah berniat bermain dalam lingkaran percintaan. Ia hanya ingin kontrol atas seseorang yang bisa memuaskan egonya atas rasa bersalah yang menumpuk di dadanya dalam beberapa tahun belakang

Intinya memang ada seseorang yang bersedia untuk menjadi boneka dan disetir dalam hal apapun maka ia sudah merasa puas

Ia kira memilih Hanin waktu itu sudah sangat tepat

Gadis itu lugu dan tulus

Namun mendadak segala hal terasa mendebarkan, hingga saat Hanin berani melakukan kontak fisik dengannya. Perasaan yang ia rasakan bukan lagi ingin menjadikan Hanin sebagai bonekanya. Tapi ingin Hanin seutuhnya

Maka saat melihat Hanin menyalak padanya tadi. Sisi dalam diri Melvian kembali muncul

Ada sisi dimana ia tak mau Hanin bersikap seperti itu padanya

Kata ganti kasar yang gadis itu gunakan membangkitkan emosinya

Ia tak mau asing dengan Hanin

Skenario yang ia buat selama beberapa waktu lalu berada di luar negeri langsung buyar seketika. Ia tak suka Hanin menatapnya dengan sengit

Kini disini ia berada, kembali duduk di hadapan Hanin. Menatap gadis yang sedari tadi memalingkan wajah darinya. Berharap gadis itu segera menatapnya, tak lagi menyalak

"Aku akan cerita" ujar Melvian pelan sedikit tak yakin dengan dirinya sendiri. Dorongan apa yang membuatnya akhirnya mau menceritakan tentang keburukannya sendiri

Sudah ia katakan kan kalau segala rencananya langsung buyar hanya karena satu kalimat benci dari Hanin

Ia tak menyangka, pertemuannya kembali dengan Hanin memutar balikkan keadaan seperti ini

Sementara itu disisi lain, Hanin hanya diam. Ia menurut dibawa pergi karena ia juga penasaran apa yang mau Melvian katakan

Apakah akan menjawab semua tanya dalam pikirannya. Melegakan hatinya atau mungkin mengembalikan hubungan keduanya. Ia tak tau

Hanin cukup tau diri. Siapa dirinya bisa mengubah Melvian yang kata ayahnya sudah memiliki masalah ini sejak beberapa tahun yang lalu

"Aku yang bikin ibuku seperti saat ini Hanin"

Hanin tau, tapi mendengar nada bicara pelan Melvian dan wajah menunduk lelaki itu. Hanin mengernyit tak suka

"Melihat kamu udah deket sama Papi aku, aku gak tau apa aja yang Papi aku ceritain ke kamu. Tapi aku cukup yakin kamu udah tau semua"

"Dan itu semua benar. Apa yang ada di pikiran kamu tentang aku semua bener"

Hanin menghela napas pelan

"Terus kenapa aku? Aku masih gak ngerti. Kenapa harus aku?" Ulang Hanin lagi

Melvian mendongak, menatap tepat ke arah kedua mata Hanin yang juga menatap ke arahnya

"Kamu terlihat stabil" ujar Melvian pelan

"Kamu terlihat waras, buat aku" tambah Melvian pelan

"Kamu kelihatan punya mental kuat dan kayak pasangan yang bisa menahan badai. Aku kira dengan semua yang aku kasih ke kamu, kamu gak akan lari ke orang lain"

"Itu yang buat kamu uji aku?"

Melvian menarik udara panjang

"Ya. Kamu gak banyak menuntut, kamu juga nerima sama apa yang aku omongin"

"Waktu itu aku mikir mungkin kali ini bakalan berhasil. Lewat kamu aku bakal berhasil sembuh"

"Bagi aku yang gak waras ini, kamu yang netral bisa bikin aku lama kelamaan netral juga. Kamu juga gak lihat aku dari apa yang ada di belakangku. Kamu nerima aku sebagai Melvian kan"

MuakTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang