.
.
Lampu kamar Redica sudah dipadamkan, hanya cahaya lampu belajar dan redup dari koridor luar yang masuk lewat sela pintu
Hanin memutuskan tidur di kamar Redica. Saat datang tadi ia belum katakan apapun. Tapi diamnya Redica dengan sudut matanya yang basah cukup membuat Hanin memahami situasi yang dihadapi sahabatnya itu
Ia tau Redica belum tidur di sebelahnya
Hening cukup lama sebelum Hanin akhirnya membuka suara
"Aku boleh tanya sesuatu, Re?"
"Apa?" sahut Redica pelan
"Kamu sama Juan kenapa putus?" Tanya Hanin pelan juga, sedikit takut namun terlanjur mengucapkan pertanyaan itu
Tubuh Redica menegang sesaat, lalu dengan cepat berguling ke samping, membelakangi Hanin
"Putus aja Nin, gak cocok ini" jawab Redica acuh
Hanin ikut berbaring miring menghadap punggung Redica
"Kamu sama Juan keliatan cocok, sayang kalau hubungannya cuma sebentar"
Nada suara Hanin lembut, tak mendesak, tapi cukup untuk membuat Redica menggigit bibir. Gadis itu ingat perkataan Juan tadi. Juga ekspresi penuh kekecewaan Juan terhadapnya
Beberapa detik hanya keduanya yang saling diam
"Gue yang minta putus. Juan gak ada salah apa apa. Gue cuma.. gak bisa aja"
Hanin mengernyit, "Kenapa?"
Redica menutup mata. Berusaha menghalau air mata yang hendak jatuh
Tangannya menggenggam selimut erat
"Karena aku ya Re?" Sambung Hanin pelan
Gadis itu menunduk, merasa bersalah karena Redica sampai harus sejauh ini
"Nggak Nin. Gue cuma gak mau aja ada di lingkaran Melvian. Juan sahabatnya Melvian kan. Gue gak mau berhubungan sama orang kayak gitu"
Hanin tersenyum tipis
"Jadi beneran karena aku ya" ucapnya pelan sekali lagi
Redica tak menanggapinya. Tapi Hanin tau gadis itu mendengarkan
"Juan baik. Dia baik banget, sepulang dari vila itu dia gak ngomong apapun. Dia cuma anterin aku pulang. Dia berdiri di samping aku dan mastiin aku baik baik aja" ujar Hanin
"Dia selalu baik" tambah Hanin lagi
"Dia pasti juga kaget sama apa yang dilakuin Melvian. Tapi Juan bukan Melvian. Dia tau harus berdiri di mana"
"Dan dia gak akan ngelakuin hal yang buruk. Apalagi ke kamu"
Redica berbalik tiba-tiba, menatap Hanin dengan mata berair tapi senyumnya getir. Hanin mendongak dan terkejut melihat wajah sedih Redica
"Susah Nin. Please jangan larang gue. Gue masih butuh waktu, setiap kali gue lihat Juan. Gue ingat juga sama lo. Dia baik Nin, baik banget. Gue juga bingung kenapa dia gitu"
"Gue sayang banget sama dia. Cuma gue butuh waktu aja, kalau bisa gue bakal balik"
"Itu kalau Juan mau lagi sama gue. Tadi dia bilang kalau dia kecewa sama sikap gue"
Redica tersenyum tipis, abaikan kedua matanya yang mengabur karena air mata
"Sebelum gue kenal mereka. Gue kenal lo Nin. Gue gak terima lo digituin"
"Tapi kamu juga berhak buat bahagia Re"
"Lo gak ngerti." Redica menggeleng cepat, suaranya bergetar
"Nanti kalau udah waktunya. Gue sendiri yang bakal bilang ke Juan. Sekali lagi kalau dia masih mau sama gue. Gue gak mau punya hubungan dengan perasaan gak enak gini Nin. Udah ya"
